.
Oleh : Cahyadi Takariawan
”When courage dies, creativity dies with it” –Elizabeth Gilbert
.
“Bagaimana cara menulis judul tulisan dan sub judul yang benar menurut PUEBI?”
“Apakah tulisan saya ini sudah benar menurut kaidah kebahasaan?”
“Benarkah kata hubung tidak boleh digunakan di awal kalimat? Bagaimana aturan yang benar?”
“Apakah kita harus selalu menggunakan kata baku sesuai KBBI dalam tulisan?”
Semua pertanyaan di atas, adalah wujud keterjebakan dalam bingkai “peraturan” atau “kebakuan”. Seakan menulis harus selalu benar sesuai ketentuan PUEBI, TBBBI dan KBBI. Tak ada ruang untuk berkreasi dan berimajinasi. Karya tulis ibarat ruang-ruang dan kotak-kotak yang kaku, yang tak ada nilai estetika di dalamnya.
“We’re scared somebody will ridicule our writing and bring it down in some way” – Blake Powell, 2017.
Untuk Apa dan Untuk Siapa Tulisan Anda?
Pertanyaan pentingnya adalah, untuk apa dan untuk siapa tulisan Anda buat? Jawaban atas pertanyaan ini sangat menetukan, corak tulisan yang akan Anda hasilkan.
“We’re afraid we’ll never be good enough, so we never truly try. Or even worse, we keep our work buried inside of us for nobody else to see. That way is safer, but it’s much more lethal to our creativity” – Blake Powell, 2017.
Saya ajak Anda melihat 3 (tiga) saja, jenis-jenis tulisan –dari sangat banyak jenis yang ada. Pertama, tulisan untuk katarsis, atau untuk pelepasan ruminasi, atau untuk penyembuhan diri. Jenis pertama ini, tulisan dibuat dan ditujukan untuk diri sendiri. Tidak untuk dipublikasikan.
Karena tulisan untuk diri sendiri, maka coraknya adalah free writing. Menulis bebas, mengalir, sesuka hati. Tak ada kaidah, tak ada aturan. Semua bisa dituliskan. Jangan tanya PUEBI atau KBBI. Tulis saja sesuka hati.
Kedua, tulisan kreatif atau tulisan populer untuk konsumsi publik. Jenis kedua ini bercorak luwes, tidak formal dan tidak normatif. Secara umum, perlu merujuk kepada PUEBI, KBBI dan TBBBI, namun tetap ada pengecualian. Misalnya, boleh menggunakan kata-kata tidak baku, kata-kata gaul yang tidak ada dalam KBBI, atau istilah-istilah yang ada dalam pergaulan namun tidak ada dalam kamus kebahasaan.
Contohnya adalah cerpen, puisi dan novel dalam rumpun fiksi. Dalam rumpun nonfiksi contohnya adalah artikel / opini / feature / esai untuk koran dan majalah, atau untuk postingan di blog / web dan media sosial. Bahasa dan istilah yang digunakan, cenderung luwes dan tidak terikat secara mutlak dengan aturan baku.
Prinsipnya adalah, menulis dengan ketajaman emosi. Gunakan hati, rasakan kehadiran diri Anda dalam setiap kata dan kalimat yang Anda tuliskan. Hingga Anda mampu mencurahkan ide disertai sentuhan emosi yang mendalam. Pesan bisa masuk secara kuat kepada pembaca.
“It’s time to stop being scared. It’s time to put the fear that’s stopping you from writing to bed” – Blake Powell, 2017.
Ketiga, tulisan untuk kepentingan akademik atau kedinasan. Jenis ketiga ini bercorak formal, kaku dan normatif. Prinsipnya adalah, menulis sesuai ketentuan yang telah digariskan.
Misalnya, jika Anda membuat karya tulis berbentuk skripsi, tesis dan disertasi untuk syarat kelulusan kuliah S1, S2 atau S3, maka Anda wajib mengikuti semua ketentuan yang telah ditetapkan lembaga pendidikan. Anda harus menggunakan kosa kata baku, dan menulis kalimat sesuai ketentuan PUEBI.
Demikian pula jika Anda menulis untuk syarat kenaikan pangkat dan jabatan, Anda harus menulis sesuai dengan ketentuan yang telah digariskan institusi tempat Anda mengabdi. Sama halnya jika Anda menulis untuk dipublikasikan melalui jurnal ilmiah / jurnal akademik, maka semua persyaratan akademik harus Anda penuhi.
Anda tidak boleh sembarangan menggunakan kata dan menyusun kalimat. Semua harus Anda sesuaikan dengan peraturan lembaga / institusi. Inilah jenis tulisan yang sering saya sebut sebagai ilmiah murni. Sangat berbeda dengan jenis tulisan ilmiah populer, apalagi jenis tulisan katarsis.
Bagaimana Menulis dengan Baik dan Benar?
“What are the root causes of your fear? What is it grounded in? If you can figure that out, it’ll make it much easier to write on a daily basis” – Blake Powell, 2017.
Menulis yang baik, berarti menggunakan bahasa Indonesia secara baik –yaitu menggunakan bahasa Indonesia sesuai dengan konteksnya. Sedangkan menulis yang benar, berarti menggunakan bahasa Indonesia secara benar –yaitu menggunakan bahasa Indonesia sesuai dengan kaidahnya.
Kaidah menggunakan bahasa Indonesia yang benar, diatur antara lain dalam Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI), Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia (TBBBI), juga menggunakan kosa kata baku sesuai standar Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI).
Sebagai penulis, mungkin saja Anda tidak menguasai PUEBI, TBBBI maupun KBBI. Saya juga tidak menguasai tiga pedoman ini. Namun kita tetap perlu berusaha mengerti dan menggunakan ketiganya sesuai konteks karya tulis yang kita buat. Untuk apa, dan untuk siapa tulisan kita buat? Ini yang sangat menentukan proporsi penggunaannya.
Singkirkan Ketakutan, Bikin Happy Saja
“The truth is, the secret to being a good writer is writing scared” – Blake Powell, 2017.
Rasa takut salah, takut tidak sesuai PUEBI, KBBI dan TBBBI, menyebabkan banyak orang tidak menulis. Takut telah mematikan kreativitas menulis. Maka Anda harus menyingkirkan rasa takut tersebut.
Di antara hal yang bisa membuat hilangnya rasa takut pada diri Anda, adalah hal-hal berikut ini.
- Kesalahan dalam aspek pedoman kebahasaan saat menulis, bisa dibenarkan dan disesuaikan saat mengedit. Tapi kalau Anda tidak menulis, maka tidak ada bahan untuk dibenarkan atau dikoreksi.
- Anda harus lebih peduli terhadap isi / substansi dari tulisan. Koreksi berulang kali agar tidak ada kesalahan isi / substansi. Tanggung jawab Anda sebagai penulis adalah melakukan pemeriksaan terhadap isi / substansi pesan.
- Berbeda dengan kesalahan dokter saat bedah jantung atau bedah kepala, kesalahan dalam tata bahasa tidak sampai derajat membahayakan jiwa manusia. Maka jangan berlebihan dalam ketakutan terkait tata bahasa.
- Kita tidak harus menguasai –hafal di luar kepala—semua isi PUEBI, KBBI dan TBBBI. Cukup ketahui sesuai kadar keperluan kita. Selebihnya, bisa akses PUEBI Daring dan KBBI Daring untuk hal-hal yang tidak kita ketahui. Untuk TBBBI tersedia dalam format PDF, bisa Anda download.
- Ketika Anda akan menerbitkan tulisan dalam bentuk buku, pastikan naskah Anda serahkan kepada penerbit yang menyediakan layanan editor profesional. Tugas editor adalah untuk menyesuaikan naskah Anda sesuai PUEBI, KBBI dan TBBBI.
Blake Powell (2017) menyatakan tentang ketakutan banyak penulis. “Kita khawatir bahwa karya kita tidak akan pernah baik, maka kita tidak pernah benar-benar mencoba. Atau lebih buruk lagi, kita mengubur aktivitas menulis agar tidak dilihat orang lain. Cara itu mungkin aman, tetapi jauh lebih mematikan kreativitas kita”, ujarnya.
Powell menyarankan agar kita menganalisa akar penyebab ketakutan tersebut. Apa yang mendasari ketakutan Anda? Jika Anda bisa mengetahuinya, akan lebih mudah untuk mengatasi ketakutan tersebut, sehingga Anda akan lancar menulis setiap hari.
“Because the only way to conquer your fear is to continually move towards it” – Blake Powell, 2017.
Bahkan Powell menambahkan, “rahasia menjadi penulis yang baik adalah menulis ketakutan itu sendiri”. Intinya, jangan biarkan ketakutan menguasai diri Anda. Ini membuat Anda berhenti menulis. Membuat daya kreasi Anda menipis.
Teruslah menulis. Jika salah, bisa diedit dan dibenarkan. Jika Anda tidak menulis, tak ada bahan yang bisa Anda edit dan Anda benarkan.
Bahan Bacaan
Blake Powell, How to Be Unstoppable and Write Every Day, 26 Mei 2017, https://writingcooperative.com/
.
Ilustrasi : https://medium.com/