SAAT ANAK INGIN AYAHNYA MULIA DI SURGA

SAAT ANAK INGIN AYAHNYA MULIA DI SURGA

Oleh : Cahyadi Takariawan

 

Ini kisah tentang Umar, anak lelaki berumur 10 tahun, ayahnya adalah pengusaha sukses yang kaya raya. Ia dimasukkan SD Internasional paling bergengsi di Jakarta yang biayanya sangat mahal. Ia berharap sang anak kelak menjadi orang sukses mengikuti jejak kariernya.

Suatu ketika, sekolah menggelar acara “Father’s Day” yang mengundang para ayah. Awalnya ayah Umar enggan berangkat karena sangat sibuk. Atas desakan sang istri, akhirnya ia berangkat.

Father’s Day di sekolah Umar dikemas spesial untuk para ayah, dimana anak-anak saling menunjukkan kemampuan di depan ayah mereka. Tentu saja para ayah sangat antusias dengan acara ini, karena ingin menyaksikan anak mereka tampil di panggung. Namun tidak demikian dengan ayah Umar. Karena sebenarnya ia enggan hadir, maka memilih duduk di kursi paling belakang dengan penuh keterpaksaan.

Acara dimulai. Satu persatu anak mulai menampilkan kehebatannya di atas panggung. Ada yang bernyanyi, menari, membaca puisi, bermain pantomim, memamerkan kemampuan melukis, dan lain sebagainya. Semua mendapat applause meriah dari para ayah. Hingga tiba giliran Umar untuk menampilkan kebolehannya.

“Bu Guru, bolehkah saya mengundang pak Arief untuk ikut ke panggung?” tanya Umar kepada guru kelasnya. Pak Arief adalah guru mengaji untuk kegiatan ekstra kurikuler di sekolah itu.

”Tentu saja boleh, Umar…” jawab Ibu Guru.

Pak Arief pun diundang ke panggung.

“Pak Arief, bolehkah bapak membuka Al Qur’an Surat ke 78 ?” tanya Umar setelah Pak Arief berada di panggung.

”Baiklah Nak,” jawab pak Arief.

“Tolong bapak simak, saya akan melantunkan surat itu, apakah ada yang salah…” Umar mulai melantunkan Surat An-Naba’ tanpa membaca, seperti sedang menyetorkan hafalan. Irama lantunan tilawah yang digunakan Umar persis seperti bacaan Syaikh Sudais, Imam Besar Masjidil Haram. Sangat indah dan merdu.

Semua hadirin diam terpaku mendengarkan bacaan Umar yang khusyuk dan mendayu. Termasuk ayah Umar yang duduk di belakang.

”Cukup Umar, kamu telah membaca ayat 1 sampai 5 dengan sempurna. Sekarang lanjutkan ayat ke 9,” kata pak Arief.

Umar pun membaca ayat 9 dengan tartil dan bacaan yang indah. ”Cukup, sekarang lanjutkan ayat 21, lalu ayat 33.” Umar pun membaca sesuai perintah pak Arief dengan suara yang indah.

“Sekarang baca ayat 40”. Umar pun membaca ayat terakhir dari surat An Naba’. Suara lantunan ayatnya sungguh indah.

“Subhanallah, kamu telah menghafal Surat An-Naba’ dengan sempurna Nak,” demikian ucap pak Arief terharu. Para hadirin yang beragama Islam pun bertepuk tangan meriah disertai perasaan haru.

”Kenapa kamu memilih menghafal Al-Qur’an dan membacakannya di acara ini Umar, sementara teman-temanmu unjuk kebolehan yang bermacam-macam?” tanya pak Arief penasaran.

“Pak Arief, dulu waktu saya malas mengikuti pelajaran membaca Al Qur’an, bapak menegur saya sambil menyampaikan sabda Rasulullah SAW, bahwa siapa yang membaca Al Qur’an, mempelajarinya, dan mengamalkannya, maka dipakaikan mahkota dari cahaya pada hari kiamat. Cahayanya seperti cahaya matahari dan kedua orangtuanya dipakaikan dua jubah kemuliaan yang tidak pernah didapatkan di dunia. Ketika kedua orangtua itu bertanya, mengapa kami dipakaikan jubah ini? Dijawab oleh Allah, karena kalian berdua memerintahkan anak kalian untuk mempelajari Al Qur’an”.

“Pak Arief, saya sangat ingin mempersembahkan jubah kemuliaan itu kepada ibu dan ayah saya di hadapan Allah di akherat kelak, sebagai bakti kepada mereka”, demikian jawab Umar. Semua hadirin terharu dan tidak bisa membendung air mata mendengar tekad anak berumur 10 tahun tersebut.

Di tengah suasana hening, tiba-tiba terdengar teriakan “Allahu Akbar!” Seorang lelaki berlari dari arah belakang menuju panggung. Ternyata dia adalah ayah Umar, yang dengan tergopoh-gopoh menubruk anak lelakinya, bersimpuh sambil memeluk kaki anaknya.

”Ampuun Nak, maafkan ayah yang selama ini tidak pernah memperhatikanmu, tidak pernah mendidikmu dengan ilmu agama, tidak pernah mengajarimu mengaji Al Qur’an”, ucap sang ayah sambil menangis di kaki anaknya.

”Ayah ingin agar kamu sukses di dunia Nak, ternyata kamu justru memikirkan kemuliaan ayah di akherat kelak. Sungguh Ayah sangat malu Nak!” ujar ayah sambil menangis tersedu-sedu.

Kisah yang dilansir di web www.aryginanjar.com ini diangkat dari kisah nyata. Saya —Cahyadi Takariawan— menuliskan ulang dengan sedikit editing tata bahasa tanpa mengubah makna.

Tidak mudah menjadi ayah. Mari terus belajar menjadi ayah yang bisa memberikan contoh kebaikan bagi anak-anak. Ikuti SEKOLAH AYAH YOGYAKARTA (SAY) batch 1 tahun 2019.

Kuliah perdana 9 September 2019, selama sepuluh kali pertemuan tatap muka, setiap Senin malam jam 19.00 – 21.00 WIB di Balai Belajar Masyarakat (BBM) Yogyakarta.

Untuk para lelaki lajang, untuk para calon ayah, untuk para ayah, untuk para kakek, mari terus belajar.

Informasi dan pendaftaran : Om Jon, nomor WA 085713446488.

 

 

Cahyadi Takariawan

Cahyadi Takariawan telah menulis lebih dari 50 judul buku yang sebagian besarnya bertema keluarga. Aktivitasnya saat ini selain menulis adalah menjadi narasumber dalam berbagai seminar dan pelatihan di dalam dan luar negeri. Mendirikan Jogja Family Center (JFC) pada tahun 2000 sebagai kontribusi untuk mengokohkan keluarga Indonesia. Kini JFC bermetamorfosis menjadi Wonderful Family Institute. Beliau dapat diakses melalui Instagram @cahyadi_takariawan

Tinggalkan Balasan