Saat Dia Merasakannya

Saat Dia Merasakannya

By. Ida Kusdiati

Sore ini sudah ada rencana pulang lebih cepat dari jadwal, selepas ashar sudah berkemas dan siap meluncur pulang.

Dadakan ada kabar baik dari staf yang baru saja mendapatkan anugrah titipan amanah dan bagian dari sunah dengan rasa syukurnya melaksanakan aqiqah tepat di 7 hari kelahiran anandanya.

“Bu, jika bisa pulang agak awal mohon singgah ke rumah ya… ada sedikit syukuran ananda hari ini aqiqah, kita hanya masak untuk panti asuhan dan keluarga,” ujarnya di telpon siang tadi.

“Masya Allah Tabarakallah… Insya Allah kami upayakan ya, Pak,” jawabku dengan perasaan bahagia.

Entah mengapa setiap mendengar momen kelahiran atau apapun yang terkait dengan cerita ananda meski bukan anak sendiri memori indah kebahagiaan dan rasa syukur selalu hadir dengan sendirinya.

Dan alhamdulillah… kesempatan untuk singgah ke rumah staf dapat dilakukan bersama beberapa staf lainnya.

Bahagianya lagi, suami dan ananda turut menjemput ku disana sehingga aku bisa menunjukkan pada ananda bagaimana rasa bahagianya orang tua saat mereka hadir ke dunia.

Perjalanan pulang dari rumah staf kami mengobrol ringan di jalan bersama ananda, dan berita baik ku dengar dari ayah.
“Ma, Alhamdulillah hari ini Fatur luar biasa latihan soal matematikanya sukses sekali. Ayah tes biasanya penyelesaiannya lama ini lancar jaya dan benar semua,” ujar ayah dengan nada bangga.

“Alhamdulillah… barakallah, Nak. Kok bisa, Bang?” sahutku dengan nada tak kalah bahagia dan memberikan jempolku ke arah bangku belakang tempat dimana dia duduk.

“Iya, Ma…Abang juga kaget setelah pelajaran tahfidz tadi abang langsung kerjakan soal yang ayah berikan dan lancaaaarr gitu, Ma. Seperti terang benderang gitu!” Jawabnya antusias.

“Jadi benar dong, Bang, nasehat Mama kemarin kalau suntuk dan mentok baca Al-qur’an… Insya Allah dimudahkan,” sahutku cepat untuk menangkap perasaannya.

“Iya, Ma… berasa banget. Insya Allah, Ma…nanti Abang mau lebih giatkan lagi cara ini. Jujur … Mama dan Ayah bangga kan sama Fatur… ya kan ngaku dong!” ujarnya sambil senyum-senyum sendiri minta pengakuan.

Anak satu ini sangat ekspresif jika terkait perasaan. Maka kami juga mesti demikian untuk mengimbanginya.
“Ya iyalah… apalagi kalau hafalannya makin banyak dan sukses semua mata pelajarannya,” jawab Ayah dengan sungguh-sungguh.

“Alhamdulillah… yang penting Abang sudah bisa memahami maksud Mama mengapa sangat ingin Abang mendahulukan Al-qur’an dari yang lainnya. Insya Allah Mama bangga, Bang. Semoga makin soleh kedepannya,” ujarku menguatkan semangatnya.

Aamiin…semobil mengaminkan perkataanku terakhir. Aku tersenyum dan bergumam dalam hati, “sungguh mudah bagi Allah menunjukan hikmah dari kebesaran Nya jika dia telah memilih. Tugasku mendo’akan kelembutan hati ananda agar hidayah Nya selalu hadir senantiasa.”

Dibalik semua keterbasan dan tantangan yang ada kami senantiasa berikhtiar untuk ananda semua dekat dengan Al-qur’an.

Dari Usman bin Affan r.a. ia berkata, Rasullah Saw. bersabda: “orang terbaik dari kamu ialah orang yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya”. (HR al-Bukhari).

 

Wallahu’alam
Pontianak, 2 November 2020

ruangkeluarga

Tinggalkan Balasan