SAMBUNGAN KEPADA ALLAH, AGAR TIDAK LALAI

SAMBUNGAN KEPADA ALLAH, AGAR TIDAK LALAI

Kuliah Ramadhan Hari Kelima

Oleh : Cahyadi Takariawan

 

 

Shalat lima waktu adalah sambungan yang sangat efektif antara  hamba dengan Allah Ta’ala. Penentuan lima waktu, dari Subuh, Dhuhur, Asar, Maghrib dan Isya’, adalah ritme yang sangat tepat untuk membuat manusia selalui mengingat kewajibannya, yaitu untuk beribadah.

Manusia memiliki watak lalai. Jika shalat dilakukan hanya seminggu sekali misalnya, maka betapa mudah manusia melalaikan Allah. “Bertemu Allah” dalam shalat hanya sepekan sekali, akan membuat manusia mudah terlarut dalam orientasi duniawi, terjauhkan dari orientasi Rabbani. Sedangkan kita shalat sehari lima kali saja, masih mudah lalai dan abai terhadap perintah Allah. Maka shalat lima waktu adalah pengingat yang efektif, sambungan yang nyata, antara hamba dengan Tuhannya. Apalagi jika ditambah dengan shalat-shalat Sunnah. Akan semakin “nyambung” dengan Allah.

Ibnul Qayyim rahimahullah dalam kitab Asrarush Shalah menjelaskan, “Dalam shalat lima waktu, diantara dua shalat, pada diri seorang hamba (bisa saja) terjadi kelalaian, kegersangan, kekerasan dan keberpalingan hati, ketergelinciran serta kesalahan-kesalahan, hingga (hal ini) menjauhkan hatinya dari Rabb nya, menyingkirkan dari kedekatan dengan-Nya, (lalu) jadilah sebuah hati yang terasing dari peribadatan kepada-Nya”.

Agar tidak berlama dalam kelalaian, manusia segera berdiri menghadap Rabb-nya untuk shalat. Saat tergoda melakukan kejahatan, datanglah waktu shalat, sehingga mencegah perbuatan jahat, karena ingat kepada Allah. Ibnu Qayyim rahimahullah menjelaskan:

و العبد كان في حال غفلته كالآبق من ربه ،و قد عطّل جوارحه و قلبه عن الخدمة التي خُلق لها ،فإذا جاء إليه فقد رجع من إباقه ، فإذا وقف بين يديه موقف العبودية و التذلل و الانكسار ، فقد استدعى عطف سيِّده عليه ، و إقباله عليه بعد الإعراض .

“Seorang hamba ketika dalam keadaan lalai seperti orang yang lari dari Tuhannya. Ia telah menghentikan anggota tubuh dan hati dari berberibadah yang itu merupakan tujuan penciptaannya. Jika ia telah kembali kepada Allah, maka berarti ia telah kembali dari pelariannya”.

“Lalu jika ia telah berdiri dalam keadaan menunaikan peribadatan , merendahkan diri dan merasa tak berdaya di hadapan-Nya, berarti ia telah mengundang datangnya kasih sayang Rabb kepadanya dan berarti pula ia telah menghadap kepada-Nya setelah berpaling (dari-Nya)”.

Shalat adalah kenikmatan yang luar biasa besarnya, karena membuat kita selalu “nyambung” dengan Allah Ta’ala. Betapa nikmat hidup dalam ketersambungan dengan Allah, lebih nikmat dari semua kesenangan duniawi. Shalat adalah puncak kenikmatan yang sangat menggembirakan hati orang beriman.

Ibnul Qayyim rahimahullah dalam kitab Dzauqush Shalah menjelaskan, “Tidak dapat diragukan bahwa shalat merupakan perkara yang sangat menggembirakan hati bagi orang-orang yang mencintainya dan merupakan kenikmatan ruh bagi orang-orang yang mengesakan Allah, puncak keadaaan orang-orang yang jujur dan parameter keadaan orang-orang yang meniti jalan menuju kepada Allah”.

“Shalat merupakan rahmat Allah yang dianugerahkan kepada hamba-Nya, Allah memberi petunjuk kepada mereka untuk bisa melaksanakannya dan memperkenalkannya sebagai rahmat bagi mereka dan kehormatan bagi mereka, supaya dengan shalat tersebut mereka memperoleh kemulian dari-Nya dan keberuntungan karena dekat dengan-Nya”.

Selanjutnya, Ibnul Qayyim rahimahullah dalam kitab Dzauqush Shalah menyatakan, bahwa shalat adalah hidangan Allah yang sangat lezat bagi hamba yang beriman. “Allah mengundang hamba tersebut untuk menghadiri jamuan hidangan (shalat) itu dalam sehari lima kali”.

“Allah menjadikan setiap macam dari hidangan (shalat) suatu kelezatan, manfaat dan kemaslahatan bagi hamba yang diundang untuk menyantap hidangan tersebut, yang tidak didapatkan dalam macam hidangan  yang lain (dalam shalat yang lainnya) agar menjadi sempurna kelezatan yang dirasakan oleh hamba itu dalam setiap macam peribadatan”.

“Allah juga hendak memuliakannya dengan segala jenis kemuliaan, sehingga setiap perbuatan ubudiyyah  peribadatan) itu menghapus hal yang tercela dan hal yang Dia benci, dan agar Allah mengganjarnya dengan cahaya yang khusus, kekuatan dalam hati dan anggota tubuhnya serta pahala yang khusus pada hari perjumpaan dengan-Nya”.

Demikianlah kita mendapat hidangan yang lezat berupa shalat lima waktu, yang dengan itu kita akan mendapatkan sambungan terus menerus dengan Allah. Hati, pikiran, badan dan jiwa kita akan selalu nyambung dengan Allah, melalui shalat. Jika sudah merasakan demikian, kita akan mendapatkan manfaat shalat:

“Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar” (QS. Al ‘Ankabut : 45).

Selamat menikmati hidangan Allah dan sambungan dengan Allah berupa shalat lima waktu. Jangan lupa, perbanyak pula sedekah, mumpung ketemu bulan penuh berkah.

Cahyadi Takariawan

Cahyadi Takariawan telah menulis lebih dari 50 judul buku yang sebagian besarnya bertema keluarga. Aktivitasnya saat ini selain menulis adalah menjadi narasumber dalam berbagai seminar dan pelatihan di dalam dan luar negeri. Mendirikan Jogja Family Center (JFC) pada tahun 2000 sebagai kontribusi untuk mengokohkan keluarga Indonesia. Kini JFC bermetamorfosis menjadi Wonderful Family Institute. Beliau dapat diakses melalui Instagram @cahyadi_takariawan

Tinggalkan Balasan