SENTUH HATINYA DENGAN PUJIAN

SENTUH HATINYA DENGAN PUJIAN

SENTUH HATINYA DENGAN PUJIAN

Oleh : Ummu Rochimah

Lisan merupakan salah satu nikmat yang Allah berikan kepada manusia.  Dengan lisan manusia dapat menyampaikan pesan-pesannya kepada orang lain secara jelas dan terstruktur, dengan lisan manusia dapat meraih ketakwaan di sisi Allah. Namun dengan lisan pula manusia dapat menyakiti atau menghancurkan orang lain, bila lisannya berisi ucapan-ucapan buruk, dan lisan pula akan dapat mengantarkan manusia kepada neraka.

Dari Abu Hurairah ra. bahwasanya ia mendengar Rosululloh Muhammad saw bersabda: “Sesungguhnya seseorang hamba itu niscayalah berbicara dengan suatu perkataan yang tidak ia fikirkan – baik atau buruknya -, maka dengan sebab perkataannya itu ia dapat tergelincir ke neraka yang jaraknya lebih jauh daripada jarak antara sudut timur dan sudut barat” (Muttafaq ‘alaih)

Lisan itu seperti dua mata pedang, ia dapat memberi kebaikan kepada orang lain bila kata-kata yang keluar dari nya adalah suatu kebaikan. Namun ia juga dapat melahirkan bahaya besar apabila kata-kata yang diucapkan adalah perkara yang bathil. Maka manusia wajib menjaga dan mengendalikannya. Karena, jika tidak terkendali dia akan menjadi ‘alat pembunuh’ yang berbahaya akibat apa yang keluar darinya. dipuji

 

Makna Pujian

Pada dasarnya setiap orang itu senang dipuji, karena pujian itu adalah suatu bentuk pernyataan positif tentang seseorang dan bentuk pengakuan tentang keberadaan seseorang, pujian juga akan melahirkan rasa percaya diri pada orang yang dipuji. Seorang anak yang tidak pernah mendapat pujian dari orang lain terutama dari orang tuanya akan tumbuh menjadi pribadi yang sulit mengungkapkan perasaannya atau akan sulit dia untuk memuji dan menghargai orang lain, bahkan terkadang ia menjadi bingung untuk merespon suatu pujian.

Seperti contoh Mike Tyson dalam suatu acara talkshow yang dipandu pembawa acara kenamaan, Oprah WInfrey pada beberapa tahun yang lalu. Tyson tampil berbeda dari Tyson sebelumnya, dia menyesali perbuatan masa lalunya yang penuh kekerasan dan perbuatan pelecehan seksualnya dulu. Dalam acara tersebut banyak yang memberikan pujian, simpati dan respek atas sikapnya saat ini. Tyson yang tak pernah menerima pujian sejak kecil tampak bingung.

Tatkala pembawa acara Oprah bertanya,“Banyak yang simpati padamu, bagaimana perasaanmu?” Berkali-kali Tyson menggelengkan kepalanya dan berkata,“I don’t know…” Lalu ia terdiam, menunduk, menggeleng lagi, karena benar-benar tak mengerti cara merespon pujian. “Aku tak tahu… Bukan begitu caraku dibesarkan, semua serba keras, berkelahi, bekerja keras…” Ia kebingungan sampai Oprah menenangkan dengan menggenggam tangannya.

Dalam Islam pun Rasulullah saw terkadang memberikan pujian kepada para sahabatnya, contohnya pujian terhadap Abu Bakar ash Shiddiq, “Wahai Abu Bakar, jangan menangis, sesungguhnya orang terbaik terhadapku dalam persahabatan dan hartanya adalah Abu Bakar, kalau seandainya aku mengambil khalil (sahabat kesayangan) dari umatku, niscaya aku akan menjadikan Abu Bakar sebagai khalilku.” (Hadits shahih riwayat Bukhari) Atau pujian tentang Umar bin Khattab r.a, “Jika syaithan berpapasan denganmu pada suatu jalan, niscaya dia akan mencari jalan lain yang engkau lalui.”  (hadits shahih riwayat Muslim)

 

Pujian Rasa Istimewa

Banyak di antara pasangan suami istri tidak merasa perlu untuk memberikan pujian kepada pasangannya dengan berbagai macam alasan, misalnya ‘ahh seperti orang baru pacaran saja pake memuji’ atau ‘tidak dipuji juga dia tetap cinta pada saya’ dan lain-lain.

Dampak yang dari suatu pujian kepada orang lain adalah menumbuhkan rasa percaya diri, merasa menjadi orang yang berarti, menumbuhkan sikap simpati dalam diri, maka sudah sepatutnya pasangan suami istri harus sering memberi pujian kepada pasangannya, karena pasangan hidup adalah seseorang yang akan menghabiskan sebagian besar hidup bersama dirinya.

Misalnya seorang suami yang memuji masakan istrinya, walaupun mungkin dari segi citarasa belum sekelas masakan warung padang, tapi pujian itu sebagai bentuk apresiasi terhadap kesungguhan sang istri menyiapkan makanan untuknya. “Masakan mama paling enak sedunia.”  Sambil wajah tersenyum lebar. Mungkin hal ini terkesan berlebihan, tapi yakinlah seorang istri akan sangat bahagia mendengar pujian dari sang suami.

Begitupun sebaliknya, seorang istri jangan sungkan atau merasa tidak perlu memuji suami manakala ia membantu membereskan rumah yang berantakan karena keaktifan sang anak dalam mengeksplorasi rumahnya, karena menganggap hal itu menjadi bagian dari kewajiban suami juga. “Waahh… abi hebat!, ruang tamu ini jadi wangi lagi” Sambil tersenyum bahagia sambil mengendus-ngenduskan hidung seolah mencecap aroma yang wangi dan memeluk suami dengan erat.

Hal-hal seperti ini harus sering dilakukan oleh pasangan suami istri karena ungkapan-ungkapan berupa pujian kepada pasangan akan melahirkan getar-getar halus dalam hati masing-masing dan itu akan memperkuat rasa cinta dan sayang di antara keduanya. Ada perasaan bangga menjadi seorang yang berarti bagi seseorang yang dicintainya.

Berikan pujian-pujian dengan bahasa yang istimewa, mungkin terkesan gombal atau lebay. Misalnya “Kamu manis deh, gula saja kalah manis.” Terlihat sangat gombal, lebay, berlebihan. Tapi ternyata cara-cara seperti ini dapat bekerja untuk menggetarkan serat-serat cinta yang ada dalam hati orang yang mencintainya. Jangan pelit untuk memberikan pujian kepada pasangan. Memuji hanya jika ada perlunya. Semakin sedikit pujian yang diberikan kepada pasangan akan memberi dampak semakin sedikit getaran cinta dalam hatinya, bahkan lama-lama bisa menghilang. Bila kepada orang lain saja mudah memberikan pujian, maka seharusnya akan semakin mudah dan sering mengungkapkan pujian kepada orang yang dicintai dan mencintaimu.

Untuk mereka yang belum terbiasa memuji pasangan, mulai saat ini cobalah! Buang jauh-jauh rasa jaim di hadapan pasangan, semakin sering mencoba akan semakin mudah untuk memberi pujian pada pasangan tercinta.

Ummu Rochimah

Tinggalkan Balasan