
@ummurochimah
إِذَا جَاءَ رَمَضَانُ فُتِّحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ، وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ، وَصُفِّدَتِ الشَّيَاطِينُ
“Jika bulan Ramadhan datang, maka pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, dan setan-setan dibelenggu.” (H.R. Muslim)
Ketika memasuki bulan ramadan, banyak ustadz atau penceramah mengutip hadits ini. Jika membaca arti hadits di atas, dikatakan bahwa setan-setan dibelenggu selama bulan ramadan. Lalu mengapa masih ada perbuatan-perbuatan maksiat di bulan ramadan? Begitulah pertanyaan yang melintas dalam pikiran banyak kaum muslimin. Apakah hadits itu hanya berlaku pada masa Rasulullah dan tidak relevan lagi di masa sekarang? Atau bagaimana memaknai hadits tersebut?
Hal pertama yang harus kita kedepankan ketika ‘kita merasa’ ada yang janggal dari sebuah ayat Quran atau hadits adalah yakinkan diri bahwa al Quran itu benar, Rasulullah itu benar!
Hadits di atas termasuk dalam kategori hadits shahih karena diriwayatkan oleh Imam Muslim. Lalu di mana masalahnya?
Masalahnya ada pada diri kita sendiri, akal kita yang belum sampai ke sana, ilmu dan pemahaman kita yang terbatas.
Terkait hadits di atas, ada beberapa pendekatan yang disampaikan ulama dalam memahami hadits ini.
Pertama, bahwa sumber maksiat itu tidak hanya berasal dari setan, ada hawa nafsu manusia yang ikut berperan dalam kemaksiatan.
Seperti disampaikan oleh Imam As Sindi dalam catatan beliau untuk sunan an Nasai, beliau mengatakan; hadis ‘setan dibelenggu’ tidak berarti meniadakan segala bentuk maksiat. Karena bisa saja maksiat itu muncul disebabkan pengaruh jiwa yang buruk dan jahat. Dan timbulnya maksiat, tidak selalu berasal dari setan. Jika semua berasal dari setan, berarti ada setan yang mengganggu setan (setannya setan), dan seterusnya bersambung. Sementara kita tahu, tidak ada setan yang mendahului maksiat Iblis. Sehingga maksiat Iblis murni dari dirinya.
Kedua, menurut Imam al Baji -ulama Malikiyah, bahwa setan dibelenggu tapi dia masih bisa mengganggu, hanya saja tidak sebebas dan seleluasa saat di dilepas. Tidak semua bagian tubuhnya diikat, makhluk yang diikat tangan dan kakinya saja, boleh jadi masih bisa menggunakan lidahnya untuk menghasut.
Ketiga, setan dibelenggu bermakna kiasan, bukan makna hakiki. Dengan keberkahan bulan ramadan yang penuh dengan ampunan, pahala dan rahmat Allah, membuat banyak manusia melakukan kebaikan-kebaikan yang boleh jadi tidak pernah dilakukan pada bulan-bulan lain. Kondisi ini membuat setan seolah-oleh merasa terbelenggu. Setan merasa upaya-upayanya mengganggu dan menggoda manusia untuk bermaksiat tidak berefek dan menghasilkan follower, ngga bisa fyp kalau istilah medsos.
Begitulah pendapat beberapa ulama dalam memahami hadits ini. Hal yang lebih penting bagi kita adalah berusaha seoptimal daya kekuatan kita untuk menghindari maksiat selama bulan ramadan agar puasa kita menjadi lebih berkualitas dan bisa mengantarkan kita kepada cita-cita menjadi manusia bertakwa.
Wallahu ‘alam
Jakarta, 1 Ramadan 1445 H