SISI TARBAWI DALAM PROSES PENJAGAAN SUARA PEMILU DAN PILPRES

SISI TARBAWI DALAM PROSES PENJAGAAN SUARA PEMILU DAN PILPRES

Oleh : Cahyadi Takariawan

 

 

 

Saat menemani para saksi dan penanggung jawab tabulasi data suara Pemilu serta Pilpres 2019 di Posko Pemenangan PKS dan Prabowo – Sandi di kecamatan Banguntapan, Bantul, DIY, saya mendapatkan sangat banyak pelajaran. Ya, benar, sangat banyak pelajaran. Sebuah tarbiyah maidaniyah, tarbiyah Rabbaniyah, tarbiyah mutakamilah yang membuat kita semua mendapatkan nilai tarbawi sangat tinggi.

Semenjak hari Selasa 16 April 2019, mereka telah berkumpul untuk menata tempat dan berbagi tugas. Ada berbagai keperluan administrasi yang harus dipersiapkan dan didistribusikan, seperti surat mandat sebagai saksi, form tabulasi, dan lain-lain. Ada manajemen yang harus dirapikan, seperti pembagian tugas di TPS, alur pelaporan, dan lain sebagainya.

Lebih dari 100 relawan telah disiapkan oleh DPC PKS Banguntapan untuk melakukan berbagai aktivitas sejak dari mengkoordinasikan saksi, mengurus logistik saksi, tabulasi data, pengamanan, advokasi, humas, dan lain sebagainya. Sedangkan jumlah saksi, sesuai dengan jumlah TPS se Kecamatan Banguntapan, yaitu 318 orang.

Usai pencoblosan tanggal 17 April 2019, para relawan langsung bertugas sesuai job masing-masing. Mereka yang bertugas administratif, berkumpul di Posko Pemenangan semenjak Duhur. Saya menyaksikan aktivitas yang sangat padat. Saya menyaksikan semua orang sibuk dengan tugas masing-masing.

Para ibu bertugas mengirim ransum makan siang dan makan malam untuk para saksi di setiap TPS yang tengah bertugas. Saya menyaksikan betapa sigap dan cermat semua pekerjaan itu dilakukan oleh emak-emak yang super-militan. Saya tahu sebagian mereka memiliki anak yang masih bayi. Saya tahu sebagian mereka telah memiliki cucu.

Relawan dari kalangan mahasiswa telah pula hadir membawa laptop masing-masing untuk proses tabulasi data. Teman-teman Kepanduan PKS selalu siap siaga mengamankan semua proses yang sedang berlangsung agar tidak ada gangguan. Semua bekerja dengan penuh kesungguhan dan ketulusan.

Bahkan keterlibatan para senior —subhanallah… Ini yang membuat hati saya meleleh menyaksikannya. Bukan hanya para senior dakwah, namun juga mereka yang baru bergabung dalam dakwah, namun telah berusia cukup tua. Kepala enam. Mereka hadir dan aktif melakukan pendataan.

Semakin malam, semakin banyak hal harus dikerjakan. Para saksi yang telah menyelesaikan tugasnya berdatangan menyerahkan berita acara dan form C1 yang akan sangat menentukan proses penghitungan. Malam itu, para petugas tidak tidur sampai pagi. Menjelang Subuh, semakin banyak saksi yang baru hadir karena baru berhasil menyelesaikan proses penghitungan di TPS.

Atas izin Allah, para relawan berhasil menyelesaikan proses tabulasi data dengan baik, dan siap mengawal pada proses penghitungan di tingkat Kecamatan. Berikutnya, akan disambung dengan tim relawan lainnya yang akan mengawal suara di tingkat kabupaten dan seterusnya sampai penetapan final oleh KPU. Sungguh jihad siyasi yang mengandung sangat banyak arti.

Sisi Tarbiyah dari Penjagaan Suara Pemilu

Mengawal suara rakyat, bukan semata-mata proses dan peristiwa politik. Menjaga suara rakyat sejak dari TPS hingga penetapan final di KPU, memiliki sangat banyak makna tarbiyah bagi para kader dakwah. Berikut beberapa makna tarbiyah dalam proses pengawalan suara rakyat.

  1. Mentarbiyah Diri untuk Selalu Berlaku Adil

Ustadz Cholid Mahmud menjelaskan, “Menjadi saksi Pemilu Legislatif maupun Pemilu Presiden, bukanlah untuk memenangkan partai atau calon. Namun untuk menegakkan keadilan”. Ini adalah tarbiyah yang luar biasa dahsyatnya. Proses Pemilu dan Pilpres tentu yang kita inginkan adalah kemenangan. Untuk itulah kita bekerja berungguh-sungguh memenangkan partai dakwah, sejak dari sosialisasi, falshmob kreatif, direct selling, dan lain sebagainya.

Namun tatkala menjaga dan mengawal suara, yang harus dilakukan oleh para saksi dan petugas tabulasi data, adalah menegakkan keadilan. Bukan memenangkan partai atau calon. Karena jika tujuannya memenangkan partai atau calon, maka yang akan terjadi adalah mengupayakan agar proses penghitungan memenangkan partainya atau calon yang didukungnya. Ketika ada kerugian atau kecurangan yang terjadi pada partai atau calon lain, akan dibiarkan tanpa pembelaan. Hal seperti ini berarti bukan menegakkan keadilan.

Allah Ta’ala telah berfirman :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ لِلَّهِ شُهَدَاءَ بِالْقِسْطِ وَلا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَى أَلا تَعْدِلُوا اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَى وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu menjadi orang-orang yang selalu menegakkan kebenaran karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum membuatmu tidak berlaku adil. Berbuat adillah karena ia lebih mendekati ketakwaan. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”. (QS. Al Maa’idah: 8)

Syaikh Abu Bakar Al Jaza’iri hafizhahullah menjelaskan, “Artinya, Allah memerintahkan untuk menegakkan keadilan dalam hal hukum dan persaksian”. Sedangkan Syaikh Abdurrahman bin Nashir As Sa’di rahimahullah dalam kitab Taisir Karimir Rahman mengatakan, “Setiap kali kalian bersemangat menegakkan keadilan dan bersungguh-sungguh untuk menerapkannya maka hal itu akan membuat kalian semakin lebih dekat kepada ketakwaan hati. Apabila keadilan diterapkan dengan sempurna maka ketakwaan pun menjadi sempurna.”

Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin rahimahullah menjelaskan tentang hakikat keadilan. Beliau menerangkan bahwa makna adil adalah menunaikan hak kepada setiap pemiliknya. Atau bisa juga diartikan dengan mendudukkan setiap pemilik kedudukan pada tempat yang semestinya. Dengan demikian inti pengertian adil ialah masalah hak dan kedudukan. Segala sesuatu memiliki hak dan kedudukan.

Kader dakwah yang bertugas menjadi saksi dan petugas tabulasi suara, ditarbiyah untuk berlaku adil dengan persaksian mereka. Jika ada suara partai dan calon dikurangi atau ditambah, maka harus berani menyatakan ketidakbenaran itu. Bukan hanya berpikir apakah pengurangan dan penambahan itu menguntungkan atau merugikan bagi partai dan calon yang didukung. Namun karena bertugas menegakkan keadilan, harus berani adil terhadap partai dan calon yang didukung, maupun partai dan calon lain, bahkan yang bermusuhan sekalipun.

  1. Mentarbiyah Diri untuk Selalu Berlaku Jujur

Berlaku jujur atau shidiq bukanlah perkara mudah dalam proses pengawalan suara. Para saksi dan petugas tabulasi mudah tergoda untuk berlaku tidak jujur. Itulah yang terjadi pada banyak kalangan petugas penghitungan suara yang “tidak steril”, karena mendapat tekanan atau pesanan untuk memenangkan partai dan calon tertentu. Maka mereka telah merencanakan ketidakjujuran sejak awal, bahkan secara sistemik, sampai mempelajari dengan detail semua peluang tidak jujur untuk memenangkan partai dan alon tertentu.

Nabi Saw telah memerintahkan kepada kita semua agar selalu berlaku shidiq atau jujur, karena kejujuran akan mendekatkan kepada kebaikan, dan kebaikan akan membawa kepada surga. Sabda beliau:

“Hendaklah kalian senantiasa berlaku jujur, karena sesungguhnya kejujuran akan mengantarkan pada kebaikan dan sesungguhnya kebaikan akan mengantarkan pada surga. Jika seseorang senantiasa berlaku jujur dan berusaha untuk jujur, maka dia akan dicatat di sisi Allah sebagai orang yang jujur. Hati-hatilah kalian dari berbuat dusta, karena sesungguhnya dusta akan mengantarkan kepada kejahatan dan kejahatan akan mengantarkan pada neraka. Jika seseorang sukanya berdusta dan berupaya untuk berdusta, maka ia akan dicatat di sisi Allah sebagai pendusta.” HR. Muslim no. 2607.

Kader dakwah yang bertugas menjadi saksi dan petugas tabulasi suara, ditarbiyah untuk berlaku jujur dengan persaksian mereka. Maka setiap kecurangan dan ketidakbenaran dalam prises penghitungan harus disuarakan dengan jujur. Tugas mereka adalah menegakkan kejujuran, sehingga harus berani jujur terhadap partai dan calon yang didukung, maupun partai dan calon lain, bahkan yang bermusuhan sekalipun.

  1. Mentarbiyah Diri untuk Selalu Meyakini Pembalasan Allah

Saya melihat dengan mata kepala sendiri, kesungguhan para petugas penjaga suara. Para saksi sangat serius mengikuti proses penghitungan suara di TPS sampai mendapatkan C1. Para petugas tabulasi sangat serius mengolah data yang masuk berdasarkan C1. Para petugas pengamanan, para petugas logistik, semua sangat seius melaksanakan tugasnya.

Semua itu mereka lakukan tanpa bayaran, padahal harus rela tidak tidur, meninggalkan rumah, meninggalkan anak istri, meninggalkan suami, meninggalkan pekerjaan atau meninggalkan kuliah. Tentu mereka bukan sekedar meninggalkan atau membolos, mereka sudah menempuh proses izin kepada instansi masing-masing. Ini demi keberkahan tugas yang diembannya dalam mengawal dan menjaga suara.

Namun di sisi lain, kita mendengar dan menyaksikan berbagai kecurangan yang massif terjadi di berbagai daerah. Sangat banyak modus kecurangan demi memenangkan partai serta calon tertentu. Ada modus pembakaran kota suara, ada modus “kesalahan” penghitungan, ada modus “kesalahan” entry data, padahal dilakukan oleh petugas resmi yang digaji negara, bahkan ada modus “belanja suara” kepada KPU, dan berbagai modus lainnya. Berita di koran, televisi, media online dan medsos gencar memberitakan adanya kecurangan sistematis dan massif di berbagai daerah.

Banyaknya berita tentang kecurangan tersebut sering menggoda diri kita, untuk apa kita menjaga suara? Untuk apa kita berlelah-lelah, bermalam-malam, bersungguh-sungguh menjaga dan mengawal suara  —jika ujungnya hanya akan dicurangi dan dizalimi? Kita tergoda untuk ikut melakukan kecurangan, sebagaimana orang-orang lain melakukannya. Tak perlu C1, tak perlu tabulasi data, tak perlu menjaga dan mengawal suara, kita ikut curang saja. Kita gunakan hukum rimba, atau fikih peperangan, sehingga banyak hal menjadi boleh dilakukan dengan alasan kedaruratan suasana.

Alhamdulillah, kita ditarbiyah untuk meyakini pembalasan Allah. Sekecil atau sebesar apa kontribusi kita dalam menjaga kebenaran dan kebaikan, Allah akan memberikan balasan kebaikan yang berlipat. Pun sekecil atau sebesar apa kejahatan manusia, dalam mencurangi dan memanipulasi data, Allah akan memberikan balasan kebaikan yang sepadan dengan dosa dan kesalahan mereka.

Allah Ta’ala telah berfirman:

Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan sekecil apapun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sekecil apa pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula.” (QS. Al Zalzalah: 7 – 8).

Dalam ayat yang lain, Allah Ta’ala berfirman:

يَوْمَ تَجِدُ كُلُّ نَفْسٍ مَا عَمِلَتْ مِنْ خَيْرٍ مُحْضَرًا وَمَا عَمِلَتْ مِنْ سُوءٍ تَوَدُّ لَوْ أَنَّ بَيْنَهَا وَبَيْنَهُ أَمَدًا بَعِيدًا

“Pada hari ketika tiap-tiap diri mendapati segala kebajikan dihadapkan (di mukanya), begitu (juga) kejahatan yang telah dikerjakannya; ia ingin kalau kiranya antara ia dengan hari itu ada masa yang jauh.“ (QS. Ali Imran: 30).

Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As Sa’di rahimahullah menjelaskan, “Ayat ini memotivasi untuk beramal baik walau sedikit. Begitu pula menunjukkan ancaman bagi yang beramal jelek walau itu kecil.”

Al Qur’an menggunakan kata “mitsqala dzarrah” untuk perbuatan baik maupun untuk perbuatan buruk. Tak ada perbuatan manusia yang luput dari pengetahuan Allah Ta’ala dan manusia akan mendapatkan hasil dari apapun yang dilakukan, mitsqala dzarrah. Imam Ibnul Jauzi menjelaskan, yang dimaksud “mitsqal”, adalah ukuran berat. Jadi, ”mitsqala dzarrah” berarti seberat dzarrah.

Imam Ibnu Jauzi menyebutkan lima pendapat ulama tafsir mengenai makna kata “dzarrah”. Pendapat Ikrimah dari Ibnu Abbas Ra, dzarrah adalah kepala semut merah. Pendapat Yazid bin al-A’sham dari Ibnu Abbas, dzarrah adalah butiran tanah. Ibnu Qutaibah dan Ibnu Faris menjelaskan, dzarrah adalah semut yang paling kecil. Menurut Ats Tsa’labi, dzarrah adalah biji khardalah —yaitu tanaman mustard. Ats Tsa’labi, juga menyatakan, dzarrah adalah titik debu yang tampak di udara ketika ada celah dinding terkena sinar matahari.

Di Indonesia, sering kita jumpai terjemahan “mitsqala dzarrah” sebagai seberat biji sawi, atau seberat atom. Hal ini untuk menggambarkan sebuah benda yang paling kecil yang bisa disebut oleh manusia di zamannya.

Selanjutnya, Ibnul Jauzi menyampaikan kesimpulan, “Ketahuilah bahwa penyebutan dzarrah hanyalah ungkapan yang bisa ditangkap oleh logika manusia. Karena tujuan sebenarnya, bahwa Allah tidak berbuat dzalim, baik sedikit maupun banyak”. Karena itu, ungkapan dzarrah bukan untuk menjelaskan jenis benda. Namun untuk menggambarkan sesuatu yang sangat kecil yang dipahami manusia ketika ayat ini turun.

Al Qur’an juga menceritakan keheranan dan kekagetan orang-orang pendosa, ketika menjumpai catatan amal mereka , dari yang paling kecil sampai yang paling besar. Semua tercatat dan tak ada yang luput sama sekali. Firman Allah:

وَوُضِعَ الْكِتَابُ فَتَرَى الْمُجْرِمِينَ مُشْفِقِينَ مِمَّا فِيهِ وَيَقُولُونَ يَا وَيْلَتَنَا مَالِ هَٰذَا الْكِتَابِ لَا يُغَادِرُ صَغِيرَةً وَلَا كَبِيرَةً إِلَّا أَحْصَاهَا ۚ وَوَجَدُوا مَا عَمِلُوا حَاضِرًا ۗ وَلَا يَظْلِمُ رَبُّكَ أَحَدًا

“Dan diletakkanlah kitab, lalu kamu akan melihat orang-orang bersalah ketakutan terhadap apa yang (tertulis) di dalamnya, dan mereka berkata: “Aduhai celaka kami, kitab apakah ini yang tidak meninggalkan yang kecil dan tidak (pula) yang besar, melainkan ia mencatat semuanya; dan mereka dapati apa yang telah mereka kerjakan ada (tertulis). Dan Tuhanmu tidak menganiaya seorang juapun”. (QS. Al Kahfi : 49).

Kelak pada hari pembalasan, diletakkanlah kitab catatan amal perbuatan setiap orang di tangan kanan atau tangan kirinya. Maka orang-orang yang berbuat maksiat melihat dengan penuh ketakutan terhadap isi kitab mereka akibat apa yang telah mereka perbuat dahulu berupa kejahatan. Saat melihat dengan mata kepala sendiri, mereka mengatakan, ”Celaka kami! Kenapa kitab ini tidak meninggalkan yang kecil-kecil dari perbuatan kami dan tidak pula yang besar-besar, kecuali mencatatnya?” Mereka mendapati semua yang mereka lakukan di dunia tercatat di dalam kitab tersebut.

Pada dasarnya, Allah tidak menzhalimi seseorang sebesar biji sawi sekalipun, sehingga orang yang taat tidak terkurangi pahalanya dan orang yang bermaksiat tidak ditambah hukumannya. Maka kita menjadi tenang, karena meyakini pengawasan dan keadilan Allah Ta’ala. Jika ada manusia bersekongkol melakukan kejahatan di dunia, mereka akan menemukan balasan di akhirat kelak.

Ketika para kader dakwah berlelah-lelah menjaga kebenaran, maka seberat apa kelelahan mereka, Allah telah menyediakan balasan kebaikannya, bahkan berlipat ganda. Ketika para kader dakwah bersungguh-sungguh dalam menjaga kebenaran, maka seberat apa kesungguhan mereka, Allah telah menyediakan balasan kebaikannya, bahkan berlipat ganda. Ketika para kader dakwah bermalam-malam menjaga kebenaran, maka seberat apa usaha mereka, Allah telah menyediakan balasan kebaikannya, bahkan berlipat ganda.

Begitu pula sebaliknya. Ketika ada oknum yang melakukan kecurangan dan kebohongan dalam proses penghitungan suara —-sebesar atau sekecil apapun kecurangan mereka—Allah telah menyediakan balasan keburukan sesuai dengan kadar kecurangan yang mereka lakukan. Tidak ada yang bisa melarikan diri dari keadilan Allah Ta’ala.

Keyakinan seperti ini sangat menenteramkan hati, karena semua yang kita lakukan ikhlas karena Allah, akan berbuah kebaikan yang berlipat bagi pelakunya. Sungguh tak ada yang sia-sia, demikian detail Allah memberikan apresisi atas perbuatan manusia. Para relawan itu, tentu akan mendapatkan balasan kebaikan sesuai dengan besarnya usaha dan kesungguhan yang mereka curahkan. Akan berbeda pahalanya, antara yang berjaga sampai tidak tidur, dengan yang berjaga setengah malam saja. Semua mendapatkan baasan sesuai dengan kadar usaha yang dilakukan dan kadar keikhlasan yang dimiliki dalam jiwa.

Bersambung.

 

 

 

Cahyadi Takariawan

Cahyadi Takariawan telah menulis lebih dari 50 judul buku yang sebagian besarnya bertema keluarga. Aktivitasnya saat ini selain menulis adalah menjadi narasumber dalam berbagai seminar dan pelatihan di dalam dan luar negeri. Mendirikan Jogja Family Center (JFC) pada tahun 2000 sebagai kontribusi untuk mengokohkan keluarga Indonesia. Kini JFC bermetamorfosis menjadi Wonderful Family Institute. Beliau dapat diakses melalui Instagram @cahyadi_takariawan

Tinggalkan Balasan