Kembali
Motivasi Menulis

Spirit Menulis dari Tokoh Dunia – 5

.

Oleh : Cahyadi Takariawan

“Poetry is when an emotion has found its thought and the thought has found words” Robert Frost

.

Mungkin Anda masih merasa ragu untuk memulai menulis. Masih merasa canggung, dan bertanya-tanya apakah menulis rutin setiap hari ada manfaatnya? Tak perlu ragu. Mulailah menulis, rutin, setiap hari, dan rasakan manfaatnya.

Berikut saya ajak Anda menyimak penuturan Chad Grills (2017), yang berusaha mengambil spirit menulis dari para tokoh dunia, agar bisa memotivasi untuk terus menerus menghasilkan karya.

Penulis Terbaik Tidak Takut Menunjukkan Emosinya

“Write what moves you emotionally. Believe that you can write something that will make yourself cry, and you will. Believe that you can surprise yourself with your writing, and you will. That astonishment will carry over to the reader” –Chad Grills, 2017.

Belajar dari para penulis dunia, Chad Grills (2017) menyatakan bahwa penulis terbaik tidak takut menunjukkan emosinya. Dalam sebuah karya fiksi, emosi penulis bisa dititipkan kepada tokoh, karakter, dialog dan peristiwa. Semua sisi emosi penulis bisa tersalurkan secara penuh.

Grills menyarankan, “Tulis apa yang menggerakkan Anda secara emosional. Percayalah bahwa Anda dapat menulis sesuatu yang akan membuat menangis, dan Anda akan menangis. Percayalah bahwa Anda dapat mengejutkan diri sendiri melalui tulisan, dan Anda akan terkejut. Keheranan Anda akan terbawa kepada pembaca”.

Kondisi emosi dalam diri manusia selalu berubah-ubah. Terkadang tampak jelas dan nyata: kita merasa senang, sedih, frustrasi, atau marah. Suatu ketika tampak rumit, berlapis, dan saling bertentangan. Misalnya, kita merasa senang, tetapi juga kesal tentang sesuatu. Kita sedih, tetapi juga memiliki sesuatu untuk disyukuri. Kadang emosi bertekstur, sulit untuk dijelaskan.

Manusia mengekspresikan emosi melalui sangat banyak cara. Salah satu-satunya adalah melalui tulisan. Puisi adalah contoh ekspresi emosi yang luar biasa. Menangkap perasaan kompleks dari dalam jiwa, kemudian dituangkan dalam kata-kata.

Robert Frost, pemenang penghargaan Pulitzer empat kali, adalah salah satu penyair populer dari Amerika. Frost sangat pandai menyampaikan emosi melalui bahasa puisi. Ia menyatakan, “Puisi adalah ketika sebuah emosi menemukan pikirannya dan pikiran itu menemukan kata-kata”.

Salah satu puisi Frost berjudul “The Road Not Taken”, bisa menggambarkan posisi dirinya sebagai penyair berkelas. Mari simak petikan puisi Frost berikut.

.

Two roads diverged in a wood, and I–

I took the one less traveled by,

And that has made all the difference.

Dua jalan bercabang di hutan, dan aku–

Aku mengambil yang jarang dilalui,

Dan hal itu telah membuat semuanya berbeda.

.

Menurut Melissa Donovan (2016), para penyair mengambil jalan yang jarang dilalui oleh penulis pada umumnya. Beberapa penyair dengan halus menjauhi arus utama; di saat banyak orang mengejar budaya populer dan bahkan pragmatis dalam menulis.

Sebuah sumber menyatakan, pada tahun 1894 Frost menjual puisi pertamanya berjudul ‘My Butterfly. An Elegy’ seharga 15 USD. Dengan nilai dolar hari ini mungkin menjadi sekitar 398 USD (Melissa Donovan, 2016). Jika dijadikan rupiah, setara dengan lima setengah juta rupiah.

Puisi secara sendirian, dan ketika sekumpulan puisi diterbitkan dalam bentuk buku antologi puisi, bukanlah komoditi yang laris dijual. Ternyata pada 1894 Frost sudah mampu mendapatkan salah satu pengakuan dari karya puisinya, dan laku terjual limabelas dolar Amerika.

Hari-hari ini, mendapatkan 15 USD untuk sebuah puisi akan menjadi prestasi yang luar biasa. Mendapatkan 398 USD untuk sebuah puisi, hampir tidak mungkin. Tetapi ada suatu masa ketika tercipta pasar puisi, ketika orang-orang biasa –bukan penulis, seniman, atau penyair, membeli dan membaca puisi. Mungkin saat itu orang mengerti bahwa puisi memiliki kemampuan unik untuk menafsirkan dan menjelaskan emosi (Donovan, 2016).

Luapan Kondisi Emosi Melalui Puisi

“No tears in the writer, no tears in the reader. No surprise in the writer, no surprise in the reader” –Robert Frost.

Salah satu cara kita untuk mengekspresikan emosi adalah melalui puisi. Emosi jiwa kita tercermin penuh lewat puisi. Saat memilih kata-kata, merangkainya menjadi sebuah puisi, akan tercipta karya yang menggambarkan emosi diri kita. Sedih, marah, terluka, kecewa, atau bahagia dan berbunga-bunga.

Seperti kata Helvy Tiana Rosa, “Kita perlu jatuh cinta atau patah hati untuk dapat membuat puisi yang bagus.” Kita menjadi mengerti bahwa diri kita tengah jatuh cinta atau patah hati —saat menyadari puisi kita sangat bagus.

Cinta dan benci adalah kondisi emosi yang selalu ada dalam kehidupan manusia. Sebagai sebuah karunia dari Yang Maha Kuasa, yang menandakan kesempurnaan ciptaan sebagai manusia. Ternyata kecintaan dan kebencian, akan terekatkan oleh puisi. Helvy Tiana Rosa menuliskan, “Puisi bisa menjadi semacam magnet yang melekatkan kita pada seseorang, bahkan bila kita membencinya”.

Puisi mampu menggambarkan hal-hal yang tak bisa kita ungkapkan dengan naskah akademik. Seluruh perasaan dan jiwa kita secara totalitas bisa hadir melalui puisi. Maka kita akan lebih bisa mengerti diri kita sendiri, melalui puisi. “Puisi yang kita tulis tak akan pernah mati, bahkan bila kita mati,” ujar Helvy Tiana Rosa.

Puisi bukanlah komoditi yang laku dijual. Masyarakat menikmati puisi, bukan dalam konteks jual beli. “Seseorang pernah mengatakan, guna puisi adalah dengan hadir tanpa guna. Ia tak bisa dijual. Ia menegaskan tak semua bisa dijual,” demikian ungkap Goenawan Mohamad.

Jika Anda memiliki sebuah puisi yang indah, belum tentu bisa Anda tukar dengan satu cangkir kopi atau sepiring spagheti di kedai. Pemilik kedai tetap akan meminta uang dari Anda kendati Anda datang dengan puluhan puisi kepadanya. Karena fungsi puisi bukan untuk jual beli, bukan untuk transaksi.

Benar kata Goenawan Mohamad. Tidak semua hal bisa dijual, sebagaimana tidak semua hal bisa dibeli. Puisi meruntuhkan keangkuhan kapitalisme yang telah menguasai dunia selama berabda lamanya. Seakan orang hanya berharga apabila memiliki alat beli. Seakan semua hal bisa dijual –bahkan aset-aset negara dan kekayaan bangsa.

Maka wajar saja, “Mereka yang terbiasa dengan kekuasaan dan aturan memang umumnya sulit memahami puisi,” ujar Goenawan Mohamad. Para kapitalis akan sangat sulit mengerti nilai puisi. Yang mereka tahu hanyalah materi.

Bgaimana dengan Anda? Sudah siap menuangkan emosi ke dalam kata-kata? Rangkailah puisi.

Bahan Bacaan

Chad Grills, The 7 Secrets of Writing From the Best Writers in the World, 2 November 2017, https://medium.com/

Melissa Donovan, Quotes on Writing: Robert Frost on Emotions and Poetry, https://www.writingforward.com, 9 Agustus 2016

Ditulis oleh Cahyadi Takariawan

Dipublikasikan di RUANG KELUARGA. Media edukasi keluarga, parenting, dan keharmonisan rumah tangga.