Struktur Berfikir Religius

Struktur Berfikir Religius

 

Oleh : Komunitas Suka Qur’an

 

 

Menurut Al-Qur’an dan Al-Hadits, ada struktur berpikir religius yang harus dibangun setiap manusia beriman, untuk menghadapi setiap kejadian dalam kehidupan.

  1. Tidak akan pernah ada apapun yang terjadi di muka bumi ini, tanpa sepengetahuan Allah, tanpa seizin Allah dan tanpa kehendak Allah. Maka tenanglah[i].
  2. Virus Corona adalah salah satu makhluk ciptaan Allah, yang tidak akan bergerak semau dirinya sendiri, di luar kendali Allah. Maka jangan panik[ii].
  3. Segala hal yang terjadi dalam kehidupan manusia, pasti ada hikmah dan manfaat di baliknya, baik yang segera dapat kita pahami ataupun yang belum kita pahami. Maka berbaik sangkalah kepada Allah, lalu berusahalah untuk memahami[iii].
  4. Ujian akan terus-menerus Allah berikan di sepanjang kehidupan manusia dalam berbagai bentuknya, apatah itu untuk individu, orang per orang, ataupun untuk masyarakat secara kolektif. Maka bersikaplah rasional dan realistis dalam menghadapi[iv].
  5. Dinamika kehidupan duniawi akan terus silih berganti, yang kekal abadi adalah kehidupan akhirat nanti. Kehidupan dunia adalah perjuangan yang penuh ujian, di sektor manapun, di bidang apapun. Hidup bukan untuk rileks dan bersantai. Maka berjuanglah sekuat tenaga[v].
  6. Tatkala penyimpangan telah mendominasi selera mayoritas penduduk bumi, dan perilaku menyimpang semakin vulgar ditampakkan, dapat dipastikan Allah akan mengirim pasukan untuk menegur mereka, sambil menunjukkan bukti-bukti kebenaran ajaran agama-Nya. Meski secara kasat mata tampak menyengsarakan, tapi yakinlah bahwa di balik itu semua pasti ada rahmat dan karunia yang akan Allah berikan kepada siapapun yang Dia kehendaki. Semoga kita termasuk diantara hamba yang akan mendapatkan rahmat dan karunia-Nya. Don’t worry, be happy, bersama Allah[vi].
  7. Allah menciptakan manusia dengan spesifikasi dan kualifikasi yang sangat unggul melampaui makhluk lain, namun kita harus tetap objektif bahwa dalam diri manusia juga tersimpan kelemahan, ketidaktahuan, ketidaksabaran, resisten kepada kebenaran dan kebaikan. Maka bersikaplah yang elegan di hadapan Allah[vii].
  8. Bisa jadi di balik hal-hal yang tidak disukai manusia, terdapat sangat banyak kebaikan. Maka jangan berkeluh kesah[viii].
  9. Muslim pantang berputus asa. Allah telah mengingatkan, agar jangan sampai manusia kehilangan harapan untuk mendapatkan rahmat dan karunia Allah, karena yang pantas kehilangan harapan untuk mendapat rahmat dan karunia Allah hanyalah orang-orang kafir[ix].
  10. Kewajiban manusia adalah berusaha sekuat tenaga, disertai tawakal kepada Allah. Maka jangan lemah dan menyerah. Never give up[x].

 

SukaQur’an Community

Bahagia bersama Al-Qur’an

 

===========

[i] Semua musibah, adalah atas izin Allah, sebagaimana firman Allah,

مَا أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ

“Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah” (QS. At-Taghabun: 11).

Silakan simak pula QS. Al-Ahzab: 17, QS. Az-Zumar: 38, QS. Fathir: 2. Perhatikan pula sabda Nabi saw,

وَاعْلَمْ أَنَّ الأُمَّةَ لَوِ اجْتَمَعَتْ عَلَى أَنْ يَنْفَعُوكَ بِشَىْءٍ لَمْ يَنْفَعُوكَ إِلاَّ بِشَىْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ لَكَ وَلَوِ اجْتَمَعُوا عَلَى أَنْ يَضُرُّوكَ بِشَىْءٍ لَمْ يَضُرُّوكَ إِلاَّ بِشَىْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ عَلَيْكَ رُفِعَتِ الأَقْلاَمُ وَجَفَّتِ الصُّحُفُ » ، وفي الحديث «كَتَبَ اللَّهُ مَقَادِيرَ الْخَلاَئِقِ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ بِخَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ» ، وفي الحديث «إِنَّ أَوَّلَ مَا خَلَقَ اللَّهُ الْقَلَمَ، فَقَالَ لَهُ: اكْتُبْ. قَالَ: رَبِّ وَمَاذَا أَكْتُبُ؟ قَالَ: اكْتُبْ مَقَادِيرَ كُلِّ شَىْءٍ حَتَّى تَقُومَ السَّاعَة

”Ketahuilah seandainya seluruh manusia berkumpul untuk memberikan suatu manfaat pada dirimu, niscaya mereka tidak akan mampu memberikannya kecuali sekadar manfaat yang telah ditetapkan Allah bagimu. Demikian pula seandainya seluruh manusia berkumpul untuk menimpakan suatu mudharat, niscaya mereka tidak akan mampu menimpakannya kecuali sekadar mudharat yang telah ditetapkan Allah atas dirimu. Pena catatan telah terangkat dan lembaran-lembaran takdir telah mengering.” (HR. At-Tirmidzi).

[ii] Segala sesuatu yang ada di muka bumi ini, tak ada yang luput dari pengawasan Allah. “Dia mengetahui apa yang ada di darat dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya.” (QS. Al-An’am: 59). Allah juga berfirman: “Sesungguhnya Tuhanmu benar-benar mengawasi.” (QS. Al-Fajr: 14).

Semua yang terjadi di alam semesta, termasuk wabah corona, adalah ketetapan dari Allah,

قُلْ لَنْ يُصِيبَنَا إِلَّا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَنَا هُوَ مَوْلَانَا ۚ وَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ

“Katakanlah: Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan Allah untuk kami. Dialah Pelindung kami, dan hanya kepada Allah orang-orang yang beriman harus bertawakal” (QS. At-Taubah : 51).

Maka jangan khawatir, dan jangan cemas. Karena Allah sungguh Mahakuat lagi Maha Perkasa, dan tak akan pernah terkalahkan oleh makhluk,

كَتَبَ ٱللَّهُ لَأَغْلِبَنَّ أَنَا۠ وَرُسُلِىٓ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ قَوِىٌّ عَزِيزٌ

“Allah telah menetapkan: Aku dan rasul-rasul-Ku pasti menang. Sesungguhnya Allah Maha Kuat lagi Maha Perkasa.” (QS. Al-Mujadilah: 21)

[iii] Bagi orang beriman, semua kejadian dalam kehidupan akan disikapi secara benar. Perhatikan sabda Nabi saw,

عَجَبًا لأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ ، وَلَيْسَ ذَاكَ لأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ، إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ ، وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ

“Seluruh urusan orang beriman itu begitu menakjubkan, karena semua urusannya adalah kebaikan. Dan hal itu hanya terjadi pada diri orang beriman.Jika mengalami hal yang menyenangkan, dia bersyukur dan itu merupakan kebaikan. Jika mengalami hal yang tidak menyenangkan, dia bersabar dan hal itu pun merupakan kebaikan.” (HR. Muslim)

Orang beriman selalu berpikir positif atas musibah yang menimpa dirinya. Bisa jadi, musibah adalah hukuman Allah, namun hukuman itu diberikan justru untuk kebaikan kehidupannya di dunia dan akhirat. Dari Anas bin Malik, Nabi saw bersabda,

إِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِعَبْدِهِ الْخَيْرَ عَجَّلَ لَهُ الْعُقُوبَةَ فِى الدُّنْيَا وَإِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِعَبْدِهِ الشَّرَّ أَمْسَكَ عَنْهُ بِذَنْبِهِ حَتَّى يُوَفَّى بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Jika Allah menginginkan kebaikan pada hamba, Dia akan segerakan hukumannya di dunia. Jika Allah menghendaki kejelekan padanya, Dia akan mengakhirkan balasan atas dosa yang ia perbuat hingga akan ditunaikan pada hari kiamat kelak.” (HR. Tirmidzi no. 2396, hasan shahih kata Syaikh Al Albani).

Bahkan musibah adalah tanda cinta Allah bagi hamba yang beriman. Nabi saw bersabda,

إِنَّ عِظَمَ الْجَزَاءِ مَعَ عِظَمِ الْبَلاَءِ وَإِنَّ اللَّهَ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلاَهُمْ فَمَنْ رَضِىَ فَلَهُ الرِّضَا وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السَّخَطُ

“Sesungguhnya pahala besar karena balasan untuk ujian yang berat. Sungguh, jika Allah mencintai suatu kaum, maka Dia akan menimpakan ujian untuk mereka. Barangsiapa yang ridha, maka ia yang akan meraih ridha Allah. Barangsiapa siapa yang tidak suka, maka Allah pun akan murka.” (HR. Ibnu Majah no. 4031).

Maka hendaknya selalu berprasangka baik kepada Allah, sebagaimana hadits qudsi, Allah Ta’ala berfirman, “Aku berdasarkan prasangka hamba-Ku kepada-Ku. Apabila ia berbaik sangka, maka ia akan mendapatkan kebaikan. Jika berprasangka buruk, maka ia mendapatkan keburukan.” (HR. Ahmad).

[iv] Dunia adalah lahan ujian. Semua manusia akan selalu mendapatkan ujian, dengan bentuk yang sangat beragam. Allah Ta’ala telah berfirman,

وَنَبۡلُوكُم بِٱلشَّرِّ وَٱلۡخَيۡرِ فِتۡنَةً۬‌ۖ وَإِلَيۡنَا تُرۡجَعُونَ

“Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya) dan hanya kepada Kami-lah kalian dikembalikan.” (QS. Al-Anbiya’: 35)

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوفْ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الأَمَوَالِ وَالأنفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ ,  الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُم مُّصِيبَةٌ قَالُواْ إِنَّا لِلّهِ وَإِنَّـا إِلَيْهِ رَاجِعونَ .  أُولَـئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِّن رَّبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ وَأُولَـئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ

“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un” . Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Rabb mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.”  (QS. Al-Baqarah: 155-157).

[v] Karena hidup di dunia hanyalah ujian, maka hendaklah berorientasi kepada keabadian akhirat. Perhatikan firman Allah,

وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا لَعِبٌ وَلَهْوٌ ۖ وَلَلدَّارُ الْآخِرَةُ خَيْرٌ لِلَّذِينَ يَتَّقُونَ ۗ أَفَلَا تَعْقِلُونَ

“Dan kehidupan dunia ini tiada lain hanyalah main-main dan senda gurau belaka. dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka tidakkah kamu mau memahaminya?” (QS. Al-An’am :32)

Segala yang kita dapatkan dalam kehidupan dunia, hanyalah sementara. Yang kekal adalah yang ada di sisi Allah, sebagaimana firman-Nya,

وَمَا أُوتِيتُمْ مِنْ شَيْءٍ فَمَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَزِينَتُهَا ۚ وَمَا عِنْدَ اللَّهِ خَيْرٌ وَأَبْقَىٰ ۚ أَفَلَا تَعْقِلُونَ

“Dan apa saja yang diberikan kepada kamu, maka itu adalah kenikmatan hidup duniawi dan perhiasannya; sedangkan apa yang di sisi Allah itu lebih baik dan lebih kekal. Maka apakah kamu tidak mau memahaminya?” (QS. Al-Qashas: 60)

Seperti apapun kenikmatan dunia, adalah kecil dibandingkan dengan kenikmatan akhirat. Allah telah berfirman,

اللَّهُ يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَشَاءُ وَيَقْدِرُ ۚ وَفَرِحُوا بِالْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا فِي الْآخِرَةِ إِلَّا مَتَاعٌ

“Allah meluaskan rezeki dan menyempitkannya bagi siapa yang Dia kehendaki. Mereka bergembira dengan kehidupan di dunia, padahal kehidupan dunia itu (dibanding dengan) kehidupan akhirat, hanyalah kesenangan (yang sedikit). (QS. Ar-Ra’du:26)

Allah juga telah berfirman,

أَرَضِيتُمْ بِالْحَيَاةِ الدُّنْيَا مِنَ الْآخِرَةِ ۚ فَمَا مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا فِي الْآخِرَةِ إِلَّا قَلِيلٌ

“Apakah kamu puas dengan kehidupan di dunia sebagai ganti kehidupan di akhirat? Padahal kenikmatan hidup di dunia ini (dibandingkan dengan kehidupan) di akhirat hanyalah sedikit. (QS. At-Taubah : 38)

Orang-orang kafir, lebih memilih kehidupan dunia. Allah telah berfirman,

بَلْ تُؤْثِرُونَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا ﴿١٦﴾ وَالْآخِرَةُ خَيْرٌ وَأَبْقَىٰ

“Tetapi kamu (orang-orang kafir) lebih memilih kehidupan duniawi. Sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal. (QS. Al-A’la :16-17)

Iblis selalu berusaha untuk menyesatkan manusia dalam kehidupan dunia, maka hendaklah manusia berjuang untuk mengalahkan godaan iblis dan tentaranya. Imam Hasan Al-Bashri pernah ditanya, ”Apakah Iblis itu tidur?” Beliau menjawab,

لو نام لوجدنا راحة

“Kalau iblis tidur, kita bisa istirahat.”

[vi] Jika kemungkaran telah merajalela, maka adzab akan menimpa secara merata, bukan hanya menimpa orang-orang yang melakukan kejahatan saja. Allah berfirman,

وَاتَّقُوا فِتْنَةً لاَ تُصِيبَنَّ الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْكُمْ خَاصَّةً وَاعْلَمُوا أَنَّ اللهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

“Peliharalah diri kalian dari siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kalian. Ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya.” (QS. Al-Anfal : 25)

Orang beriman harus pandai mendapatkan hikmah dan pelajaran dari setiap musibah. Nabi telah menyatakan bahwa wabah adalah rahmat bagi orang beriman. Dari Aisyah ra, dia berkata: “Aku bertanya kepada Rasulullah saw tentang wabah (tha’un), maka Rasulullah saw mengabarkan kepadaku, bahwasannya wabah (tha’un) itu adalah adzab yang Allah kirim kepada siapa yang Dia kehendaki, dan Allah jadikan sebagai rahmat bagi orang-orang beriman. Tidaklah seseorang yang ketika terjadi wabah (tha’un) dia tinggal di rumahnya, bersabar dan berharap pahala (di sisi Allah) dia yakin bahwasanya tidak akan menimpanya kecuali apa yang ditetapkan Allah untuknya, maka dia akan mendapatkan seperti pahala syahid”. (HR. Imam Ahmad nomer 26139. Menurut Syaikh Syu’aib Al Arnauth, sanad hadis ini shahih berdasarkan syarat Imam Bukhari).

[vii] Manusia diciptakan dalam keadaan sebaik-baik penciptaan (QS. At-Tin: 4), dan dimuliakan di atas makhluk lainnya (QS. Al-Isra: 70). Namun, Allah juga menyatakan ada beberapa sifat negatif manusia. Al Qur’an menyatakan, manusia adalah makhluk yang lemah (QS. An-Nisa: 28), suka tergesa-gesa (QS. Al-Isra’ : 11), suka membantah (QS. An-Nahl : 4), suka berlebih-lebihan (QS. Al-Alaq : 6), suka berkeluh kesah (QS. Al-Ma’arij : 20), kikir (QS. Al-Isra’ : 100), suka mengingkari nikmat (Q.S. Al-’Adiyat : 6), zalim dan jahil (QS. Al-Ahzab : 72)

 

[viii] Allah Ta’ala telah berfirman,

و عسى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وهُوَ خَيْرٌ لكَمْ وَعَسى أَنْ تُحِبُّوْا شَيْئا وهو شرٌّ لكم واللهُ يعلمُ وأَنْتُمْ لا تَعْلمُوْنَ

“Bisa jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan bisa jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 216). Simak juga firman Allah dalam QS. An-Nisa’ : 19.

[ix] Putus asa termasuk dosa besar, sebagaimana dinyatakan Ibnu Mas’ud ra,

الكبائر: الإشراك بالله ، والأمن من مكر الله ، والقنوط من رحمة الله ، واليأس من روح الله

“Dosa besar yang paling besar adalah menyekutukan Allah, merasa aman dari makar Allah, putus asa terhadap rahmat Allah, dan putus harapan terhadap kelapangan dari Allah.” HR. Ath-Thabrani dalam Al-Mu’jam Al-Kabir.

Putus asa adalah sifat orang kafir, sebagaimana dinyatakan Allah saat mengabadikan perkataan Nabi Ya’qub,

يَا بَنِيَّ اذْهَبُوا فَتَحَسَّسُوا مِن يُوسُفَ وَأَخِيهِ وَلَا تَيْأَسُوا مِن رَّوْحِ اللَّهِ إِنَّهُ لَا يَيْأَسُ مِن رَّوْحِ اللَّهِ إِلَّا الْقَوْمُ الْكَافِرُونَ

“Hai anak-anakku, pergilah kamu, maka carilah berita tentang Yusuf dan saudaranya; dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir”. (QS. Yusuf: 87)

[x] Allah telah memerintahkan orang-orang beriman agar selalu tawakal kepadaNya:

وَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ

“Dan hanya kepada Allahlah, hendaknya orang-orang mukmin bertawakal”. (QS. Ali Imran : 122 dan 160, Al-Maidah:11 dan 23, Al-A’raf:89, Al-Anfal:2, At-Taubah:51, Al-Mujadilah:10, At-Taghabun:13).

Tawakal bukanlah sikap pasif tanpa usaha. Rasulullah saw bersabda, “Seandainya kalian bertawakkal kepada Allah dengan sebenar-benarnya tawakkal, pasti Dia akan memberi kalian rezeki sebagaimana Dia memberikannya kepada burung-burung. Mereka berangkat di pagi hari dalam keadaan lapar, dan pulang di sore hari dalam keadaan kenyang.” (HR. Ahmad, Tirmidzi, dan Ibnu Majah).

Abu Muhammad Sahl bin ‘Abdullah at-Tustariy menyatakan, “Barangsiapa yang mencela usaha (al-iktisab) maka dia telah mencela sunnah, dan barangsiapa yang mencela tawakkal maka dia telah mencela iman” (Riwayat Abu Nu’aim dalam Hilyatu al-Auliya’).

Abu Muhammad Sahl bin ‘Abdullah at-Tustariy juga menyatakan, “Tawakkal adalah keadaan jiwa (haal) Nabi saw, sedangkan usaha (al-kasab) adalah sunnah beliau. Barangsiapa yang berada pada haal beliau, maka jangan sekali-kali meninggalkan sunnahnya.”

ruangkeluarga

Tinggalkan Balasan