Suami Istri Harus Lekat Seperti Pakaian

Suami Istri Harus Lekat Seperti Pakaian

Oleh : Cahyadi Takariawan

 

 

Seperti apakah seharusnya interaksi antara suami dan istri dalam kehidupan sehari-hari? Salah satu penggambaran yang sangat mendalam adalah, suami dan istri ibarat pakaian (libas). Suami adalah pakaian bagi istri dan istri adalah pakaian bagi suami, sebagaimana firman Allah berikut:

أُحِلَّ لَكُمْ لَيْلَةَ الصِّيَامِ الرَّفَثُ إِلَى نِسَائِكُمْ هُنَّ لِبَاسٌ لَكُمْ وَأَنْتُمْ لِبَاسٌ لَهُنَّ

“Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan puasa bercampur dengan istri-istri kamu; mereka adalah pakaian bagimu, dan kamupun adalah pakaian bagi mereka” (QS. Al-Baqarah: 187).

Sekarang coba perhatikan baik-baik, pakaian yang menempel di tubuh anda masing-masing. Rasakan, hayati, resapi, mengapa suami dan istri diibaratkan saling menjadi pakaian satu dengan yang lainnya. Apa yang kita rasakan dari pakaian yang menempel di tubuh kita?

  1. Pakaian itu sangat lekat dengan tubuh

Jika kita mengenakan pakaian, dengan sendirinya akan melekat di tubuh. Tanpa jarak. Demikianlah seharusnya interaksi antara suami dan istri. Saling melekat satu dengan yang lain. Ada kedekatan perasaan, kedekatan pemikiran, juga kedekatan badan. Al Hafizh Ibnu Katsir dalam tafsirnya menyatakan:

فَلَا أُلْفَةَ بَيْنَ رُوْحَيْنِ أَعْظَمُ مِمَّا بَيْنَ الزَّوْجَيْنِ

“Tidak ada persatuan (kedekatan) antar dua ruh yang lebih besar dibandingkan suami dan istri.

  1. Pakaian itu menutupi aurat

Salah satu fungsi penting pakaian adalah menutupi aurat dari pandangan orang yang tidak berhak untuk melihatnya. Maka hendaknya suami dan istri saling menutupi aurat atau aib, kekurangan dan kelemahan pasangan. Jangan sampai mengumbar aib pasangan dan menyebarkannya kepada khalayak. Allah menyatakan:

يَا بَنِي آَدَمَ قَدْ أَنْزَلْنَا عَلَيْكُمْ لِبَاسًا يُوَارِي سَوْآَتِكُمْ

“Wahai anak Adam, sungguh telah Kami turunkan kepada kalian pakaian yang menutupi aurat kalian” (QS. Al A’raf : 26).

  1. Pakaian itu melindungi tubuh

Di antara fungsi pakaian adalah untuk melindungi manusia dari udara dan cuaca, seperti melindungi dari terik panas matahari, dan juga melindungi dari udara dingin. DI masa terdahulu, ada pakaian yang melindungi tubuh manusia di saat pertempuran. Allah berfirman:

وَجَعَلَ لَكُمْ سَرَابِيلَ تَقِيكُمُ الْحَرَّ وَسَرَابِيلَ تَقِيكُمْ بَأْسَكُمْ

“Dan Dia (Allah) menjadikan untuk kalian pakaian yang melindungi kalian dari panas dan pakaian yang melindungi kalian saat perang” (QS. An Nahl : 81)

Maka hendaknya suami dan istri mampu saling melindungi dan menjaga. Sang istri selalu merasa aman di sisi suami karena terlindungi, pun sang suami selalu merasa nyaman di sisi istri karena terjaga.

  1. Pakaian itu memberikan ketentraman

Jika kita mengenakan pakaian, akan muncul rasa tenang dan tenteram, karena bagian aurat tubuh kita telah terlindungi. Demikianlah semestinya corak interaksi suami istri, mereka saling memberikan ketenangan, kenyamanan dan ketenteraman. Dalam kitab Tafsir Ath Thabari, dinukilkan pernyataan sahabat  Ibnu Abbas:

هُنَّ سَكَن لَكُمْ، وَأَنْتُمْ سَكَنٌ لَهُنَّ

“Mereka (para istri) memberikan ketenangan kepada kalian, dan kalian pun memberikan ketenangan kepada mereka”.

  1. Manusia memperlakukan dengan baik pakaiannya

Apa yang anda lakukan terhadap pakaian anda selama ini? Setelah memakai, pasti anda merawat dan memperlakukan dengan baik. Mencuci, menjemur, menyeterika, dan menyimpan di tempat yang baik. Demikian pula interaksi antara suami dan istri, hendaknya saling memperlakukan dengan baik. Para suami harus memberikan hak bagi istri, dan istri harus memberikan hak bagi suami, sebagaiman firman Allah:

وَلَهُنَّ مِثْلُ الَّذِي عَلَيْهِنَّ بِالْمَعْرُوفِ

“Dan mereka (para istri) berhak mendapatkan perlakuan baik sebagaimana mereka wajib memperlakukan (suami) dengan baik” (QS. Al Baqarah : 228)

  1. Pakaian itu kebutuhan dasar manusia

Pakaian adalah salah satu kebutuhan pokok atau kebutuhan dasar dalam kehidupan manusia. Semua manusia memerlukan pakaian dalam kehidupannya, apapun bentuknya. Demikian pula semestinya interaksi antara suami dan istri, mereka berdua saling membutuhkan satu dengan yang lainnya. Syaikh Muhammad bin Salih Al Utsaimin menyatakan:

لِأَنَّ الزَّوْجَ لَا يَسْتَغْنِي عَنْ زَوْجِهِ فَهُوَ لَهَا بِمَنْزِلَةِ اللِّبَاسِ

“Karena suami membutuhkan istrinya, sebagaimana pakaian (yang dibutuhkan).

  1. Pakaian terbaik adalah ketakwaan

Pakaian yang paling baik adalah ketakwaan. Maka suami istri harus selalu berusaha untuk saling menjaga dan menguatkan ketakwaan. Allah Ta’ala berfirman:

وَلِبَاسُ التَّقْوَى ذَلِكَ خَيْرٌ

“Pakaian ketakwaan, itu adalah yang terbaik” (QS. Al A’raf : 26)

 

 

Joglosemarkerto, 15 Maret 2020

 

Bahan Rujukan:

Cahyadi Takariawan, Wonderful Couple, Era Adicitra Intermedia, 2017

Ibnu Katsir, Tafsir Ibnu Katsir, Penerbit Pustaka Imam Syafii, 2019

 

Cahyadi Takariawan

Cahyadi Takariawan telah menulis lebih dari 50 judul buku yang sebagian besarnya bertema keluarga. Aktivitasnya saat ini selain menulis adalah menjadi narasumber dalam berbagai seminar dan pelatihan di dalam dan luar negeri. Mendirikan Jogja Family Center (JFC) pada tahun 2000 sebagai kontribusi untuk mengokohkan keluarga Indonesia. Kini JFC bermetamorfosis menjadi Wonderful Family Institute. Beliau dapat diakses melalui Instagram @cahyadi_takariawan

Tinggalkan Balasan