Sunardi Syahuri 2 : Inspirasi Tak Bertepi

Sunardi Syahuri 2 : Inspirasi Tak Bertepi

Oleh : Cahyadi Takariawan

 

 

Dalam tulisan sebelumnya, telah saya kenalkan sosok KH. Sunardi Syahuri yang sedemikian melegenda di hati masyarakat Yogyakarta dan sekitarnya. Menyaksikan prosesi pemakaman hari ini, Senin 12 November 2018, membuat semua orang percaya, Pakde Nardi —panggilan khas kami untuk beliau— adalah sosok yang sangat dicintai oleh sangat banyak kalangan masyarakat. Saya dan rombongan teman-teman parkir di kawasan kebun binatang Gembira Loka, karena saking membludagnya kendaraan para pentakziyah.

Seorang teman berkomentar, karena Pakde Nardi adalah pembimbing haji dan umrah, suasana prosesi pemakaman juga mirip suasana di saat melaksanakan ibadah di tanah suci. Sangat padat, ramai, dan penuh sesak. Orang datang pergi, terus menerus, seakan tanpa henti. Sejak anak-anak sekolah, remaja, pemuda, orang tua, bahkan kakek dan nenek yang datang dengan diantar kursi roda. Subhanallah, sedemikian besar kecintaan masyarakat kepada beliau. Merinding melihat suasananya.

Untuk lebih mengenal beliau secara lebih detail, saya akan lanjutkan beberapa testimoni dari handai taulan yang beredar di grup-grup whatsApp. Keseluruhannya menandakan kedalaman rasa cinta dan penghormatan masyarakat kepada beliau dan juga keluarganya. Sungguh, membaca dan sedikit mengedit tulisan testimoni teman-teman ini, membuat saya kembali berurai air mata.

Testimoni 9 : Tantangan Pak Sunardi

Waktu itu, tanggal 9 Agustus 2011, di acara buka bersama dalam rangka Penggalangan Dana Masjid Nurul Islam, Sleman, Yogyakarta, ustadz KH. Sunardi Syahuri bercerita tentang seorang mahasiswi di Jawa Timur yang memutuskan untuk masuk Islam meski harus dengan pengorbanan yang besar. Termasuk harus mampu untuk hidup mandiri. Bahkan uang yang seharusnya untuk SPP ia relakan untuk infaq demi kepentingan syiar Islam.

“Nah, orang semacam inilah yang termasuk dalam golongan muallaf yang wajib mendapatkan zakat” begitu ulas pak Sunardi. Beliau memang sudah terbiasa menangani para muallaf. Beliau juga mengulas banyak pengalaman dalam menghadapi krisis iman di berbagai daerah.

“Harusnya kita bersyukur, ada sekolah Nurul Islam ini yang sangat rapi dalam penjagaan Islam anak-anak kita” Pak Sunardi menutup kisahnya. “Dari segi konsep sangat mantap. SDM gurunya juga tidak diragukan lagi perjuangannya. Cuma dari segi sarana masih butuh dukungan banyak pihak” begitu tambah Pak Sunardi.

Kemudian beliau menantang hadirin, siapa yang bersedia menemani beliau menyumbang 40 paket (1 paket = Rp. 50.000) untuk penyelesaian masjid Nurul Islam. Nah, dari tausyiah langsung masuk ‘lelang’ shodaqoh dan infaq pembangunan masjid. Tantangan pak Sunardi pun disambut hadirin. Dilihat dari banyaknya lembar kesanggupan yang dikumpul ke depan dan langsung dibacakan oleh Pak Sunardi Syahuri. 20 paket, 2 paket, 60 paket bahkan subhanallah ada yang memberi kesanggupan 200 paket.

Hanya dalam waktu 15 menit saja terkumpul kesanggupan total hingga 100 juta rupiah. Allahu akbar !

Muhammad Ariefuddin

Testimoni 10 : Sehat Itu Bukan Hanya Soal Fisik

“Dek nanti rapat lho”. Hampir setiap hari Selasa, kalimat sederhana itu masuk ke HP saya. Tapi hari itu rasanya berbeda, pesan beliau sangat menggetarkan jiwa saya. Subhanallah, Allahu Akbar ! Luar biasa semangat dakwahnya. Hati saya tergetar, tak sadar saya sudah bercucuran air mata.

Bayangkan, hari itu adalah hari pertama beliau pulang ke rumah, setelah beberapa minggu di Singapura untuk menjalani operasi besar , memotong 70 % lambung dan 30 % levernya. Baru sampai rumah, beliau sudah mengundang saya untuk rapat. Jadi bagaimana saya bisa menolaknya? Sedang beliau yang masih sangat lemah saja siap berjuang. Masa saya yang masih sehat undur dari perjuangan?

Bahkan di waktu  beliau sehat pun, pernah suatu saat pada pukul 22.00 beliau menelpon karena saya belum hadir rapat, sayapun tidak punya hujjah untuk menolak.

“Mujahid kok tidur sore”, ujarnya ketika suatu malam saya ketiduran.

Waktu itu tepat pukul 20.00 WIB, saya masuk ruang rapat. Masih kosong. Yang ada hanya Fida, putri bungsunya. Tentu saja ruang itu masih kosong, karena sudah saya umumkan melalui grup bahwa rapat diliburkan. Bahkan saya sertakan catatan agar semua meminta ijin dengan alasan masing-masing jika beliau tetap mengundang rapat. Hal ini terpaksa saya lakukan karena tahu kondisi beliau yang masih lemah, sehingga harus istirahat.

“Ustadz, sejak tadi Papa keluar masuk ruang ini. Menengok sudah ada yang datang apa belum. Saya jadi kasihan Papah capek. Sudah saya bilang agar Papa menunggu saja di rumah sambil istirahat, biar tidak capek. Fida saja yang nungguin di sini, tapi Papa nggak mau”, ujar Fida.

Ruang rapat memang berada di komplek rumah  keluarga beliau yang diberi nama Omah Ledok. Letaknya tepat di depan rumah induk, agak turun.

“Baiklah, kita ke rumah saja”, jawab saya. Saya pun naik kembali menuju ke rumah beliau. Sebentar  saja menunggu, beliaupun keluar.

“Ayuk di sana (ruang rapat)”, ajak Pak Nardi.

“Tidak di sini saja kah?” tanya saya.

“Di sana, di sana, kita kan rapat,” ujar beliau sambil menarik tangan saya.

Subhanallah. Sekali lagi saya saksikan betapa besarnya semangat dakwah beliau. Saya sadar, beliau tidak ingin saya datang untuk ‘menengok’  orang sakit yang lemah dan perlu dihibur atau dikasihani. Beliau merasa sehat untuk berjuang. Karenanya saya harus datang untuk berjuang. Melakukan rapat untuk memikirkan kemaslahatan umat, bukan datang untuk menengok orang sakit.

Saya jadi ingat  beliau pernah berkomentar untuk teman-teman yang beberapa kali tidak datang rapat, “Harokah dakwah itu sendinya musyawarah. Tanpa musyawarah tidak akan ada harokah. Jadi kalau tidak rapat, dakwah ya tidak akan jalan,” ujar beliau.

Di ruang rapat itu, kami duduk berdua.

“Dek, mungkin mereka  berpikir bahwa sehat itu hanya fisik. Manusia kan tidak hanya fisik tapi  lahir dan  batin”, pelan beliau mulai perbincangan. Suaranya masih lemah, tapi aura semangatnya terasa  sangat kuat.

“Saya ini kan sudah tiga bulan lebih tidak rapat Dek, rasanya kok muspro (tidak berguna) hidup saya”, lanjut beliau.

Jleb! Serasa seperti panah, kata-kata beliau begitu dalam menghujam ke hati. Saya hanya tertegun mendengarkan, dan tidak mampu menjawabnya. Anda mungkin juga sulit memahami situasi saya, atau memahami makna kata-katanya. Bahkan mungkin anda menganggap beliau lebay. Masa hanya tiga bulan tidak rapat saja merasa hidupnya tidak berguna? Orang lain saja ada yang sampai bertahun-tahun bahkan sepanjang hidupnya tidak pernah rapat, dan tidak merasa apa-apa. Benar-benar lebay kah?

Tapi percayalah, jika  sudah mengenal kehidupannya baru anda bisa menangkap maknanya. Karena beliau telah mewakafkan kehidupannya untuk dakwah, perjuangan fii sabililah. Dalam kehidupan normalnya, sehari beliau bisa mengisi tiga sampai lima majlis ta’lim, di tempat yang berjauhan dan tanpa imbalan “bayaran”. Bahkan beliau justru menginfakkan sejumlah uang.

Beliau memegang sejumlah jabatan penting, seperti  Ketua Dewan Da’wah Islamiyah (DDI) DIY, ketua Persatuan Djamaah Hadji Indonesia (PDHI) DIY, Pengawas Badan Wakaf UII, Pembina 7 Yayasan Pendidikan Islam Terpadu di Jogja, takmir berbagai masjid, dan lain-lain. Semuanya dijalani  serius dan tanpa “gaji”. Sehingga hampir tidak ada harinya tanpa rapat. Siang dan malam.

Semangat dakwah beliau tetap membara dalam kondisi tubuh yang semakin renta dan terkena penyakit, menjadikan hidupnya indah bagai senja yang tetap merona jingga. Semoga tabiat perjuangannya menjadi inspirasi bagi siapapun yang mengenalnya dan terus mengalirkan pahala untuknya. Amiin.

Ery Masruri

Testimoni 11 : Mudah Tidur, Mudah Bangun

Pak Nardi, demikian sapaan akrab beliau, juga dikenal sebagai sosok yang dermawan dengan membantu kegiatan dakwah keislaman, pembangunan ratusan masjid, panti asuhan, rumah sakit hingga sekolah-sekolah Islam.

Sejak muda Pak Nardi adalah sosok yang gemar berdakwah. Pernah beliau bercerita bawah di saat muda berkeliling menggunakan sepeda ke masjid dan juga majelis taklim memenuhi undanga jamaah. Seakan-akan dalam 24 jam sehari, seluruhnya dicurahkan untuk dakwah. Beliau terbiasa berangkat mengisi pengajian dari sebelum subuh dan sampai rumah di tengah malam.

Saat ditanya, apa tips Pak Nardi saat itu tetap bugar. Beliau sambil tersenyum menjawab, “Saya diberi nikmat Allah mudah tidur dan mudah bangun, istirahat 10-15 menit sudah segar kembali”.

Bagi para aktivis dakwah di Jogja, Pak Nardi tidak hanya dianggap sebagai guru tetapi juga sosok bapak yang selalu setia mendampingi dan memberi dorongan semangat perjuangan dakwah. Rumah Pak Nardi menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari dakwah keummatan di DIY, menjadi tempat berkumpul aktivis dakwah dari berbagai ormas Islam.

Pak Nardi tercatat aktif di berbagai ormas dakwah; Ketua DDII DIY, Bendahara FUI DIY, Badan Wakaf UII, PDHI dan penasehat berbagai lembaga keislaman. Meninggal dalam usia 66 tahun, amal dakwah Pak Nardi terasa melampaui batas usia yang digariskan Allah Swt. Tulisan ini pun hanya mampu mengungkap sedikit jejak dakwah beliau. Selamat jalan Bapak Ummat. Selamat bertemu Rabb-Mu wahai jiwa yang tenang. Semoga kami bisa istiqomah melanjutkan jejak perjuangan dakwahmu.

Dr. H. Sukamta @drsukamta

Testimoni 12 : Semua Saya Jual

Lautan takkan dapat digambarkan hanya dengan seciduk air tentu saja. Langit tak bisa diwakili hanya oleh secercah sinar kejora. Demikianlah kemuliaan guru kami, KH Sunardi Syahuri, juga takkan habis dibabar hanya dengan kata-kata, seberapapun banyaknya.

Tapi, mari tetap menjadi saksi kebaikannya. Tapi, mari kisahkan satu dua permatanya, untuk diwariskan pada para pejuang selanjutnya.

Ke mana orang-orang yang hendak membangun Masjid harus pergi jika biaya masih jauh dari keperluan? Pada beliau, yang di mobilnya selalu ada beras, gula, pakaian, dan bahkan bersak-sak semen untuk dibawa berceramah dan dibagikannya.

Beliaulah andalan ummat kalau hendak membangun Masjid, atau Panti Asuhan, atau apapun ‘amalut tahdhidh, mengajak-ajak menafkahkan harta. Inilah kalimat khasnya mengajak berinfaq, “Saya ini untuk nyumbang Masjid ini, apa-apa saya jual lho Pak, Bu.. Beras saya jual, sandal saya jual, baju saya jual, sampai celana dalampun saya jual! Maka monggo, saya ajak kita semua berinfak yang terbaik.”

Tentu beliau bercanda, tapi tanpa dusta, soal jual-jualan itu. Ya, di tangan istrinya tercinta, Ibunda Hj. Noor Liesnani Pamela, jejaring minimarketnya berkembang melayani berbagai kebutuhan ummat. Di situlah beliau menjual beras, sandal, hingga pakaian dalam seperti diceritakannya. Dan sekali hadir mengajak berinfaq, jutaan hingga puluhan juta keluar dari kantongnya.

Bukan. Jangan salah sangka. Bukan dengan harta semata beliau berada di hati ummat. Bertahun-tahun menjadi Ketua Dewan Dakwah di Yogyakarta, membina puluhan yayasan pendidikan dan lembaga keuangan syari’ah, membina persaudaraan haji dan ‘umrah hingga pelosok desa, membina Forum Ukhuwah Islamiyah, mengayomi para pemuda dan ormas Islam. Selalu lembut namun teguh. Selalu tegas namun teduh.

Saya selalu ingat kalimat beliau kalau memikat orang untuk memprioritaskan berhaji dan berumrah dibanding rumah atau mobil, “Saya itu Pak, Bu.. Saking terpesonanya, kalau pulang dari Haram nggak pernah bisa jalan dengan ‘ngungkurke’ (membelakangi) Ka’bah. Selalu jalan mundur. Berat sekali berpisah. Lha itu baru lihat Daleme (RumahNya) Gusti Allah, lha nanti bagaimana kita di surga, diberi kesempatan ningali langsung Gusti Allah.”

Selamat berjumpa Gusti Allah, Syaikhana KH Sunardi Syahuri. Semoga ada di antara kami yang Allah mampukan meniti jejak perjuanganmu.

Salim A. Fillah @salimafillah

Testimoni 13 : Masjid Reyot Itu

Setiap mengingat, atau ada yang menyebut nama Ustadz Sunardi Syahuri, saya selalu terbayang pada kisah masjid reyot di kampung kami. Pada pertengahan tahun 90-an saya menjadi Ketua Takmir Masjid Al-Huda Pelemkecut, Bantul, Yogyakarta. Saat itu kondisi masjid benar-benar memprihatinkan. Lantai baru disemen sebagian, belum dikeramik, atap bocor di sana-sini, dan beberapa bagian tampak reyot tak tegak.

Saya yang biasa, dan masih aktif sekali saat itu, menjadi DPL KKN UGM merasa tak enak dengan kondisi masjid kami. Mahasiswa KKN bimbingan saya sukses memperbaiki atau membangun masjid di lokasi KKN, tetapi saya, DPL-nya, menjadi takmir masjid yang kondisinya memprihatinkan.

Tergerak oleh semangat yang biasa menggelora di dada mahasiswa KKN UGM, saya mengajak takmir berembug untuk merenovasi masjid. Saya sebagai ketua, Almarhum Mas Yussi Arief sebagai wakil, Almarhum Mas Sihono Eblek sebagai sekretaris, dan Pak Saroyo sebagai bendahara sekaligus ahli gambar, lengkap dengan dukungan pengurus kampung dan teman-teman Pengurus SPA yang bberkantor di sebelah masjid sepakat untuk merenovasi masjid. Tentu, awalnya ada beberapa pihak yang meragukan rencana kami, juga rancangan yang dibuat Pak Saroyo. Namun, Alhamdulillah, intinya semua sepakat untuk merenovasi masjid kampung.

Kepanitiaan segera disusun dan sebagai ketua takmir saya sekaligus menjadi ketua panitia pembangunan/renovasi masjid. Kami berencana menggalang dana lewat pengajian akbar sekaligus peletakan batu pertama. Agar penggalangan dana lewat pengajian akbar terselenggara dan sukses, kami harus memilih ustadz atau penceramah yang tepat.

Mas Yussi Arief waktu itu mengusulkan nama Ustadz Sunardi Syahuri. Tentu saja kami langsung setuju. Kami sudah mendengar banyak kabar tentang kedahsyatan Ustadz Sunardi kalau memprovokasi jamaah untuk nyumbang bangun masjid. Masalahnya adalah bagaimana menghubungi dan meminta kesediaan Ustadz Sunardi. Waktu itu saya baru tahu bahwa ternyata Mas Yussi masih bersaudara dengan Ustadz Sunardi. Klop. Mas Yussilah yang akan melobi Ustadz Sunardi.

Saya dan Mas Sihono menyiapkan proposal dibantu penuh teman-teman SPA Pelemkecut. Pak Saroyo menyiapkan gambar dan itung-itungan kebutuhan bahan bangunan serta dananya dengan bantuan beberapa orang yang berpengalaman di bidang konstruksi. Alhamdulillah para pemuda dan pengurus kampung juga memberikan dukungan penuh. Gayung bersambut. Pak Dukuh Santren, Pak Totok Bos Yogya Chicken, Pak Suripto Bos Material, pasukan SPA, dan segenap warga “saiyek saeka kapti” kompak akan merenovasi masjid.

Begitu Ustadz Sunardi memberikan waktu, kami pun menyiapkan semua “uba rampe” untuk menyelenggarakan pengajian akbar penggalangan dana dan sekaligus peletakan batu pertama. Menjelang dimulainya pengajian, bahkan hingga selesai menyampaikan sambutan, saya benar-benar masih bingung dan ragu-ragu bagaimana kebutuhan dana dan msterial masjid akan terpenuhi. Namun, begitu Ustadz Sunardi menuju mimbar dan mulai memberikan tausyiah, sungguh saya sangat berbesar hati. Entah kenapa, saya, dan juga segenap panitia, rasanya akan mendapatkan angin surga untuk membereskan urusan renovasi masjid.

Setelah memberikan pengantar singkat yang sangat persuasif, Ustadz Sunardi langsung membuat saya dan panitia melonjak kegirangan. “Alhamdulillah ya Allah, terima kasih Engkau telah mengirimkan ustadz hebat ini untuk melancarkan jalan kami membangun rumah-Mu”, seruku dalam hati sambil “mbrambangi”.

“Pak Heru, berapa ratus juta dana yang dibutuhkan dan apa saja serta berapa jumlah material yang diperlukan untuk membangun masjid kita ini?” tanya Ustadz Nardi dari mimbar.

Saya segera menyebutkan angka rupiah dan kemudian menyerahkan proposal kepada Ustadz Nardi ke mimbar.

“Baiklah, Pak Heru, gini saja. Mari kita lelang semua material yang diperlukan. Bapak dan Ibu sekalian, kita mulai lelangnya ya”, lanjut Ustadz Nardi.

“Kita mulai dari lelang semen. Semen yang dibutuhkan adalah sekian sak. Nah, agar tidak OMDO, saya mulai ya Pak Heru. Saya lelang 50 sak, tolong dicatat ya. Ayo Bapak dan Ibu sekarang giliran panjenengan mau lelang apa dan berapa. Nanti panitia akan mencatatnya”, lanjut Ustadz Nardi.

Lewat pengantarnya yang menukik, dengan pendekatannya yang supercerdas, dengan provokasinya yang luar biasa, acara lelang kebutuhan renovasi masjid pun sukses besar. Alhamdulillah.

Sungguh tak terduga, berkat provokasi Ustadz Nardi, jamaah pengajian menjadi sangat bersemangat menyumbang. Yang terprovokasi secara positif bukan hanya jamaah yang mampu secara ekonomi, tetapi juga yang sebenarnya  belum begitu berkecukupan. Ladang amal yang dibuka Ustadz Nardi segera bertabur  benih. Ada jamaah yang nyumbang semen, batu, pasir, kayu, eternit, paku, dan seterusnya. Pendeknya, saat itu panitia sudah yakin bahwa renovasi masjid pasti akan berjalan lancar. Aamiin.

Alhamdulillah, terima kasih Ustadz Nardi atas segala bantuan yang Ustadz berikan untuk kami dan untuk umat manusia.  Berkat bantuan Ustadz Nardi dan segenap jamaah, akhirnya kami benar-benar mewujudkan mimpi memiliki masjid yang layak. Renovasi masjid berjalan lancar berkat bantuan banyak pihak dan sekarang tak ada lagi masjid kampung kami yang reyot. Bahkan, oleh pengurus berikutnya masjid itu sekarang telah dikembangkan menjadi 2 lantai dengan tampilan yang lebih apik serta sarana prasarana yang lebih lengkap.

Kisah inilah yang membuat kami, jamaah Masjid Al-Huda Pelemkecut, khususnya generasi yang aktif pertengahan tahun 90-an, tak akan pernah bisa melupakan jasa dan kebaikan Ustadz Nardi. Beliau tidak hanya ‘tidak mau’ diberi honor ceramah, tetapi juga, bahkan, selalu menjadi penyumbang pertama dalam banyak acara pembangunan masjid kami yang menghadirkannya sebagai penceramah.

Selamat jalan Ustadz Sunardi. Kami bersaksi engkau orang baik. Semoga lancar perjalananmu menghadap Allah SWT dan semoga engkau kembali ke haribaan-Nya dengan husnul khatimah. Amin amin amin YRA.

Heru Marwata @heru_marwata

Testimoni 14 : Dari Ujung Panggang Hingga Ujung Rongkop

Mendung duka bergelayut menyelimuti kota Jogja. Wajah-wajah murung mengantar kereta kencana beroda manusia berjalan perlahan menuju pusara. Baru hari ini, jutaan orang-orang sholeh berjejal memadati setiap jengkal tanah dan trotoar untuk membuktikan cinta dan hormat pada seorang alim nan bersahaja yang telah berpulang keharibaanNya.

Mata tak berkedip, di hati gemuruh tangis sesak menghimpit dada menahan kerinduan dan mengenang berjuta kebaikan yang terus mengalir disungai kehidupan. Pak Nardi, selamat jalan.

Ijinkan aku mengenang kebaikan beliau dipanggung dakwah yang indah. Saat itu aku masih anak SMA kelas 3, yang sedang belajar alif, menghafal rukun sholat dan melukis wajah-wajah pemberani. Merupakan rezeki yang tak terhingga nilai harganya karena aku dikenalkan oleh pak Iskanto AR dengan ustadz Sunardi Syahuri yang akrab dipanggil pak Nardi. Sejak itulah aku sering ditimbali ke rumah beliau untuk membicarakan dakwah khususnya di kecamatan Tepus.

Sudah dimaklumi daerah Gunungkidul terutama sektor selatan menjadi target pemurtadan. Banyak orang islam yang menukar aqidahnya dengan beras, pakaian dan sarimi. Kondisi inilah yang membuat hati terasa pedih teriris-iris.

Melihat kondisi kampung yang waktu itu banyak yang belum punya masjid, maka beliau mendesain dakwahnya dengan membangun peradaban berbasis masjid. Masjid sebagai tempat penguatan aqidah. Masjid sebagai penanaman nilai-nilai keislaman. Masjid sebagai perekat uhuwwah. Masjid sebagai sarana penggerak ekonomi
Dan masjid sebagai benteng keimanan.

Untuk mewujudkan pembangunan masjid beliau mengajak bergandeng tangan dengan semua warga untuk bahu membahu dan kerja sama tanpa memandang kekayaan dan status sosisl. Yang kaya yang miskin, yang sudah sholat maupun yang belum sholat semua dirangkul jadi satu.

Yang luar biasa dan sulit diikuti oleh yang lainnya adalah beliau berdakwah tidak mau menerima amplop bahkan sebaliknya setiap mengisi pengajian/berdawah beliau tanya kepada yang mengundang apa yang dibutuhkan jama’ah?

Maasyaa Allah, jika kita lihat sekarang ini semua kampung di seluruh Gunungkidul sudah memiliki masjid. Sungguh, semua ini tak lepas dari ihtiar pak Nardi yang mendesain dakwah dengan menyadarkan umat untuk barshof-shof bersama di barisan dakwah dan menjadikan masjid sebagai basis pendadaran aqidah.

Dari ujung Panggang sampai ujung Rongkop tak terhitung berapa jumlah masjid yang beliau dirikan. Semoga menjadi jariah yang tak henti mengalirkan pahala untuk guru kita pak Nardi.

Kak Risdy, Gunungkidul

Testimoni 15 : Ndherek Pak Nardi

Sekitar tahun 1999, saya tinggal di kota Jogja, saya menjadi pegiat pengajian kampung di wilayah kota Jogja. Rumah kami di kawasan Warungboto, hanya berjarak kurang dari 1 km dengan kediaman ust. Sunardi Syahuri. Beberapa kali saya sowan, meminta beliau mengisi pengajian. Subhanallah, nama besar tidak membuat beliau memilih-milih forum saat menerima permintaan ceramah.

“Ustadz, nanti tindak sendiri atau dijemput?” tanya saya dengan lugu. Padahal kalau beliau minta dijemput, paling saya akan minta tolong suami untuk menjemput cuma dengan motor butut.

“Dijemput!” jawab ustadz Sunardi dengan mantap, yang membuat saya agak ‘njomblak.’

“Syaratnya, jemput dengan sepurr!” lanjut beliau. Whahaha… beliau tertawa renyah melihat muka saya. Jadinya saya ikut tertawa. Begitulah candaan beliau. Tentu tak ada kereta api sampai lokasi taklim. Artinya beliau akan hadir sendiri tak perlu penjemputan. Kesungguhan, keikhlasan, tanpa jarak dengan semua kalangan, itulah diantara karakter beliau.

Lalu saat saya sudah pindah rumah di daerah Bantul, beliau sempat hadir di acara tabligh akbar penggalangan dana untuk pembangunan Paud Aisyah, persis di samping rumah kami. Sayangnya weekend kami sedang beredar entah dimana, hanya mendapat cerita bahwa jama’ah membludag memenuhi halaman rumah kami.

“Nderek pak Nardi” demikian embah-embah di kampung kami menyebut beliau dengan bangga.

“Mbenjang Ahad nderek pak Nardi teng Kilen Pragi,” kata embah langganan pijat sembari memijatku.

“Kulo ajeng tilik mesjid kulo…”

Jadi kisahnya, ustadz Sunardi adalah pegiat wakaf sarana ibadah dan sarana pendidikan. Entah berapa masjid dan berapa sekolah yang beliau menjadi kontributor dalam pengadaan dan pembangunan. Naah para embah di kampungku ikut menyumbang salah satu masjid di kawasan Kulon Progo. Mereka bahagia ikut berwakaf barang 1 meter, bahkan dengan mencicil beberapa kali. Setelah bangunan masjid berdiri dan diresmikan, panitia akan mengundang ust. Sunardi lagi dan begitulah para pewakaf ikut hadir menyaksikan masjid sudah berdiri.

“Saya nunut sak daplangan,” begitu kata-kata sederhana beliau yang masuk logika orang kecil, “Besok bisa cukup untuk berbaring sama bu Pamella.”

Beliau mengikrarkan di depan jamaah, beliau berwakaf beberapa meter untuk punya kapling berdua di akhirat dengan bu Pamella, istri beliau. Padahal apa yang beliau sumbangkan jauh lebih banyak dari itu. Namun perumpamaan ‘sak daplangan’ itu membuat masyarakat kecil merasa bersemangat bahwa wakaf barang semeter dua meter insya Allah menjadi tabungan akhirat.

Mungkin ribuan bahkan jutaan orang yang tergerak berwakaf termotivasi oleh beliau.

Hari ini —Senin 12 November 2018— Jogjakarta berduka, ribuan orang bertakziyah, menyolatkan dan menangis mengiringi kepergian beliau. Berduyun pengantar jenazah dari berbagai kalangan long march dari masjid tempat disemayamkan hingga pemakaman yang berjarak cukup jauh. Berduyun seperti jamaah manusia yang terbuka hati oleh ceramah beliau.

Ayahanda, semoga kami dapat merawat amanahmu, meneruskan perjuanganmu dan menjaga persatuan umat sebagaimana yang engkau contohkan selama ini. Ayahanda, kami semua menangis. Bukan menangisi kepergianmu, sebab kami yakin engkau pergi dengan tersenyum untuk bertemu Rabbmu dengan membawa seluruh amal sholih yang sulit kami kejar.

Kami menangisi diri kami sendiri yang tak jua bisa meniru kebaikanmu. Kami menangisi dakwah yang kehilangan salah satu batu bata penting. Akankah kami bisa menggantikanmu?

Ida Nurlaila @ida_1912

Testimoni 16 : Semua Mencintai Pak Nardi 

Hari ini kita semuanya menyaksikan betapa banyak masyarakat yang ingin menyolatkan beliau, KH. Sunardi Syahuri. Tak pernah putus, sambung menyambung dalam sholat berjamaah, bahkan hingga membludak ke luar masjid. Semuanya ingin memberikan penghormatan terakhir berupa sholat jenazah. Ya, ketika seorang anak Adam tak lagi bernyawa, maka siapapun ia akan disholatkan.

Hari ini kita semuanya menyaksikan betapa banyak khalayak yang ingin mengiringi almarhum pak Nardi ke tempat peristirahatan terakhir, yaitu makam. Betapa banyak manusia yang mengikuti dan mengantarkan almarhum, sungguh tak berbilang. Beliau almarhum adalah pemersatu umat. Tak pandang bulu, kedudukan, semuanya dirangkul beliau.

Hari ini kita semuanya menyaksikan dan mendengar kalimat thayyibah dikumandangkan dengan lantangnya. Laa ilaha illaLlah bergema di sepanjang rumah almarhum pak Nardi hingga makam di Masjid Pathok Negara Ad Darojat. Laa ilaha illaLlah, tiada tuhan selain Allah. Adakah kalimat lain yang diucapkan pada pemakaman selain Laa ilaha illaLlah?

Tak cukup kata untuk merangkum segala kebaikan beliau. Tak cukup abjad untuk merangkai keshalihan beliau. Sebuah uswatun hasanah yang menjelma nyata, teladan dalam semua sendi kebaikan, serta pabrik amal jariyah yang sejati. Tak berbilang lembaga pendidikan, dakwah, masjid, dan lembaga sosial yang diinisiasi oleh almarhum pak Nardi.

Dan hari ini, 12 November 2018, menjadi saksi semua amal kebaikan beliau. Sugeng tindak, pak Nardi. Surga Allah seluas langit dan bumi menantimu.

Ika Hilal @ikahilal

 

Bersambung.

Cahyadi Takariawan

Cahyadi Takariawan telah menulis lebih dari 50 judul buku yang sebagian besarnya bertema keluarga. Aktivitasnya saat ini selain menulis adalah menjadi narasumber dalam berbagai seminar dan pelatihan di dalam dan luar negeri. Mendirikan Jogja Family Center (JFC) pada tahun 2000 sebagai kontribusi untuk mengokohkan keluarga Indonesia. Kini JFC bermetamorfosis menjadi Wonderful Family Institute. Beliau dapat diakses melalui Instagram @cahyadi_takariawan

Tinggalkan Balasan