Sunardi Syahuri 3 : Tak Bermedsos, Namun Sangat Banyak Followers dan Likers

Sunardi Syahuri 3 : Tak Bermedsos, Namun Sangat Banyak Followers dan Likers

Oleh : Cahyadi Takariawan

 

 

Pada postingan pertama dan kedua, telah saya sampaikan delapan belas testimoni warga masyarakat tentang sosok KH. Sunardi Syahuri. Beliau benar-benar sosok yang sangat inspiratif. Teramat sangat banyak hal positif dari beliau. Kita tidak menjumpai beliau di medsos, namun akan menjumpai beliau di tengah-tengah umat. Beliau beredar setiap saat, seakan tidak memiliki waktu untuk update status fesbuk, instagram, youtube atau twitter. Beliau bukan “ahli medsos”, beliau bukan “kyai medsos”, beliau bukan “aktivis medsos”. Namun beliau adalah pegiat dakwah yang selalu hadir di tengah masyarakat.

Berbagai “gelar” disematkan oleh warga masyarakat —offline maupun online— terhadap beliau. Saya cermati, netizen memberikan beberapa “gelar” untuk menyebut dan mengenang Pakde Nardi, diantaranya seperti ini: Bapaknya Para Aktivis Dakwah, Tokoh Pemersatu Umat Islam Yogyakarta, Ulama yang Pengusaha Sukses, Muballigh yang Dermawan, Murah Senyum Namun Tegas, Ayah Bagi Anak Yatim, bahkan Pejuang Perlawanan Pendangkalan Akidah. Masih banyak lagi sematan gelar untuk sosok yang satu ini.

Semua sematan gelar tersebut tentu tidak asal sebut. Bagi yang mengenal pribadi beliau, akan mendapatkan kesimpulan, bahwa semua gelar tersebut adalah benar adanya. Pakde Nardi benar-benar sosok yang tidak bisa diam menganggur. Beliau aktif, dinamis, kreatif, dan powerfull untuk menunaikan dakwah Islam. Tak ada waktu nganggur, tak ada kegiatan sia-sia, semua waktu beliau adalah waktu dakwah. Semua hidup beliau adalah hidup dakwah. Semua nafas beliau adalah nafas dakwah.

Maka walau tak memiliki followers dan likers di twitter, facebook, youtube, instagram ataupun berbagai fitur medsos lainnya, namun memiliki sangat banyak followers dan likers di dunia nyata. Kita menyaksikan berpuluh ribu warga melayat ke rumah duka, dan mengantar hingga pemakaman. Itulah follower dan liker di dunia nyata, yang nyata-nyata mencintai beliau. Lahir batin. Tidak seperti para pihak yang suka basa-basi meng-klik “like” di postingan medsos para seleb, namun followers dan likers Pakde Nardi sungguh-sungguh hadir dengan jiwa raga.

Berikut saya tambahkan lagi beberapa testimoni dari warga masyarakat, termasuk cuplikan berita di media online, yang semakin mengungkap jati diri beliau.

Testimoni 17 : Nasehat Tak Bertepi

Tetiba kenangan 21 tahun silam melayar di ingatanku. Guru yang rendah hati itu menyambut penuh antusias rencana penelitian skripsiku bertajuk Pelatihan Penghayatan Al Qur’an untuk Meningkatkan Kebermaknaan Hidup Mahasiswa.  Penerimaan beliau hadirkan diskusi-diskusi untuk penyempurnaan modul pelatihan, kehadiran beliau yg sepenuh keberadaan saat penelitian sungguh meneguhkan arti belajarku, tak ingin dijemput, tak hendak diantar, tak berbayar.

Melayar ingatan tentang ruang belajar di Al-Muhtadin, Muallaf Center. Entah berapa banyak jiwa-jiwa yang telah kembali ke dalam pangkuan fitrah, menghangat dalam dekapan kalimat Tauhid bersama bimbingan beliau.. Sampai hari ini, setiap kali melintas perjalanan dari rumah ke UIN Jogja, dan melewati gedung yg lebih tepat disebut rumah yang menyimpan energi kasih sayang seorang Guru bagi umat, ada yang mengalun di sudut hati, hangat.

Melayar ingatan tentang begitu sering nama beliau terdengar pada banyak  momen peletakan batu pertama pesantren, sekolah Islam, masjid dan sarana umat lainnya. Menjadi sosok penggalang dana umat untuk mencerdaskan dan memberdayakan umat. Merawat dakwah dari sudut-sudut kota hingga pelosok desa. Membimbing umat melalui berbagai lembaga Islam pemersatu ukhuwah.

Melayar ingatan tentang sosok pendamping beliau, Ibu Pamella, yg namanya hangat dan dekat di hati umat, karena menjadi jalan sangga perekonomian umat melalui 8 supermarket (Pamella group) dan berbagai unit bisnis lain yg menjadi detak nadi jihad harta dalam menyokong juang dakwah.

Melayar ingatan… Melayar ingatan… dan biarkan terus melayar… Terus terhubung dengan makna terindah dari perjuangan Sang Mujahid Dakwah… Selamat jalan guru kami, kepergianmu menyimpan nasihat tak bertepi, meski sederhana, izinkan kami meneladani, meski hanya seujung, setepi…

Pihasniwati @pihasniwati

Testimoni 18 : Begitu Besar Cintanya Kepada Allah, Umatpun Mencintainya

Meski sudah beberapa waktu lalu mendengar Ust. Sunardi Syahuri sakit dan dirawat di rumah sakit, dengan kondisi tubuh yang semakin melemah sampai akhirnya harus dirawat di ruang ICU, namun ketika mendengar kabar wafatnya beliau, tetap saja ada rasa kaget yang diikuti rasa duka mendalam. Sebelum mendengar kabar wafatnya, selalu ada harapan bahwa Alloh yang Maha Kuasa, berkenan memberi ‘mukjizat’ dengan menganugerahi kesembuhan kepada beliau, kembali sehat wal afiat dan kembali menyapa umat lewat pengajian dan ceramah-ceramah yang disampaikannya.

Yaa, akhirnya kabar duka itu datang. Walau sudah dapat infonya dari begitu banyak grup WA, namun ketika bada sholat jamaah Maghrib di masjid, imam masjid menyampaikan berita duka wafatnya ust. Sunardi Syahuri dan meminta jamaah untuk mendoakan beliau,  masih saja ada rasa berat dan kehilangan yang sangat di hati.

Masjid kami adalah masjid kampung yang jauh letaknya dari rumah kediaman ust Sunardi, namun jamaah masjid ini sangat merasakan betapa ust Sunardi punya jasa yang cukup besar, terutama ketika masjid ini mau direnovasi pada tahun 2013 yang lalu. Waktu itu Panitia renovasi masjid sepakat mengundang ust Sunardi untuk memberikan ceramah tentang pentingnya memakmurkan masjid, yang dilanjutkan dengan  penggalangan dana.

Seperti biasa, Ust Sunardi sangat ringan dan bahkan antusias untuk memenuhi permintaan ceramah dan penggalangan dana ini. Pada hari yang sudah ditentukan, beliaupun ceramah di masjid kami, materi yang mengena, bernas disertai guyonan yang segar, dilanjutkan dengan penggalangan dana. Diawali oleh beliau sendiri yang menyumbangkan cukup besar dana sedekahnya. Alhamdulillah penggalangan dana renovasi masjid yg dipimpin oleh Ust Sunardi malam itu sangat sukses dan dana kesanggupan dari jamaah untuk renovasi masjid terkumpul banyak. Tidak menunggu waktu lama, renovasi masjid pun segera dimulai dan kini masjid yang cukup megah telah berdiri di kampung kami.

Begitu piawai ust Sunardi  memberikan ceramah yang dilanjutkan penggalangan dana untuk pembangunan masjid, sekolah-sekolah Islam, panti asuhan dan pesantren. Dari ceramahnya, begitu banyak orang yang tersentuh dan tergerak hatinya, yang kemudian mau menyumbangkan sebagian hartanya untuk pembangunan masjid atau sarana dakwah Islam yang lainnya.

Terasa sekali, pada sisi inilah banyak orang yang merasa kehilangan atas wafatnya beliau. Kira-kira siapa yang bisa menggantikan beliau dalam hal ini, kepada siapa lagi panitia pembangunan masjid, sekolah Islam dan lainnya meminta bantuan Ustadz/mubaligh/penceramah yang bisa memberikan ceramah yang mengena dan dilanjut dengan memimpin penggalangan dana?

Setelah mendengar kabar wafatnya beliau, ada tekad yang kuat untuk bisa takziyah memberikan penghormatan, sholat jenazah dan doa untuk beliau, di rumah duka. Karena pagi masih ada keperluan yang harus diselesaikan, maka saya dan suami beserta beberapa ibu-ibu jamaah masjid, sepakat untuk pergi takziyah sekira dhuhur sampe di rumah duka. Harapannya bisa ikut jamaah sholat dhuhur lanjut jamaah sholat jenazah dan mengikuti acara penghormatan terakhir sebelum dimakamkan.

Namun ternyata, beberapa ratus meter sebelum sampai rumah duka, jalanan sudah penuh oleh para pentakziyah. Kamipun harus memarkir mobil di tempat yang cukup jauh lalu jalan kaki menuju rumah duka. Pinginnya kami langsung ke masjid sebelah rumah duka utk bisa ikuti sholat jamaah dhuhur dan sholat jenazah disana, tapi ternyata masjid dan pelataran rumah beliau sudah penuh.

Rombongan kami dan para pentakziah yang baru hadir, dipersilahkan untuk menunggu di pinggir jalan saja dan menyaksikan iringan jenazah menuju ke pemakaman. Karena sejak awal kami berniat bisa menyolatkan jenazah secara langsung, maka kamipun mencari cara gimana biar niat itu kesampaian, dan rombongan kamipun putar haluan untuk langsung menuju masjid ad-Darojat, masjid yang terletak disamping komplek pemakaman dimana ust Sunardi akan dimakamkan. Letaknya sekitar 1.5 km dari rumah duka.

Kami serombongan segera pergi ke masjid ad-Darojat. Sampai disana, sudah penuh sesak juga oleh para pentakziah. Mungkin mereka berfikir sama seperti kami, tidak bisa mensholatkan jenazah di masjid samping rumah duka, ya mensholatkan jenazah di masjid dekat pemakaman. Alhamdulillah kami bisa dapat tempat sedikit untuk  melaksanakan sholat dhuhur di masjid ad-Darojat.

Usai sholat dhuhur, sudah ada info bahwa jenazah sudah hampir sampe di masjid ad-Darojat. Alhamdulillah, Alloh kabulkan niat kami untuk bisa mensholatkan jenazah secara langsung beliau ust Sunardi Syahuri di masjid ad-Darojat,  berjamaah dengan para pentakziah yang lain.

Sepulang dari takziyah, tetangga kami, seorang ibu langsung minta cerita bagaimana prosesi pemakaman ust Sunardi. Ibu tetangga kami itu bahkan sampe menangis, sedih karena tidak bisa takziyah padahal sangat ingin sekali berangkat. Ibu tersebut tidak bisa meninggalkan suaminya yang sakit, sendirian di rumah.

Ibu tetangga kami itu cerita bahwa masih sangat ingat dan terngiang akan perhatian dan ringannya hati ust Sunardi dalam membantu beliau. Waktu itu tahun 2004, saat ibu tetangga kami dan suaminya mau pergi haji. Mereka sangat ingin ikut bimbingan haji Multazam milik ust Sunardi, tapi belum punya uang untuk membayar ongkos bimbingannya. Uang yang dicadangkan baru akan turun bulan berikutnya.

Ibu tetangga kamipun matur pada ust Sunardi tentang hal ini. Dan dengan ringannya, Ust Sunardi bilang “Tidak apa-apa Bu, monggo langsung ikut bimbinganl hajinya, masalah pembayaran gampang”. Bahkan Ust Sunardi menawarkan pinjaman uang untuk bisa dipakai memenuhi keperluan persiapan haji dari ibu tetangga kami itu. Sampe beberapa hari Ust Sunardi ketemu ibu tetangga kami, masih ingat dan nawari, “Bagaimana Bu, jadi mau pake uang saya dulu?”

Masya Allah, dari ribuan pentakziah yang datang ke rumah duka (tanpa ada yang memobilisasi dan memfasilitasi) ternyata masih ada dan mungkin banyak juga, orang yang sebenarnya sangat ingin datang takziyah, namun karena satu dan lain hal akhirnya tidak bisa datang ke rumah duka. Hanya sholat ghaib dan doa dari jauh, seperti yang dilakukan ibu tetangga kami itu.

Benarlah apa yang dikatakan Yahya bin Mu’adz Rahimahulloh, “Sesuai dengan kadar rasa cintamu kepada Allah, begitu pulalah rasa cinta makhluk padamu. Sesuai dengan kadar kesibukanmu untuk Allah, begitu pula kesibukan makhluk untuk menyelesaikan urusanmu.

Ustadz Sunardi Syahuri begitu besar cintanya pada Allah, maka Allah pun menggerakkan hati makhluk untuk mencintainya.

Umi Munawiroh

Testimoni 19 : Bapaknya Para Aktivis Dakwah

Sebutan “Bapaknya para aktivis dakwah”, kepada Allahuyarham KH. Sunardi Syahuri saya kira tidak berlebihan. Saya adalah salah satu saksi dan pelakunya. Dalam banyak perjumpaan (sepanjang pengalaman saya), agenda utama kami adalah dalam rangka “mengeluh” kepada beliau, minta bantuan, minta ini itu atau minta dicarikan solusi. Dan ternyata, banyak kisah serupa yang saya dengar, soal pendirian masjid, lembaga pendidikan, pondok pesantren, masalah Kristenisasi di Yogyakarta dan sekitarnya, yang melibatkan campur tangan beliau.

Jika ada permasalahan atau gangguan di lapangan dakwah, tak segan segan beliau turun tangan ke lapangan, ikut rapat dan bersikap tegas, bahkan akan meladeni hingga ke proses Pengadilan sekalipun. Saya mendengar nama beliau di Jogja sejak masih mahasiswa di era awal tahun 80 an, tapi saya menyimak “pengajian” pertama beliau justru di Jakarta, saat beliau menjadi khotib sholat jumat di Masjid Dewan Dakwah (DDII) Jl, Raya Matraman Jakarta.

Selanjutnya di beberapa peristiwa telah mempertemukan kami dengan beliau. Salah satu ciri khas beliau yang saya ingat, saat mengisi pengajian adalah, setelah salam pembuka “Assalamu’alaikum”, langsung pada materi kajian, tidak pakai “basa basi” pembuka, ta’aruf, pemanasan forum, metode ice breaking atau semacamnya. Saya menilai, beliau termasuk salah satu pembicara yang bagus, jelas vokalnya dengan nada berwibawa, baik dalam menggunakan diksi dan gaya bahasa, kalimatnya tertib meski dengan intonasi naik turun dan penguasaan forum dengan retorika yang memikat.

Karena jadwal beliau sangat padat mengisi pengajian hingga ke pelosok desa di DIY, konon sehari bisa tiga tempat, dan berangkat sendiri “tidak kerso” penjemputan panitya, maka salah satu joke yang saya ingat adalah : “Monggo pengajiannya mau dimulai jam pinten terserah saja, pokoknya jam 9 aku kudu mulih (saya harus pulang)”. Hahaa itu mungkin kritik kepada kita, di mana mana mulai pengajian selalu molor waktunya. Undangan ba’da isya jam 19.30, Pak Nardi sudah rawuh, tapi jam 20.00 lewat pengajian belum juga dimulai.

Alhamdulillah, kami termasuk mengenal baik dengan almarhum KH Sunardi Syahuri dan khususnya isteri saya kepada ibunda Hj. Noor Liesnani Pamela, isteri beliau. Sekitar tiga minggu sebelum beliau dipanggil menghadap ke hadirat Allah swt, saya dan isteri sempat menengok beliau dirawat di JIH.

“Oh mas Boedi”, saya mendengar dari lisan beliau, nama saya disebut, ketika menatap wajah saya, saat tangan beliau saya pegang. Padahal lama tidak bertemu dan dalam keadaan lemah tergolek di ranjang. Menurut isteri saya “Pak Nardi adalah sosok yang selalu memuliakan orang yang dikenalnya”. Kami menengok ke JIH setelah istri saya mendapat kepastian dari Ibu Hj. Noor Liesnani Pamela, saat bertemu dan berbincang dalam event “Jogja Halal Fest” di JEC sebelumnya. “Bapak boleh ditengok di JIH”, kata beliau.

Selama di ruang rawat JIH, isteri saya malah banyak diajak bercanda oleh almarhum, dan Bu Nardi hanya senyum senyum mendengarnya, dari soal aneka kuliner, mau pesan “tengkleng”, hingga bercanda soal kematian. Seolah merasa kematian sudah di hadapannya dan beliau siap menyambutnya. Saya menyaksikan kebahagiaan terpancar di wajah beliau saat itu. Seorang hamba yang ridho dengan keadaannya. Saya teringat kisah Nabi Ayub as, “Yaa Allah, jika sakitku ini dalam keridhoan-Mu, maka akupun ridho kepada-Mu.”

Sebelum kami pamit, kami minta didoakan agar kami bisa mendidik anak anak kami, kemudian Bu Nardi minta agar kami mendoakan Pak Nardi. Sebelum kami keluar dari pintu, Bu Hj. Noor Liesnani Pamela alias Bu Nardi memeluk pundak istri saya dan berbisik : “Dah, Bapak disenang-senangkan saja, dituruti apa kemauannya”.

Selamat jalan guru dan teladan kami, semoga Allah melapangkan alam kuburmu, diampuni dosa dosanya dan dimasukkan ke dalam surga-Nya. Aamiin.

Boedi Dewantoro

Testimoni 20 : Ulama yang Pengusaha

Masyarakat Yogyakarta tengah berduka. Sosok ulama panutan, KH Sunardi Syahuri, telah meninggal pada Minggu, 11 November 2018. Sunardi kerap mengisi ceramah di sejumlah masjid dan majelis pengajian di sekitar Daerah Istimewa Yogyakarta. Kiprahnya di dunia dakwah tidak diragukan lagi. Dia bahkan dikenal sebagai sosok yang mampu mempersatukan umat Islam Yogyakarta, sekaligus guru bagi para aktivis dakwah.

Semasa hidup, Sunardi tidak hanya mengisi aktivitasnya dengan pengajian. Dia mengampu sejumlah jabatan tertentu seperti Ketua Dewan Dakwah Yogyakarta, Ketua Persatuan Djamaah  Hadji Indonesia (PDHI) Yogyakarta, serta pembina sejumlah yayasan pendidikan Islam. Sunardi menjalani seluruh tugas tersebut tanpa gaji. Dia bahkan tidak mau menerima upah atas amanat yang diembannya.

Selain sebagai seorang pendakwah, Sunardi juga dikenal sebagai seorang pengusaha sukses. Dia bersama istrinya, Noor Liesnani Pamella, merupakan pemilik jaringan retail terkemuka di Yogyakarta, Pamella Swalayan. Retail ini berdiri pada 1975 di atas lahan seluas 5×5 meter di Jalan Kusumanegara. Berbekal kerja keras dan keyakinan, Pamella menjelma menjadi raksasa retail di Kota Pelajar.

Saat ini, Pamella Swalayan telah memiliki tujuh gerai yang tersebar di Yogyakarta dan Sleman. Retail ini mampu bertahan di tengah persaingan cukup ketat dengan pemain skala lokal maupun nasional.

https://www.dream.co.id, Senin, 12 November 2018, Sunardi Syahuri, Sosok Ulama Sekaligus Usahawan Sukses

Testimoni 21 : Pejuang Perlawanan Pendangkalan Akidah

Selamat jalan Ayahanda kami KH. Sunardi Syahuri. Tak terhitung berapa banyaknya engkau memberikan contoh kebaikan, kedermawanan, serta loyalitas terhadap Islam dan Muslimin ini. Kami kenal engkau sosok santun nan bersahaja, peduli terhadap Muallaf dan sosok diri pejuang perlawanan untuk pendangkalan Akidah.

Beliau di mata kami adalah sosok yang baik nan sholih. Pengusaha kaya bukan karena keserakahan kepada dunia, tetapi lantaran keimanan dan ketakwaan kepada Allah Azza Wa Jalla, beliau Kuat fisiknya, kuat hartanya, kuat ilmunya dan membuat umat kafir segan terhadapnya. Sosok bagaikan lentera  petunjuk yang muncul dari setiap bumi yang gelap.

Sunan Ibnu Majah 3979: Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang baik lagi bertakwa dan tidak dikenal, yaitu orang-orang yang apabila menghilang maka mereka tidak dicari-cari, dan jika mereka hadir maka mereka tidak di kenal, hati mereka ibarat lentera-lentera petunjuk yang muncul dari setiap bumi yang gelap.”

Kami yakin Allah mencintainya, kami menyaksikan ribuan muslimin hadir untuk mensholatkannya dan menghantarkan ke peristirahatan terakhirnya.

Shahih Bukhari 6931: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Allah Tabaraka wa Ta’ala jika mencintai seseorang, Ia memanggil Jibril ‘Sesungguhnya Allah mencintai si fulan maka cintailah dia, sehingga Jibril pun mencintainya. Kemudian Jibril memanggil seluruh penghuni langit seraya berseru, ‘Sesungguhnya Allah mencintai si fulan maka cintailah dia, maka penghuni langit pun mencintainya, sehingga orang tersebut diterima oleh penduduk bumi.”

Selamat jalan Ayahanda kami (AllahuYarham) KH Sunardi Syahuri, semoga Allah memberikan tempat terbaik di sana, dan semoga kelak kita dikumpulkan kembali di JannahNya. Aamiin.

Tim @mualafcenteryogyakarta

Testimoni 22 : Ustadz Harus Memberi Contoh Nyata

Saat ibunda KH. Sunardi Syahuri wafat, saya bersama beberapa teman takziyah ke rumah beliau dan kami sempat mengobrol dengan beliau. Salah satu teman yang ikut rombongan takziyah tersebut adalah adalah ustadz Khudori, Lc. Ketika kami berpamitan untuk pulang, ustadz Khudori dipanggil beliau untuk diajak berbicara khusus. Ternyata ustadz Khudori dimintai tolong menggantikan beliau ceramah, untuk sebuah acara Tabligh Akbar di Purworejo.

Tabligh Akbar tersebut digelar dalam rangka mengumpulkan dana pembangunan masjid, karena inilah yang menjadi salah satu “spesialisasi” dan “keahlian” Pak Nardi. Beliau sangat ahli untuk mengajak jama’ah mengumpulkan dana untuk pembangunan masjid, pesantren maupun sekolah Islam. Namun karena masih dalam suasana berduka, Pak Nardi mewakilkan tugas tersebut kepada ustadz Khudori. Ini bentuk tanggung jawab beliau terhadap kesanggupan yang telah beliau sepakati bersama pihak panitia.

Mendapat tugas mulia tersebut, dengan berat hati, ustadz Khudori pun menyanggupinya. Mengapa berat hati? Karena tentu tidak mudah menggantikan sosok kharismatik yang sangat dicintai ummat seperti KH. Sunardi Syahuri. Siapapun yang menggantikan, berpotensi mengecewakan jama’ah yang menunggu kehadiran beliau. Namun karena amanah langsung dari beliau, maka dilaksanakan juga oleh ustadz Khudori.

Sembari memberikan tugas tersebut, Pak Nardi menitipkan sejumlah uang melalui ustadz Khudori untuk diberikan kepada Panitia Pembangunan Masjid. Biasanya, dana seperti itu selalu beliau bawa sendiri untuk mengajak dan memancing jama’ah agar menyumbangkan dana bagi pembangunan masjid. Beliau bukan hanya menyuruh hadirin untuk menyumbang, namun beliau selalu memberi contoh terdepan dalam menyumbangkan sebagian dana beliau.

Pesan beliau, “Ustadz itu harus memberi contoh. Jika menganjurkan jama’ah untuk infak, ya ia harus memberi contoh berinfak”. Jleb. Ini sebuah pesan yang sangat bermakna bagi kita semua. Jangan hanya bisa mengajak dan menyuruh orang lain melakukan kebaikan. Namun harus bisa memberikan contoh keteladanan.

Bukan hanya menitip sejumlah uang untuk Panitia, Pak Nardi masih meminta sopirnya untuk mengantar ustadz Khudori ke Purworejo dengan mobil beliau. Benar-benar sebuah keteladanan yang nyata.

M. Darul Falah

Testimoni 23 : Memikirkan Orang Banyak

Siapa yang tak mengenal Pak Nardi? Seorang da’i yang sangat dermawan, yang mendesain kerangka dakwah terutama di daerah rawan pemurtadan. Bukan hanya satu daerah tetapi hampir setiap pelosok dusun, pinggiran pantai dan gunung jejak dakwahnya begitu jelas terasa. Bukan hanya di Gunungkidul dan Kulon Progo, bahkan sampai Klaten, Magelang, Temanggung, Ponorogo dan tempat lain yang tentu penulis tidak tahu.

Inilah da’i “aneh” yang ceramah tidak dibayar, justru membawakan apa yang dibutuhkan jama’ah, seperti air, beras, baju, sarung, mukena, bahkan sampai pasir dan semen. Inilah da’i yang “aneh” yang merangkul bukan memukul, mengajak bukan mengejek, dan menasehati bukan mencaci. Inilah dai “aneh”, yang saking anehnya saat berpulang kerahmatullah dihadiri petakziah yang angat aneh dengan jumlah jutaan umat melebihi pejabat negara. Ibarat lautan yang membentang tak mampu kedermawanan beliau saya ungkapkan lewat sepercik kata.

“Ya wajarlah kalau pak Nardi dermawan kan orang kaya,” sahut anak muda yang sejak tadi asyik ngrumpi di angkringan taman kuliner Wonosari menimpali dua sahabatnya yang membicarakan kedermawanan pak Nardi. Iya ya, benar juga tuh…..orang kaya yang dermawan memang harus begitu.

Nah, sahabatku, nilah sisi lain yang akan saya ceritakan. Sore itu sekitar tahun 1993 saya silaturahim untuk meminta beliau mengisi tabligh akbar di pantai Baron. Setelah semua urusan selesai sambil minum teh yang hangat sehangat pembicaraan kami tentang perkembangan kemakmuran masjid yang dibina oleh PDHI, maka saya iseng bertanya tentang Pamella Swalayan.

“Nuwun sewu pak, bagaimana perjalanan bisnis bapak sampai bisa memiliki Pamella Swalayan, 2,3 dan 4 ini?”

Dengan gaya khasnya yang “sersan” serius tapi santai, beliau menceritakan bahwa awalnya beliau hanya memiliki kios kecil ukuran 2×2 m2 yang digunakan sebagai lapak jual tempe. Dari hasil usahanya ini sebagian keuntungannya digunakan untuk sedekah.

Nah loh. Ternyata beliau memulai usaha dari nol. Ternyata sedekah sudah menjadi konsep hidupnya. Lalu pak Nardi melanjutkan ceritanya, “Sebenarnya ibumu –maksudnya istri beliau Hj. Noor Liesnani Pamella— itu yang pinter menejemen, maka aku support untuk mengembangkan usahanya hingga berdirilah Pamella kecil ini…” Hehhh, ini mah swalayan besar Pak, bisik saya. Begitulah kisah unik sang desainer yang sangat inspiratif.

Ada hal penting yang beliau pesankan untuk kita semua. Ini kunci sukses beliau dalam berbisnis melalui Pamella Grup:

Pertama, mulailah usaha dari kecil. Jangan bermimpi besar sedang kau tak pernah memulai.

Kedua, jauhi riba, tak ada sukses dengan riba. Maasyaa Allaah, ini jaman dulu mas bro, beliau sudah menggerakan usaha tanpa riba.

Ketiga, perbanyak sedekah. Jangan menunggu kaya baru sedekah tapi sedekah yang banyak nanti kau kaya raya. Apalagi yang ini, aneh bin ajaib—di saat yang lain baru lahir beliau sudah menjadi aktor!

Keempat, berlaku jujur dan amanah. Ini hukumnya wajib.

Kelima, pikirkan orang banyak. Jangan sibuk memikir diri sendiri.

Pantesan Pamella Swalayan terus berkembang sampai berdiri Pamella Sembilan di kota Wonosari yang megah, ternyata rahasianya “memikirkan orang banyak” maka hukum sunatullah, Robb yang akan memikirkan kita.

Terima kasih pak Nardi. Semoga kami bisa mengamalkan nasehat bapak.

Kak Risdy, Gunungkidul

Testimoni 24 : Silakan Anak Muda Bergerak !

Mungkin sebagian orang bertanya, “Apa sih istimewanya Kyai Sunardi Syahuri di kalangan pemuda Islam di Jogja? Sehingga mereka rela longmarch untuk menguburkan jenazah beliau?”

Para pemuda Islam hari ini membutuhkan sentuhan dan bimbingan para ulama,  terutama para ulama yang ikhlas,  mengayomi dan berkorban dengan kemampuan mereka. Para pemuda Islam di Yogyakarta  mengenal Kyai Haji Sunardi Syahuri rahimahullah adalah salah satu sosok yang mampu memberikan mereka pengayoman dan bimbingan.

Mungkin banyak ustadz yang memiliki hapalan Quran dan Hadits yang hebat. Tetapi tidak banyak tokoh yang mampu mengayomi para pemuda yang memiliki gemuruh semangat dan ghiroh pembelaan Islam. Dan Kyai Haji Sunardi Syahuri rahimahullah adalah sosok yang mampu memberikan hal itu.

Apalagi para pemuda Islam ini sering dituduh dan disudutkan dengan gambaran buruk. Bahkan kadang diburu,  sehingga karena gerakan nahy munkar mereka ada sebagian diantara mereka harus masuk “hotel prodeo” meski sehari atau sehari semalam. Masih teringat kisah rekan pemuda yang aktif dalam gerakan amar ma’ruf nahi munkar di Jogja yang berkisah beberapa tahun lalu,  pada waktu akan diadakan acara pemurtadan terselubung. Maka anak anak muda ini bangkit untuk menegakkan nahy munkar.

Halangan?  Tentu sangat terasa,  banyak pihak menyudutkan anak anak muda Islam. Tetapi berbeda dengan Kyai Haji Sunardi Syahuri rahimahullah, beliau menyampaikan,  “Silahkan anak anak muda bergerak kalau ada masalah maka kami orang orang tua yang akan menyelesaikan!” Maka para pemuda Islam semakin bersemangat,  dan akhirnya acara yang ditengarai pemurtadan terselubung itupun gagal.

Begitulah sosok kyai Haji Sunardi Syahuri rahimahullah. Beliau dikenal dengan kesederhanaan, kelembutan dan kedermawanan. Tetapi mungkin tidak banyak orang yang tahu bahwa beliau adalah tokoh yang bersemangat menegakkan amar maruf nahi munkar bersama para pemuda Islam di Jogja. Beliau sosok yang bisa menyatukan anak anak muda Islam lintas organisasi.

@fkamjogjakarta

 

 

Cahyadi Takariawan

Cahyadi Takariawan telah menulis lebih dari 50 judul buku yang sebagian besarnya bertema keluarga. Aktivitasnya saat ini selain menulis adalah menjadi narasumber dalam berbagai seminar dan pelatihan di dalam dan luar negeri. Mendirikan Jogja Family Center (JFC) pada tahun 2000 sebagai kontribusi untuk mengokohkan keluarga Indonesia. Kini JFC bermetamorfosis menjadi Wonderful Family Institute. Beliau dapat diakses melalui Instagram @cahyadi_takariawan

Tinggalkan Balasan