Sunardi Syahuri 4 : Membaca Teks Dari Konteks

Sunardi Syahuri 4 : Membaca Teks Dari Konteks

Oleh : Cahyadi Takariawan

 

 

Semua orang berhak memiliki kenangan, dalam sisi yang berbeda, pada interaksi dengan KH. Sunardi Sahuri. Membaca testimoni banyak kalangan yang ditulis di berbagai sosial media, membuat saya semakin mengerti banyak hal yang menjadi kiprah juru dakwah yang satu ini. Pakde Nardi sungguh fenomenal. Seorang netizen menyebut beliau sebagai Bapak Dakwah, dan bahkan Bapak seluruh ummat Islam Yogyakarta dan sekitarnya. Sebuah sebutan yang sangat mendasar dan tak berlebihan untuk disematkan kepada beliau.

Pakde Nardi bukan seorang penulis, pun bukan aktivis medsos. Karena beliau lebih pandai menarasikan pemikiran dan kontribusi dakwah dalam bentuk perbuatan nyata. Maka jika ingin membaca teks pemikiran dakwah dan keislaman Pakde Nardi, harus memasukkan dalam konteks amal perbuatan yang beliau torehkan setiap hari tanpa henti. Membaca teks, dari konteks. Karena beliau tidak menulis artikel, tidak menulis buku, tidak menulis status, namun selalu menuliskan amal perbuatan nyata. Inilah konteks yang melampaui jangkauan teks.

Berikut saya tambahkan lagi beberapa testimoni tentang seorang Bapak Dakwah, KH. Sunardi Syahuri. Testimoni saya dapatkan dari postingan di sosial media dan media online.

Testimoni 25 : Pesan Terakhir

Ulama sekaligus pengusaha asal Yogyakarta, KH Sunardi Syahuri, wafat pada Minggu (11/11) kemarin dan telah dimakamkan di Bantul, DIY, hari ini. Kepada sahabatnya, Cholid Mahmud, almarhum sempat meninggalkan pesan khusus.

“Beliau (KH Sunardi Syahuri) Ketua Dewan Dakwah dan saya wakilnya. Dua hari lalu, Sabtu (10/11) saya ketemu dan beliau bilang begini, ‘Sampeyan, Pak, ketua sekarang’ dan saya jawab ‘Siap’,” kata Cholid Mahmud usai menghadiri pemakaman KH Sunardi Syahuri di Kompleks Masjid Pathok Nagoro Ad-Darojat, Babadan, Jomblangan, Banguntapan, Bantul, Senin (12/11/2018).

Anggota DPD RI ini tersebut mengaku tidak memiliki firasat tertentu saat KH Sunardi Syahuri mengatakan hal tersebut. Cholid baru menyadarinya makna pesan tersebut ketika mengetahui KH Sunardi Syahuri telah meninggal dunia. Karena itu ia merasa sangat kehilangan atas kepergian almarhum.

“Jadi beliau itu orang yang hampir seluruh perhatian utamanya untuk masyarakat, sehingga kita bisa lihat masyarakat punya perhatian yang luar biasa ke beliau tadi,” ujarnya.

Disinggung mengenai sosok almarhum, Cholid menyebut almarhum adalah sosok luar biasa dan patut dijadikan teladan. Almarhum dinilainya mampu menyeimbangkan berbagai aspek selama hidupnya. “Seperti bagaimana menjaga keluarga dengan bagus, bagaimana membangun bisnis dengan baik dan bagaimana memperhatikan masyarakat juga dengan sangat luar biasa,” katanya.

“Saya kira hal-hal seperti itu jarang ya, atau orang yang mungkin sukses bisnis tapi mungkin nggak punya perhatian pada urusan orang banyak dan begitu juga sebaliknya. Jadi beliau adalah contoh yang cukup menarik untuk digali (keteladanannya),” imbuhnya.

https://news.detik.com, Senin 12 November 2018, Ini Pesan Terakhir KH Sunardi Syahuri, Ulama Pengusaha asal Yogya

Testimoni 26 : Nasehat yang Sangat Kuat Melekat

Pagi itu subuh 8 Dzulhijah 1435H. Selepas sholat subuh,  ustadz Sunardi Syahuri menyampaikan sebuah kultum tentang berbakti kepada kedua orangtua.  Terlebih saat orangtua kita sudah usia senja. “Merugilah kalian jika mendapati orangtuanya renta di dunia dan nanti kalian tidak masuk syurga”, ungkap beliau.  Jleb, nasehat itu sangat bermakna bagi kami.

Demikian kuat pesan tersebut tertancap pada diri kami, sampai kami sangat ingin untuk melaksanakannya, semampu kami. Saat  menjelang kepergian haji kami,  ibu terkena serangan stroke.  Ingatan melayang ke Indonesia,  kami meninggalkan ibu yang stroke,  bapak yang mulai renta merawat ibu dan satu ibu lagi yang hidup sendirian karena bapak sudah meninggal beberapa tahun sebelumnya.  Saya dan suami berazam tuk dapat merawat kedua orang tua kami dan semoga Allah mengijabahi.

‌Waktu terus berjalan, ibu tidak mau kami boyong ke rumah kami di Jogja. Bahkan, bapak yang selama ini merawat ibu,  tiba tiba didiagnosa oleh dokter terkena kanker paru.  Kami berusaha merawat semampunya menggunakan berbagai obat herbal dan medis, namun diawal 2017 bapak dipanggil menghadap sang Khaliq.  Kata-kata ustadz Sunardi masih kami pegangi, “Harus berbakti kepada kedua orang tua”. Saya dan suami yang tadinya tinggal berjauhan,  saat bapak sakit, suami berusaha mutasi ke jogja,  alhamdulillah berhasil.

‌Niatan kami untuk bisa merawat ortu semakin kuat. Setelah merajuk akhirnya ibu yang stroke mau kami bawa ke Jogja.  Dalam perbincangan dengan suami,  kami punya harapan ibu yang satu lagi segera mau diboyong juga.  Dan doa itu selalu kami panjatkan.  Jeda dua pekan dengan ibu di jogja,  ibu satunya mau diboyong juga.  Namun qadarullah,  sampai rumah kami baru nginep semalam, ibu terkena serangan stroke.  Akhirnya kami merawat dua ibu dalam satu kamar dalam keadaan stroke semua.  Ya Allah, inikah yang dinamakan pintu syurga? Saya selalu ingat wejangan pak Nardi.

Nasihat Pak Nardi itulah yang membuat kami selalu bersemangat mengurus orangtua. Bismillah kami tidak merasa terbebani dengan semua ini. Kami jalani hari-hari kami dengan beliau berdua, sholat berjamaah walau kedua ibu tiduran,  dengerin tilawah bersama bahkan kami bisa canda bersama, walau ibu yang satu tidak bisa bicara karena stroke. Kami nyaman dengan kondisi tersebut,  mulai dari bangun tidur, memandikan,  mendampingin sholat,  menyiapkan sarapan pagi, dan semua kami lakukan tanpa ada khadimat (pembantu rumah tangga) di rumah kami.  Hanya sesekali ada tetangga yang bantuin nunggu saat kami ada acara di luar sebentar.  Namun saat ini ibu kami sudah dipanggil menghadapNya.  Pintu syurga kami berkurang satu.

‌Maturnuwun atas nasihat dan bimbingan pak Nardi, sugeng tindak, syurga menantimu. Semoga kami bisa meneladani keshalihan dan semangatmu, ustadz.

Isti Hartaya

Testimoni 27 : Legenda Kajian Malam Sabtu

Sekitar tahun 1984, di masjid masih sangat jarang diadakan kajian. Majelis taklim juga masih sangat jarang. Beberapa orang berinisiatif untuk membuat pengajian di teras rumah KH. Sunardi Syahuri. Ini menjadi cikal bakal bermulanya Kajian Malam Sabtu yang berlangsung secara rutin.

Kegiatan ini awalnya atas usulan pak Slamet —takmir masjid PT. Sari Husada Yogyakarta. Saat itu saya masih sekolah di kelas 2 SMP. Ada pula pak Bambang —guru SMP Banguntapan, pak Sopinyono (alm), dan ada satu lagi yang saya lupa namanya. Awalnya hanya ngobrol santai tentang berbagai persoalan umat, kemudian berkembang dan disepakati untuk digelar kajian hadist dari kitab Al Lu’lu’ wal Marjan. Saya ingat kitab ini terdiri dari dua jilid, berwarna hijau dan kuning.

Bermula dari lima orang ini kemudian digelar kajian di teras depan rumah Pak Nardi yang waktu itu masih di Jl. Tut Harsono –selatan Balai Kota Yogyakarta. Kajian ini bersifat sersan —serius tapi santai— yang kadang diselingi candaan bersahut-sahutan dari peserta kajian. Forum kajian ini berlangsung cukup lama dan istiqomah, bahkan lama kelamaan bertambah pesertanya karena kami —lima orang peserta pertama—seolah menjadi bagian “marketing” yang mengajak orang lain untuk mengikuti kajian tersebut.

Demikianlah peserta terus bertambah hingga akhirnya sampai teras rumah Pak Nardi tidak lagi cukup untuk menampung peserta kajian. Kebiasaan setelah mengaji di rumah beliau, dilanjutkan dengan mengobrol santai tentang berbagai macam hal. Salah satunya kami bahas tentang rencana memindahkan kajian dari teras ke garasi mobil yang lebih mampu menampung banyak jama’ah. Akhirnya disetujui, kajian pindah ke garasi.

Namun karena peserta terus bertambah, garasi ini pun pada akhirnya tidak cukup juga untuk menampung peserta kajian. Akhirnya Pak Nardi secara khusus menyiapkan tempat di atas garasi, dengan dibuat lantai tingkat dua menggunakan papan kayu. Tempat di lantai dua ini lebih luas. Setelah lantai dua jadi, akhirnya kajian dipindahkan ke tempat baru ini, dengan jumlah peserta yang bertambah banyak. Peserta datang dari berbagai daerah, terdiri dari para takmir masjid, aktivis ormas Islam dan para aktivis dakwah. Bahkan ada yang datang dari luar daerah, menggunakan bus tanggung yang biasanya diparkir di depan kampus UST sekarang ini.

Forum kajian biasanya belangsung selama satu jam, dimulai dari jam 20.00 tepat dan diakhiri jam 21.00. Setelah itu kadang ada yang konsultasi kepada Pak Nardi tentang kegiatan dakwah di daerah masing masing, atau konsultasi tentang berbagai persoalan keummatan untuk mencari solusi. Jadilah malam Sabtu sebagai malam yang paling dutunggu oleh para peserta untuk mendapatkan ilmu, informasi perkembangan dakwah di daerah, dan sekaligus solusi. Kadang diselipi pula dengan kajian siyasi (politik) kontemporer saat itu, beliau menekankan agar memilih pemimpin yang baik Islamnya. Kajian seperti ini terutama setelah tahun 1998 atau setelah era reformasi.

Kajian ini terus berlangsung hingga kemudian dipindahkan ke Masjid Yasmin 2 di Rejosari, sebelah timur kebun binatang Gembira Loka. Masjid inipun proses pembangunannya melibatkan peran besar Pak Nardi, bersama komunitas pengajian ibu-ibu Yasmin —pengajian ibu-ibu pengusaha Yogyakarta. Pak Nardi memotivasi ibu-ibu Yasmin untuk mengumpulkan dana guna membangun masjid di kampung kami, Rejosari. Setelah jadi, masjid tersebut diberi nama Masjid Yasmin 2, karena ibu-ibu Pengajian Yasmin memang memiliki gerakan untuk membangun masjid yang diberi nama Yasmin.

Pak Nardi mengasuh banyak kelompok pengajian rutin, bukan hanya di Yogyakarta, namun juga di berbagai wilayah di Jawa Tengah. Saat ditanya tentang apa resepnya sehingga Pak Nardi sanggup mengisi pengajian dua sampai empat kali setiap harinya, sejak pagi sampai malam? Jawab beliau singkat, “Karena mengisi pengajian itu dinikmati, jadi terasa ringan. Jarak yang jauh pun terasa dekat”.

Betapa jalan dakwah telah beliau lalui dengan sangat bersungguh-sungguh dan istiqamah  hingga akhir hayat. Selamat jalan Bapak Dakwah kami, bapak seluruh umat Islam Yogyakarta dan sekitarnya. Perjuangan dakwah Bapak menjadi inspirasi bagi kami, untuk kami teruskan dan kami teladani, insyaallah. Semoga Allah SWT menempatkan yang terbaik karena perjuangan untuk umat ini, aamiin yaa Rabbal ‘aalamiin.

Teguh R. Wiyono

Testimoni 28 : Walau Tak Dituliskan, Kebaikan Ustadz Sunardi Sangat Dirasakan

Kiprahnya lebih dikenal dalam aksi di lapangan, yang disaksikan banyak orang. Dari podium pengajian akbar, pencanangan bangunan masjid, sampai aksi umat melawan bentuk-bentuk pembodohan dan penindasan. Teks pikirannya lebih mudah diungkapkan dengan tindakan. Dan ini sebuah untaian yang pantas dibukukan agar jadi bacaan keteladanan.

Dari kegigihan dengan sepeda onthel susuri jalanan perkampungan, hingga deru mobil peneman, semua pernah jadi kenangan. Kegigihan tanpa batas sejak kurun 1970-an paruh kedua. Kesaksian banyak warga kampung kami, yang bersebelahan kecamatan dari tempat lahirnya, tandaskan sikap ajek menekuni perjuangan dakwah.

Mungkin bagi sebagian orang, nama Ustad Sunardi Syahuri lebih dikenal sebagai sebagai aktor lapangan dalam perjuangan dakwah. Sebenarnya beliau sekaligus aktor perancang. Sayangnya, beliau tak hasilkan karya tulisan selain sebuah skripsi semasa duduk di IAIN Sunan Kalijaga. Semua gagasan perintisan dan pengembangan dakwah tersimpan rapi di kepala. Sayangnya pula, orang-orang di sekitarnya belum beranjak untuk menuliskan jejak kiprah dan gagasan fiqh da’wah beliau, sebagai kader dan didikan Buya Mohammad Natsir.

Alhasil, nama Ustad Sunardi lebih sering ditulis sebagai sosok dalam lintasan peristiwa. Tidak banyak, dan tak sebanding dengan kiprahnya. Merle Ricklefs dalam “Mengislamkan Jawa” menyitir pendapat Ustad Sunardi soal pernikahan beda agama yang merugikan pihak Islam. Sementara itu, Imam Subkhan menyebutkan nama Ustad Sunardi dan kiprahnya di Forum Ukhuwah Islamiyah (yang dirintis sejak 1997) dalam buku “Hiruk Pikuk Wacana Pluralisme di Yogya”.

Disebutkan di buku ini antara lain andil jaringan Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia dan rumah Ustad Sunardi sebagai tempat rapat-rapat FUI. Masa-masa itu, organisasi penulis status ini beberapa kali menerima undangan dan turut hadir menemani utusan KAMMI. Sementara dalam “Titik-titik Kisar di Perjalananku”, autobiografi Ahmad Syafii Maarif, penulisnya menyebut Ustad Sunardi dalam pembangunan gedung Muallimin pada 2006 semester kedua, yang rusak akibat gempa bulan Mei.

Keberadaan di banyak institusi umat meniscayakan Ustad Sunardi pilihan tepat sebagai sumber primer penulisan. Kiprahnya juga sudah lama sehingga memahami alif-ba-ta-tsa persoalan kontemporer yang sebagiannya masih aktual, semisal pembatasan hak beragama bagi siswa muslim di sekolah yayasan bukan-Islam.

Justru karena terpagut sebagai pelaku langsung dan kesibukan berjibun, Ustad Sunardi seperti merasakan mewahnya menuangkan gagasan lewat tulisan. Kiprah istrinya lebih dulu dibukukan, yakni tentang kesuksesan bisnis yang mereka rintis sejak 14 September 1975 dengan bendera Pamella. Sudah tentu nama Ustad Sunardi diterakan di dalamnya.

Sebuah buku biografi sang istri, Ibu Noor Liesnani Pamella, menyebutkan kesuksesan bisnis mereka tidak terlepas dari kesakinahan rumah tangga dan komitmen menjaga keberkahan berbisnis. Buku-buku yang belakangan muncul memang lebih mengulik soal kredo bisnis Pamella, seperti anti-riba. Artikel media pernah mengulas Pamella juga menabukan rokok sebagai komoditas yang dijual per 2014. Meski aktor utama yang dijadikan subjek tulisan adalah Ibu Noor, nama Ustad Sunardi selalu ada di sebaliknya. Tampaknya peran inilah yang  “memadai” semasa Ustad Sunardi hidup: tidak berpanjang dituliskan dan cukup disebutkan juga dirasakan jasa-jasanya.

Sebagai tempaan Natsir yang seorang ulama prolifik, yang berarti tak hanya piawai di podium tapi juga di untaian kertas tulis, kiprah dan gagasan Ustad Sunardi berakhir dengan umur beliau. Tapi legasi dari ilmu yang dibagikannya, yang tertancap di benak banyak muslim, sepatutnya segera dihimpunkan. Agar kaum muda ke depan senantiasa tersambung dengan kiprah pendahulu. Apatah lagi, Ustad Sunardi aktor penting rekayasa sosial melalui dakwah di Yogyakarta sejak, terutama 1980-an.

Masjid-masjid yang diinisiasi Ustad Sunardi sepatutnya menelisik dan menegakkan amal-amal saleh yang pernah beliau sampaikan. Membaca kiprahnya untuk kemudian menjaga mana-mana yang sudah berjalan baik; memperbaiki mana saja yang goyah dan luput dikerjakan. Karena kita tahu, umur manusia ada batasnya. Keteladanan Ustad Sunardi bagi anak-anak milenial niscaya disambungkan. Dan ini tugas para anak didik beliau, juga umat secara luas yang pernah tercelup dengan kiprahnya. Ya, ini agar rangkaian kebajikan yang diteladankan Ustad Sunardi bisa dituruti bagi perbaikan umat kini dan esok-esok hari.

Komitmen meneruskan kebaikan Ustad Sunardi, menjadi suatu penabal mengalirnya ilmu bermanfaat yang pernah beliau bagikan dan amalkan. Terus menguat seperti putaran sepeda yang dipancalnya dari Moyudan ke Kota Yogyakarta, atau dari rumahnya menuju STM Muhammadiyah semasanya muda jadi pendidik. Dan itu akan terkenang bagi kita yang ditinggalkan per 11 November 2018. Selamanya. Tapi tidak lupa dengan ingatan tausiyah dan pekik takbir almarhum di atas pick up lama di Nol Kilometer Yogyakarta dalam pelbagai demonstrasi.

Yusuf Maulana

Testimoni 29 : Kehancuran Semesta Lebih Ringan

Selamat jalan guru kami, ayah kami, panutan kami, KH. Sunardi Syahuri. Kami menjadi saksi, bahwa engkau adalah orang baik dan pendakwah yang istiqamah. Sungguh, kehancuran semesta masih lebih ringan daripada kematian seorang ulama. Sebab, kematiannya adalah hilangnya ilmu dan awal dari merebaknya kejahilan.

Kematian bagi seorang ulama hanyalah perpindahan ruh semata, hakikatnya ia tetap hidup dan memperoleh rizki di sisi Tuhannya. InsyaAllah, engkau kini memperoleh ampunan bersama amal shalih dan jariyah yang tak terhitung bilangannya. Sementara kami, masih harus berjuang untuk memperoleh ampunan sebab banyaknya kemaksiatan.

Dari Mahmud bin Labid bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Dua perkara yang sangat  dibenci anak Adam; (pertama) kematian, padahal kematian itu lebih baik bagi seorang mukmin daripada fitnah bagi keimanannya. (Kedua) dia membenci sedikit harta, padahal sedikitnya harta itu lebih meringankan hisab perhitungan amalnya. [HR. Ahmad, dan lainnya].

Allahummaghfirlahu warhamhu wa’aafihi wa’fu ‘anhu.

Sholihuddin Alhafidz

Testimoni 30 : Undangan

Ketika bertakziyah almarhum ust. Sunardi Syahuri, kami menyaksikan massa yang berduyun-duyun untuk hadir. Mereka menyengaja datang menyolatkan, mendoakan dan mengantar ke pemakaman. Lasykar Islam dari berbagai penjuru dan berbagai kalangan mengikuti acara long march.

Siapakah yang mengundang mereka?Siapakah   menggerakkan hati mereka berangkat dari berbagai pelosok dengan bekal sendiri, karena mendengar berita meninggalnya ust. Sunardi?

“Ustadz dari kampung saya juga hadir, Mi” kata teman takziyah yang asalnya dari pelosok Klaten, Jawa Tengah.  Masya Allah, merinding saya.

Undangan dari Allah untuk melaksanakan kewajiban sesama muslim bagi para pentakziyah berlaku untuk semua kematian. Namun kali ini terasa berbeda, masa tumpah meruah tentulah bukan tanpa sebab. Padahal tak semua orang yang hadir mengenal beliau secara pribadi, sebagian besar adalah jamaah yang pernah mendengar taushiyahnya. Saya merasa beruntung termasuk pernah sowan dan meminta beliau mengisi kajian.

Sebagian yang hadir adalah jamaah haji dari biro travel milik beliau, sebagian lagi adalah para mualaf yang beliau bimbing. Dan banyak lagi jamaah majelis taklim yang saya tidak mengetahui, sebab begitu banyak majelis taklim dan tabligh akbar yang beliau hadiri. Berapa banyak wakaf masjid dan sekolah yang beliau fasilitasi. Tak terhitung.

Undangan takziyah, tak selalu membuat kita hadir, jika bukan tetangga atau keluarga. Hanya orang spesial yang membuat seseorang berangkat sekalipun lokasinya jauh. Seperti sanak kerabat, sahabat atau mereka yang memiliki jasa dalam hidup kita, atau yang kisah hidupnya harum semerbak mewangi. Seperti Almarhun Ust. Sunardi.

Semua yang merasa terundang, lantaran menyadari keshalihanmu. Engkaulah sang guru sejati, seperti disifatkan dalam kisah berikut: Yusuf bin Al-Husein menceritakan, Aku bertanya kepada Dzun Nun tatkala perpisahanku dengannya, “Kepada siapakah aku duduk atau berteman dan belajar?”. Beliau menjawab, “Hendaknya kamu duduk bersama orang yang dengan melihatnya akan mengingatkan dirimu kepada Allah. Kamu memiliki rasa segan kepadanya di dalam hatimu. Orang yang pembicaraannya bisa menambah ilmumu. Orang yang tingkah lakunya membuatmu semakin zuhud kepada dunia. Bahkan, kamu pun tidak mau bermaksiat kepada Allah selama kamu sedang berada di sisinya. Dia memberikan nasihat kepadamu dengan perbuatannya, dan tidak menasihatimu dengan ucapannya semata.”

Jika kita berharap banyak orang mendoakan, hadir menyolatkan saat kita meninggal nanti, maka “undangan” takziyah itu seharusnya telah kita bagikan sepanjang hidup kita. Melalui amal shalih, amal jariyah, amal dakwah dan muamalah kita. Ustadz Sunardi Syahuri pada masa hidupnya telah menebarkan jutaan ‘undangan’ dengan amal shalihnya yang berlimpah luar biasa. Bahkan berpulangnya beliau serta prosesi takziyahnya, telah menyadarkan banyak orang, akan arti penting seorang ulama.

Menetes air mata ini mengingat pernyataan dari Tsabit Al Bunani rahimahullah -yang dinukilkan dalam kitab Syu’abul Iman-, “Kami pernah menyaksikan jenazah, maka kami tidak melihatnya kecuali menunduk dalam tangisan.” Sungguh, saat kami menghadiri ‘undangan’ ust Sunardi, kami tertunduk dalam tangisan, dan sebuah tekat untuk terus melanjutkan dakwah ini, sebagaimana beliau telah merawat.

Semoga amal dakwah ini menjadi ‘undangan’ kami, berharap jika nanti kami berpulang, umat rela mendoakan keampunan untuk kedhoifan kami. Terimakasih ustadz Sunardi, bahkan dalam kepulanganmu, engkau tetap memberi pelajaran pada kami.

Ida Nurlaila @ida_1912

 

 

 

 

Cahyadi Takariawan

Cahyadi Takariawan telah menulis lebih dari 50 judul buku yang sebagian besarnya bertema keluarga. Aktivitasnya saat ini selain menulis adalah menjadi narasumber dalam berbagai seminar dan pelatihan di dalam dan luar negeri. Mendirikan Jogja Family Center (JFC) pada tahun 2000 sebagai kontribusi untuk mengokohkan keluarga Indonesia. Kini JFC bermetamorfosis menjadi Wonderful Family Institute. Beliau dapat diakses melalui Instagram @cahyadi_takariawan

Tinggalkan Balasan