TAKBIRATUL IHRAM : MEMAHABESARKAN ALLAH DALAM KEHIDUPAN

TAKBIRATUL IHRAM : MEMAHABESARKAN ALLAH DALAM KEHIDUPAN

Kuliah Ramadhan Hari Kedelapan

Oleh :  Cahyadi Takariawan

 

 

Takbiratul ihram merupakan takbir yang pertama kali dibaca ketika shalat, sebagai pembuka shalat. Disebut takbiratul ihram karena takbir inilah yang mengharamkan, menjadi batas diharamkannya melakukan hal lain yang tidak berkaitan dengan shalat. Misalnya makan dan minum, sebelum shalat boleh dilakukan, namun setelah masuk shalat dengan takbiratul ihram maka menadi haram.

Lafadz takbiratul ihram adalah “Allahu Akbar”. Nabi Saw bersabda:

مِفْتَاحُ الصَّلاَةِ الطُّهُورُ وَتَحْرِيمُهَا التَّكْبِيرُ وَتَحْلِيلُهَا التَّسْلِيمُ

“Kunci shalat adalah bersuci, memulainya dengan takbir, dan mengakhirinya dengan salam.” Hadits Riwayat Abu Dawud no. 61 dan At Tirmidzi no. 3.  Syaikh Al Albani mensahihkannya dalam Al-Irwa`: 301.

Dalam kitab Badai’ul Fawaid, Ibnul Qayyim menjelaskan hakikat kedudukan takbiratul ihram sebagai tahrimush shalah  —sesuatu yang menyebabkan haramnya hal-hal yang bertentangan dengan shalat.

تحريمها هنا هو بابها الذي يدخل منه إليها، وتحليلها بابها الذي يخرج به منها. فجعل التكبير باب الدخول، والتسليم باب الخروج لحكمة بديعة بالغة يفهمها من عقل عن الله، وألزم نفسه بتأمل محاسن هذا الدين العظيم، وسافر فكره في استخراج حكمه وأسراره وبدائعه،

“Yang dimaksud tahrim shalat di sini adalah pintu masuk shalat itu dimulai dari mengucapkan takbiratul ihram, sedangkan tahlil shalat adalah  pintu keluar dari shalat dengan mengucapkan salam. Maka dijadikan takbiratul ihram sebagai pintu masuk dan  mengucapkan salam sebagai pintu keluar, untuk suatu hikmah yang indah yang sangat mendalam. Hikmah ini baru bisa  dipahami oleh orang yang mengenal Allah dan menuntun dirinya untuk merenungkan keindahan agama yang agung ini, sedangkan fikirannya mengembara di dalam mengeluarkan mutiara hikmah, rahasia dan keindahan-keindahan agama”.

Lafadz takbiratul ihram —yaitu Allahu akbar— tidak boleh diganti dengan lafadz lain. Berkata Syaikh Muhammad Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah menjelaskan, Lafadz Allahu akbar tidak sah diganti dengan lafadz lain walaupun maknanya bisa menggantikannya. Misalnya seseorang yang sedang shalat mengucapkan “Allahu Ajallu atau Allahu A’dhamu atau yang semisalnya —maka ini tidak sah” (Syarhul Mumti‘ : 3/26).

Syaikh ‘Utsaimin rahimahullah menjelaskan, kata “Akbar” mengandung makna melebihi, namun di dalam lafadz Allahu Akbar” tidak disebutkan “sesuatu yang lain” sebagai pembanding, yang kebesarannya berada di bawah kebesaran Allah . Jadi, lafadz takbiratul ihram itu bukanlah “Allahu Akbar minas samawat —Allah lebih besar dari langit— misalnya. Pada kalimat ini, disebutkanlah “sesuatu yang lain”, sebagai pembanding, yang kebesarannya berada di bawah kebesaran Allah ”, yaitu langit.

Apa rahasia tidak disebutkannya “sesuatu yang lain”, yang kebesarannya berada di bawah kebesaran Allah? Syaikh ‘Utsaimin rahimahullah mengungkapkan:

وحُذف المفضَّل عليه ليتناول كلَّ شيء، أكبر مِن كلِّ شيء عزَّ وجلَّ

“Dalam ucapan takbir— sesuatu yang lain, yang kebesarannya berada di bawah kebesaran Allah- tidaklah disebutkan, guna mencakup segala sesuatu (selain Allah), (dengan demikian, kesimpulannya) Allah ‘Azza wa Jalla lebih besar dari segala sesuatu” (Syarhul Mumti‘ : 3/29).

معناها: أن الله تعالى أكبر من كل شيء في ذاته و أسمائه و صفاته و كل ما تحتمله هذه الكلمة من معنى

“Maknanya adalah bahwa Allah Ta’ala lebih besar dari segala sesuatu, dalam Dzat, nama-nama dan sifat-sifat-Nya serta seluruh makna yang tercakup di dalam lafadz ini” (Syarhul Mumti‘ : 3/28).

Perlu ditegaskan, yang dimaksud takbiratul ihram adalah ucapan atau lafadz Allahu akbar, dan bukan mengangkat tangan ketika takbir, karena mengangkat tangan ketika takbiratul ihram hukumnya dianjurkan dan tidak wajib.

Syaikh Ibnu Utsaimin menjelaskan:

رفع اليدين عند تكبيرة الإحرام، وعند الركوع، وعند الرفع منه، وعند القيام من التشهد الأول سنة

“Mengangkat tangan ketika talbiratul ihram, ketika rukuk, ketika i’tidal, dan ketika bangkit ke rakaat ketiga dari tasyahud awal, hukumnya sunah.” (Majmu’ Fatawa Ibnu Utsaimin).

Hendaklah takbiratul ihram dalam shalat, mewarnai kehidupan keseharian kita. Agar kita selalu memahabesarkan Allah dalam semua urusan kita. Agar selalu merasakan kerendahan diri kita di hadapan Allah. Agar selalu merasakan kebesaran Allah melebihi segala sesuatu yang ada di muka bumi ini.

Tak ada yang lebih besar, tak ada yang lebih mulia, tak ada yang lebih agung, selain diriNya. Inilah hakikat kehambaan kita dalam kehidupan keseharian. Semoga selalu mampu menjadi hamba yang memahabesarkan Allah dalam semua bidang kehidupan : ekonomi, sosial, politik, budaya, pemerintahan, seni, hukum, dan lain sebagainya.

Jangan lupa, perbanyak pula sedekah, mumpung ketemu bulan penuh berkah.

Cahyadi Takariawan

Cahyadi Takariawan telah menulis lebih dari 50 judul buku yang sebagian besarnya bertema keluarga. Aktivitasnya saat ini selain menulis adalah menjadi narasumber dalam berbagai seminar dan pelatihan di dalam dan luar negeri. Mendirikan Jogja Family Center (JFC) pada tahun 2000 sebagai kontribusi untuk mengokohkan keluarga Indonesia. Kini JFC bermetamorfosis menjadi Wonderful Family Institute. Beliau dapat diakses melalui Instagram @cahyadi_takariawan

Tinggalkan Balasan