Tetap Ziyarah di Tengah Wabah

Tetap Ziyarah di Tengah Wabah

Oleh : Cahyadi Takariawan

 

 

Ukhuwah Islamiyah atau persaudaraan sesama muslim, adalah salah satu ajaran Islam yang sangat agung dan mulia. Orang-orang beriman telah diikat dalam sebuah konteks persaudaraan, sebagaimana firman Allah Ta’ala,

إِنَّمَا ٱلۡمُؤۡمِنُونَ إِخۡوَةٌ۬ فَأَصۡلِحُواْ بَيۡنَ أَخَوَيۡكُمۡ‌ۚ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ لَعَلَّكُمۡ تُرۡحَمُونَ

“Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat”. (QS Al-Hujurat: 10).

Rasulullah saw bersabda,

عَنْ أَبِي مُوسَى رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “الْمُؤْمنُ للْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا

“Mukmin satu dengan mukmin lainnya ibarat sebuah bangunan yang saling menguatkan satu sama lain”. (HR. Bukhari dan Muslim).

Imam Al-Qurtubi dalam kitab tafsirnya menyebutkan, persaudaraan antara orang mukmin karena sebab agamanya yang mulia, bukan karena sebab keturunan atau nasab. Sebab persaudaraan karena agama lebih kokoh dan tetap dari pada persaudaraan karena keturunan.

Saling Mencintai dan Saling Mengunjungi Karena Allah

Di antara wujud dari persaudaraan sesama muslim adalah saling mencintai satu dengan yang lain, karena Allah semata. Bahkan Islam menjadikan kecintaan kepada saudara sesama muslim, menjadi salah satu tanda kesempurnaan iman. Nabi saw bersabda:

لاَيُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ ِلأَخِيْهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِى

“Tidak (sempurna) iman salah seorang di antara kamu hingga dia mencintai saudaranya seperti mencintai dirinya sendiri”. (HR Bukhari no. 12)

Di antara wujud dari persaudaraan adalah saling mengunjungi (ziyarah) satu dengan yang lainnya, karena Allah semata. Rasulullah saw bersabda:

أنَّ رجلًا زارَ أخًا لَهُ في قريةٍ أخرى ، فأرصدَ اللَّهُ لَهُ على مَدرجَتِهِ ملَكًا فلمَّا أتى عليهِ ، قالَ : أينَ تريدُ ؟ قالَ : أريدُ أخًا لي في هذِهِ القريةِ ، قالَ : هل لَكَ عليهِ من نعمةٍ تربُّها ؟ قالَ : لا ، غيرَ أنِّي أحببتُهُ في اللَّهِ عزَّ وجلَّ ، قالَ : فإنِّي رسولُ اللَّهِ إليكَ ، بأنَّ اللَّهَ قد أحبَّكَ كما أحببتَهُ فيهِ

“Seorang lelaki pergi mengunjungi saudaranya yang tinggal di daerah yang lain. Kemudian Allah mengutus Malaikat kepadanya di tengah perjalanannya. Malaikat bertanya, “Hendak kemana engkau?” Ia menjawab, “Aku hendak mengunjungi saudaraku di daerah ini”. Malaikat bertanya, “Apakah ada suatu keuntungan yang ingin engkau dapatkan darinya?” Ia menjawab, “Tidak ada, kecuali karena aku mencintainya karena Allah ‘Azza wa Jalla”. Maka Malaikat mengatakan, “Sesungguhnya aku diutus oleh Allah kepadamu untuk mengabarkan bahwa Allah mencintaimu sebagaimana engkau mencintai saudaramu karena-Nya“. (HR Muslim no.2567).

Dalam Kitab “Mirqatul Mafatih” dikutipkan penjelasan Imam An-Nawawi,

فِيهِ فَضْلُ الْمَحَبَّةِ فِي اللَّهِ، وَأَنَّهَا سَبَبٌ لِحُبِّ اللَّهِ وَفَضِيلَةِ زِيَارَةِ الصَّالِحِينَ

“Dalam hadits ini terdapat keutamaan saling mencintai karena Allah, dan itu merupakan sebab mendapatkan cinta dari Allah, dan keutamaan mengunjungi orang shalih”.

Perkataan Malaikat “هل لَكَ عليهِ من نعمةٍ تربُّها” dijelaskan oleh Imam Ath-Thibi,

أَيْ: هَلْ أَوْجَبْتَ عَلَيْهِ شَيْئًا مِنَ النِّعَمِ الدُّنْيَوِيَّةِ تَذْهَبُ إِلَيْهَا فَتَرُبُّهَا أَيْ: تَمْلِكُهَا مِنْهُ وَتَسْتَوْفِيَهَا

“Maksudnya, apakah dengan kunjungan tersebut engkau mendapatkan sesuatu berupa keuntungan duniawi sehingga dengan kepergianmu ini engkau dapat mengembangkannya, yaitu dapat engkau miliki dan engkau sempurnakan?” (Kitab “Mirqatul Mafatih”). Ternyata lelaki tersebut menjawab, “Tidak”, sehingga ia berhak mendapatkan cinta Allah, dan disampaikan langsung oleh Malaikat utusan Allah kepadanya.

Ziyarah atau mengunjungi saudara seiman, atau saudara sesama muslim, atau mengunjungi orang salih, adalah perbuatan mulia dan utama. Balasan dari Allah tidak tanggung-tanggung, yaitu mendapatkan kecintaan dari-Nya. Dalam tradisi masyarakat Indonesia, istilah ziyarah lebih berkonotasi ziyarah kubur dan ziyarah ke makam para wali. Padahal ziyarah adalah istilah yang digunakan untuk menyatakan kunjungan kepada sesama muslim dan orang-orang salih.

Sayangnya, aktivitas ziyarah seperti ini sudah sangat jarang dilakukan umat muslim. Rata-rata kita saling berkunjung hanya ketika ada keperluan atau kepentingan tertentu. Imam Ibnu Jauzi dalam Kitab “Kasyful Musykil” menjelaskan,

وَفِي هَذَا الحَدِيث فضل زِيَارَة الإخوان، وَهَذَا أَمر بَقِي اسْمه وَذهب رسمه

“Dalam hadits ini ada keutamaan mengunjungi ikhwan (saudara sesama muslim). Ini adalah perkara yang hanya tersisa namanya, namun sudah tidak ada bentuknya”.

Ziyarah di Masa Wabah

Saat ini masyarakat dunia, termasuk Indonesia tengah menghadapi pandemi Covid-19. Tindakan pencegahan yang harus dilakukan adalah dengan social distancing atau physical distancing, dimana masyarakat dihimbau untuk tinggal di rumah, #StayAtHome. Maka muncul pertanyaan, bagaimana cara tetap menjalin ukhuwah di tengah pandemi wabah? Bagaimana teknis ziyarah kepada sesama muslim di saat kita tidak boleh keluar rumah?

Alhamdulillah, teknologi telah memudahkan kita semua. Walau di tengah wabah corona, ukhuwah dan ziyarah kepada orang salih harus selalu terjaga. Ada beberapa teknis ziyarah yang bisa kita lakukan di masa wabah melanda.

  1. Ziyarah Intelektual

Yang dimaksud dengan ziyarah intelektual adalah kunjungan yang bersifat peningkatan wawasan, keilmuan dan pengetahuan, atau bisa disebut sebagai hubungan keilmuan (‘alaqah ‘ilmiyah). Hal ini bisa dilakukan dengan diskusi, seminar, dan kajian, yang digelar secara online. Kita tetap belajar menambah ilmu pengetahuan yang bermanfaat, kepada para ustadz, para kiyai, para alim ulama, juga para intelektual sesuai dengan bidang keilmuan masimg-masing. Sementara belum boleh berkerumum, maka kita bisa membuat semua bentuk kajian tersebut dengan berbagai fitur online.

Kegiatan yang bisa digelar antara lain kajian kitab, diskusi membedah satu tema tertentu, bedah buku, seminar dengan tema-tema aktual, pengajian rutin, dan lain sebagainya. Ini menggantikan kegiatan pertemuan di masjid dan majelis-mejelis ilmu, menjadi pertemuan online. Dengan demikian ilmu kita terus menerus bertambah, walaupun di masa pandemi wabah.

Saat ini kita bisa mencari ilmu secara online. Tidak perlu ke negeri China karena disana pusat wabah corona. Lagi pula tidak ada perintah untuk mencari ilmu hingga negeri China, karena haditsnya dhaif, bahkan sebagian ulama menyebut sebagai bathil dan dusta. Disebutkan oleh Ibnul Jauzi dalam Al-Maudhu’at, “Ini adalah hadis dusta atas nama Nabi saw”. Ibnu Hiban mengatakan, “Ini adalah hadis batil, laa ashla lahu”. Syaikh Al-Albani menjelaskan bahwa hadis ini adalah batil.

Namun yang ada adalah perintah untuk mencari ilmu, sebagaimana sahih disabdakan oleh Nabi saw,

طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ

“Menuntut ilmu wajib bagi setiap muslim.” (HR. Ibnu Majah nomer 224, dinilai shahih oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih Ibnu Majah, 1/296).

Ilmu yang diwajibkan kepada setiap pribadi muslim untuk dipelajari adalah ilmu syar’i. Sufyan Ats-Tsauri menyatakan, “Yaitu ilmu dimana seorang hamba tidak memiliki udzur untuk tidak mengetahuinya”. Sedangkan ilmu pengetahuan modern dalam berbagai bidang, menjadi kewajiban secara kolektif untuk mempelajarinya.

  1. Ziyarah Spiritual

Yang dimaksud dengan ziyarah spiritual adalah kunjungan yang bersifat penguatan ruhiyah dan hubungan hati (‘alaqah qalbiyah). Hal ini bisa dilakukan antara lain dengan memperbanyak saling mendoakan saudara sesama muslim. Sebagaimana kita ketahui, mendoakan sesama muslim, adalah doa yang istijabah, karena mendapatkan penguatan dari Malaikat. Nabi saw bersabda,

دَعْوَةُ الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ لأَخِيْهِ بِظَهْرِ الْغَيْبِ مُسْتَجَابَةٌ عِنْدَ رَأْسِهِ مَلَكٌ مُوَكَّلٌ. كُلَّمَا دَعَا ِلأَخِيْهِ بِخَيْرٍ، قَالَ الْمَلَكُ الْمُوَكَّلُ بِهِ: آمِيْنَ. وَلَكَ بِمِثْلٍ.

“Doa seorang muslim untuk saudaranya yang dilakukan tanpa sepengetahuan orang yang didoakannya adalah doa yang akan dikabulkan. Pada kepalanya ada Malaikat yang menjadi wakil baginya. Setiap kali dia berdoa untuk saudaranya dengan sebuah kebaikan, maka Malaikat tersebut berkata, ‘Aamiin dan engkau pun mendapatkan apa yang ia dapatkan.’” (HR. Muslim)

Imam An-Nawawi berkata dalam Syarh Shahih Muslim, “Dalam hadits ini terdapat sebuah keutamaan doa bagi saudaranya tanpa sepengetahuan orang yang didoakan. Seandainya seseorang berdoa untuk satu kelompok umat Islam, maka ia akan mendapatkan pahala yang telah ditetapkan, dan seandainya ia berdoa untuk seluruh kaum muslimin, maka yang aku fahami, ia pun mendapatkan pahala yang telah ditentukan.”

Al-Qadhi ‘Iyadh berkata: “Jika generasi salaf hendak berdoa untuk diri mereka sendiri, mereka juga berdoa untuk saudaranya sesama muslim dengan doa tersebut, karena doa tersebut adalah doa yang mustajab, dan dia pun akan mendapatkan apa yang didapatkan oleh saudaranya sesama muslim.”

Imam Adz-Dzahabi menyebutkan kisah dari Ummu Darda’, bahwa Abu Darda’ ra memiliki 360 sahabat di jalan Allah yang selalu didoakan dalam shalat. Ketika Ummu Darda’ mempertanyakan hal tersebut, beliau menjawab, “Apakah aku tidak boleh menyukai jika para Malaikat mendoakanku?” (Lihat kitab Siyar A’lamin Nubala’ II/351).

Selain saling mendoakan, ziyarah spiritual juga bisa dilakukan dengan saling mengingatkan dalam kebenaran dan kebaikan. Sebagaimana firman Allah,

“Demi masa. Sungguh, manusia berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran”. (QS. Al-’Ashr : 1 – 3)

Hanya saja, tausiyah untuk menetapi kebenaran dan kebaikan di masa pandemi corona ini tidak lagi dilakukan dengan tatap muka langsung, melainkan melalui fitur-fitur online. Sangat banyak pilihan online untuk menyampaikan tausiyah, baik melalui tulisan, audio ataupun video.

  1. Ziyarah Amal

Yang dimaksud dengan ziyarah amal adalah kunjungan yang bercorak mobilisasi amal tertentu. Hal ini bisa dilakukan dengan bersama-sama menggalang amal kebaikan, seperti ta’awun terhadap saudara-saudara kita yang terdampak langsung akibat kebijakan #StayAtHome. Tidak semua orang memiliki tabungan, tidak semua orang bisa bekerja dari rumah. Ada sangat banyak saudara-saudara kita yang terancam tidak bisa bertahan hidup apabila harus tetap tinggal di rumah di masa wabah. Ta’awun bisa dilakukan melalui sarana online, dengan pengumpulan dana melalui lembaga yang terpercaya.

Ta’awun yang dilakukan dengan ikhlas karena Allah, akan berbalas mendapatkan kecintaan Allah. Bahkan kelak mendapatkan posisi istimewa di mimbar-mimbar dari cahaya, sebagaimana sabda Nabi saw,

“Berhak mendapatkan kecintaan-Ku, orang yang saling memberi karena Aku. Mereka akan berada di mimbar-mimbar dari cahaya yang membuat iri para Nabi dan orang-orang shalih terhadap tempat mereka itu”. (HR. Ibnu Hibban 577

Salah satu lembaga terpercaya adalah LazisQu (Lazis Qur’an). Salurkan wakaf, zakat, infak dan sedekah anda melalui LazisQu untuk berbagai aktivitas kebaikan yang sangat luas. Kirim donasi anda melalui Bank Syariah Mandiri 7224-7334-74 a.n LazisQu. Informasi LazisQu : +6289 5634 610 488. Instagram : @lazisqu. Web : www.lazisqu.or.id

  1. Ziyarah Sosial

Yang dimaksud dengan ziyarah sosial adalah kunjungan untuk mengakrabkan atau menjaga persaudaraan secara umum. Hal ini bisa dilakukan dengan obrolan yang bermanfaat, telepon, chatting, japri maupun melalui grup kepada sahabat, teman, kerabat. Sekedar ‘say helo’ untuk mengetahui kabar sahabat dan saudara kita, atau berbincang santai melalui grup-grup chatting. Di masa wabah, hindari perdebatan dan suasana ketegangan di grup-grup chating. Gunakan grup chating untuk menjalin kunjungan sosial, persahabatan, persaudaraan, dan kekerabatan.

Ziyarah sosial tetap bisa dibangun di saat #StayAtHome dengan menyapa melalui media sosial dan media online lainnya. Hal ini untuk melaksanakan perintah Allah agar kita berbuat baik kepada orangtua, karib kerabat, tetangga, teman sejawat, dan lain sebagainya. Firman Allah Ta’ala,

“Dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga dekat dan tetangga jauh, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahaya yang kamu miliki. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang sombong dan membanggakan diri.” (QS. An-Nisa’ : 36).

Penutup

Semoga kita semua tetap bisa saling ziyarah dengan sesama muslim, ziyarah terhadap ulama dan orang-orang salih, juga tetap menjalin silaturahim dengan orangtua dan kerabat yang memiliki hubungan nasab dengan kita.

Semoga di masa pandemi ini, kita mendapatkan perlindungan dari Allah, mendapatkecintaan dari Allah karena aktivitas ziyarah yang kita lakukan dalam berbagai bentuknya. Rasulullah saw bersabda,

حقَّتْ محبَّتي على المُتحابِّينَ فيَّ وحقَّتْ محبَّتي على المُتناصِحينَ فيَّ وحقَّت محبَّتي على المُتزاوِرينَ فيَّ وحقَّتْ محبَّتي على المُتباذِلينَ فيَّ وهم على منابرَ مِن نورٍ يغبِطُهم النَّبيُّونَ والصِّدِّيقونَ بمكانِهم

“Berhak mendapatkan kecintaan-Ku, orang yang saling mencintai karena Aku. Berhak mendapatkan kecintaan-Ku, orang yang saling menasehati karena Aku. Berhak mendapatkan kecintaan-Ku, orang yang saling mengunjungi karena Aku. Berhak mendapatkan kecintaan-Ku, orang yang saling memberi karena Aku. Mereka akan berada di mimbar-mimbar dari cahaya yang membuat iri para Nabi dan orang-orang shalih terhadap tempat mereka itu”. (HR. Ibnu Hibban 577, dishahihkan Syaikh Al-Albani dalam Shahih Al-Mawarid 2129).

Semoga kita mampu meraihnya. Aamiin.

 

Yogyakarta, 7 April 2020

 

 

 

 

Cahyadi Takariawan

Cahyadi Takariawan telah menulis lebih dari 50 judul buku yang sebagian besarnya bertema keluarga. Aktivitasnya saat ini selain menulis adalah menjadi narasumber dalam berbagai seminar dan pelatihan di dalam dan luar negeri. Mendirikan Jogja Family Center (JFC) pada tahun 2000 sebagai kontribusi untuk mengokohkan keluarga Indonesia. Kini JFC bermetamorfosis menjadi Wonderful Family Institute. Beliau dapat diakses melalui Instagram @cahyadi_takariawan

Tinggalkan Balasan