Kembali
Motivasi Menulis

The Power of Deadline

.

Oleh : Cahyadi Takariawan

.

“Deadlines can be stressful but they can also create moments of magic. Seeing everyone rally and execute in crunch time is a thing of beauty”

— Adam Pittenger, 2018.

********

“Pak Cah, mengingatkan, naskah. Ditunggu ya Pak”, ujar Vivi Susanti, dengan sangat sopan.

Biasanya saya tidak berani menjawab kalau Vivi sudah mengingatkan seperti itu. Karena ia tidak akan mengingatkan saya, kecuali jika sudah terpaksa —atau bahkan putus asa. Mengapa putus asa? Menunggu saya ‘sadar’ untuk mengirim naskah tanpa harus diingatkan terus.

Vivi, cewek muda belia ini adalah manajer salah satu program saya. Ia yang harus menanggung malu di hadapan peserta program, jika naskah saya terlambat. Beberapa kali memang terlambat. Ketika ia merasa sudah terlalu lama menunggu, dan naskah tidak segera ia terima, barulah ia mengingatkan saya.

Berapa jumlah naskah yang harus saya setor hari ini tadi, 2 Agustus 2020? Lima belas naskah, dengan panjang minimal 500 kata dan maksimal 1.000 kata. Sementara slot waktu yang saya miliki hanya beberapa jam saja, mengingat ada banyak agenda kelas online di hari Ahad.

Bukan saya tidak mau menepati waktu, namun ternyata benar kata orang, bahwa pekerjaan kita jauh lebih banyak daripada waktu yang kita miliki. Akhirnya saya harus menerima kenyataan, bahwa saya adalah manusia biasa, yang banyak kelemahan. Sehingga tak selalu bisa menyetor naskah tepat waktu.

Vivi sadar betul hal ini. Maka ia baru akan mengingatkan jika saya sudah kelewatan alias keterlaluan. Ia akan mengingatkan dalam kalimat yang sangat sopan.

Baiklah, bismillah. Saya harus setor 15 naskah siang ini, di sela semua agenda kelas online. Saya jadi teringat Roy Peter Clark, ketika ia ditanya bagaimana bisa produktif menulis sementara sangat padat kegiatannya.

“I’m productive because I write during faculty meetings. I write by hand and everyone thinks I am taking notes,” ujar Clark. Sembari rapat fakultas, ia menulis. Orang-orang mengira ia tengah membuat catatan rapat, padahal mengejar deadline tulisan.

Saya tidak bisa melakukan apa yang Clark lakukan. Karena saya mengajar di kelas online, jelas tidak mungkin sambil mengajar sekaligus menulis. Maka saya selesaikan saja dulu mengajar sesuai jadwal.

Selesai kelas pagi, saya langsung buka laptop. Saya cari tempat yang tak akan diganggu siapapun. Tempatnya terbuka, namun justru jarang digunakan. Ya, di taman depan rumah saya.

Menulis Dalam Empat Langkah

Langkah pertama, saya harus mengingat urutan naskah. Sudah sampai tema apa sekarang ini? Saya harus membuka catatan sebelumnya. Segera saya pelajari ulang semua tema, dan urutan naskahnya. Alhamdulillah, langsung bisa ‘nyambung’.

Setelah ketemu urutan temanya, langkah kedua adalah membuat outline sederhana dari lima belas naskah yang harus selesai siang ini. Alhamdulillah, tak ada kesulitan. Outline telah saya buat, agar mudah membuat tulisan bagian demi bagian, dan bisa menjadi rangkaian tulisan yang sistematis.

Langkah ketiga adalah mengumpulkan bahan-bahan. Karena sudah ada tema dan sudah ada outline tulisan, maka cukup mudah saya mengumpulkan bahan. Saya buka semua file bahan, saya pilih yang relevan. Bersyukur, semua bahan telah tersedia, tinggal mengolah saja.

Langkah keempat, menulis bagian demi bagian. Saya kerahkan semua tenaga. Saya curahkan semua konsentrasi. Siang ini harus selesai, karena habis Asar nanti sudah ada kelas lagi yang menanti. Maka tidak boleh gagal, harus selesai. Di titik ini, saya selalu mengingat kegagalan Bandung Bondowoso.

Satu per satu naskah selesai. Lega rasanya. Tidak mau berhenti, saya harus selesai dalam sekali duduk. Saya sempat istirahat sebentar ketika tukang bakpao Mega Jaya lewat menggoda.

Karena saya menulis di taman depan, maka bakpao yang lewat di jalan sungguh menggoda. Satu bakpao rasa kacang hijau cukup memberi saya energi menulis. Saya lanjut lagi proses menulis, hingga tidak terasa tiba waktu adzan Asar.

Anak saya memanggil-manggil saya untuk segera menuju tempat shalat. Mereka tidak tahu kalau saya sedang menulis di taman depan rumah. Biasanya saya menulis di ‘kantor’ yang kami ciptakan selama masa karantina.

Tepat saat selesai adzan Asar, seluruh naskah sudah selesai ditulis —tanpa edit sama sekali. Saya baca ulang sekali lagi seluruh naskah, dari awal sampai akhir, untuk memastikan tidak ada kesalahan substansi. Beres, aman, tak ada yang salah.

Naskah segera saya kirim ke mbak Rahajeng Mufid, editor handal yang selalu setia mengedit semua naskah saya. Setelah terkirim, segera saya tutup laptop, dan menuju tempat shalat Asar berjama’ah. Seperti biasa, disertai permintaan maaf kepada mbak Mufid, bahwa ia harus tetap bekerja di hari libur.

Di dalam ruang, anak-anak sudah siap menunggu saya untuk bersama-sama menunaikan shalat Asar, yang dilanjutkan dengan dzikir sore.

Kekuatan Deadline

Deadline, memang punya kekuatan magic yang sangat dahsyat. Tanpa deadline, mungkin saya tidak akan mampu menyelesaikan lima belas naskah dalam waktu kurang dari tiga jam. Namun justru karena ada deadline, saya dipaksa bekerja lebih keras dari biasanya.

Saya tidak mau mengulang kesalahan Bandung Bondowoso, yang tidak mampu mencapai target. Seribu kurang satu, namanya adalah sembilan ratus sembilanpuluh sembilan. Bukan seribu. Cintanya kandas, gara-gara ‘seribu kurang satu’.

Deadline yang diberikan Roro Jonggrang memang tidak masuk akal. Membuat seribu patung dalam waktu satu malam. Sebelum ayam berkokok besok pagi, seribu patung harus sudah selesai.

Malam itu, Bandung Bondowoso mulai bekerja. Seluruh tenaga dan kekuatan dikerahkan. Tentu tidak akan tidur sebelum seribu patung selesai dikerjakan. Namun saat ayam jantan berkokok, ternyata masih kurang satu patung lagi.

Deadline terlampaui. Ia tak bisa mengelak lagi. Seribu kurang satu, memang bukan seribu. Roro Jonggrang tak memperpanjang deadline. “Waktumu sudah habis”, dan Bandung Bondowoso tak bisa mendapatkan gadis cantik pujaan hati.

Sesungguhnya kita tahu kisah di balik kegagalan itu. Bandung Bondowoso sebenarnya akan mampu menyelesaikan seribu patung itu. Namun Roro Jonggrang curang. Ia kondisikan ayam jantang agar bisa berkokok lebih awal dari biasanya. Sebab ia tak mau menjadi kekasih Bandung yang tinggi hati.

Coba perhatikan. Tanpa deadline itu, mungkin Bandung Bondowoso tak akan bisa membuat seribu patung dalam semalam. Kekuatan deadline telah membuatnya bekerja keras pantang menyerah. Di ujung batas waktu itu, ada gadis jelita yang membuat tak pernah nyenyak tidurnya.

Bersyukur, saya bukan Bandung Bondowoso. Lima belas naskah berhasil saya setorkan siang ini. Tak kurang satu.

Bahan Bacaan

Adam Pittenger, The Power of Deadlines, www.medium.com, 17 Januari 2018

Roy Peter Clark, The Power of the Self-Imposed Deadline, www.poynter.org, 31 Januari 2020

Ditulis oleh Cahyadi Takariawan

Dipublikasikan di RUANG KELUARGA. Media edukasi keluarga, parenting, dan keharmonisan rumah tangga.