The Power of Forgiveness

The Power of Forgiveness

Oleh : Yessy Eria

 

 

Forgiveness transforms anger and hurt into healing and peace. Forgiveness can help you overcome feelings of depression, anxiety, and rage, as well as personal and relational conflicts. It is about making the conscious decision to let go of a grudge”. Dr. Randy Kamen, 2012

 

 

Dalam hidup terkadang kita pernah terluka, tersakiti, terzholimi, teraniya oleh orang lain. Bahkan terkadang rasa sakit itu bukan hanya diberikan orang lain tapi juga  bisa dari orang terdekat seperti ayah, ibu, adik, kakak, suami, istri, anak dan saudara lainnya  yang diharapkan tak semestinya melukai hati dan pikiran kita.

 

Lalu bagaimanakah bila itu menimpa kita? Marah, kesal, kecewakah dan balik membalasnya serta tidak memaafkannya? Ataukah justru memaafkan? Apapun pilihannya, keputusannya ada ditangan kita.

 

Harus diakui memaafkan memang sedikit sulit dari pada meminta maaf. Tapi ternyata kekuatan memaafkan itu justru amat dahsyat bila kita sanggup melakukannya.

 

Aa Gym pernah menuliskan kata-kata bijak mengenai kata memaafkan ini. Ucapan dari Dai kondang itu sungguh membuat saya terenyuh.

 

Beliau mengatakan “Tidak ada penghinaan yang akan membuat kita sengsara bila kita jadikan hal itu sebagai ladang amal untuk meningkatkan kemulian dengan memaafkan dan sabar.”

 

Memaafkan (forgiveness) ternyata mampu meningkatkan kemulian manusia. Hal itu tentu sesuai dengan  Q.S Ali Imran ayat 133-134:

 

“Dan bersegeralah kamu mencari ampunan dari Tuhanmu dan meraih surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertaqwa (133) yaitu orang-orang yang berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Dan Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan”.

 

Banyak ahli memberikan makna atas permaafan (forgiveness). Adolf Hitler, misalnya,  ia punya pandangan tersendiri mengenai kata memaafkan. Pemimpin NAZI itu mengatakan bahwa orang  lemah tidak pernah memaafkan, justru orang perkasalah yang memiliki sifat pemaaf.

 

Apa yang dikatakan Hitler ini terbukti pada sosok lelaki Agung yang menjadi teladan umat Rasulullah SAW. Betapa ia punya segudang kemuliaan dengan kemampuan tingkat dewa untuk memaafkan orang-orang yang menyakitinya.

 

Bahkan dengan begitu mudahnya beliau memberi maaf kepada orang yang telah terang-terangan menyakitinya. Hasilnya? Justru ia semakin dimuliakan dan disegani oleh kawan maupun lawannya.

 

Hasil dari sifatnya itu tidak hanya berefek pada pribadi Rasull semata tapi juga pada perkembangan risalah yang di bawanya. Islam menjadi diterima tidak hanya di tanah Arab tapi hampir di penjuru dunia. Subhanallah!

 

Banyak lagi kisah-kisah penuh hikmah lainya dari para pesohor negri mengenai betapa besarnya efek  dari memaafkan. Diantaranya kita mungkin pernah menyaksikan di layar terlevisi sebuah acara yang di pandu oleh Oprah Gail Winsfrey.

 

Saya masih ingat dalam program yang disiarkan oleh stasiun TV (kalau tidak salah Metro TV). Ia pernah bercerita bahwa dalam hidupnya,  ia mengalami banyak hal yang tidak mengenakan. Ia pernah dilecehkan bahkan ditinggalkan oleh ibunya.

 

Hebatnya, Oprah memaafkan kesalahan orang-orang yang menyakitinya. Dengan itu ia merasakan kebahagian yang luar biasa dalam hidup. Apa yang dialami oleh Oprah itulah mungkin yang disebut oleh Ali bin Abi Thalib dalam kata bijakanya, “Memaafkan adalah sebagai kemenangan yang terbaik.”

 

Oprahpun menyebutkan ia tak bisa bayangkan bila ia tidak memaafkan kesalahan orang padanya mungkin ia bisa merasakan hidupnya tak tenang, dan depresi bahkan stress. “It took me to the next level of being a better person” (Oprah Winfrey, 2013).

 

Lebih lanjut Oprah menjelaskan dirinya tidak mau menyimpan dendam, dan dengan cara itu ia tidak menjadi tahanan masa lalu. “I don’t hold grudges for anything or any situation — and neither should you. [Forgiveness] is letting go so that the past does not hold you prisoner” (Oprah Winfrey, 2013)

 

Memaafkan bukan hanya membuat batin tenang tetapi juga bagus untuk kesehatan.  Dr. Randy Kamen menjelaskan, “Forgiveness means giving up the suffering of the past and being willing to forge ahead with far greater potential for inner freedom. Besides the reward of letting go of a painful past, there are powerful health benefits that go hand-in-hand with the practice of forgiveness”.

 

Orang yang suka marah atau parahnya punya sifat mendendam dalam waktu yang lama dapat memicu respon simpatif dalam tubuh, sehingga dapat meningkatkan denyut jantung yang mengakibatkan tekanan darah meningkat. Ga mau kan? So kata Upin dan Ipin, “Jangan marah lhaa….”

 

Biarkanlah kesalahan orang lain itu menjadi dosanya. Kita tidak  perlu menambah dosa dan menyiksakan diri dengan tidak memaafkan orang lain. Bukankah Allah itu Maha Pemaaf, lalu mengapa kita tidak mencoba meniru sifat-sifatNya itu?

 

 

 

Bahan Bacaan:

Dr. Randy Kamen, The Power of Forgiveness, www.huffpost.com, 26 Oktober 2012

Joan Podrazik, Oprah On Forgiveness: This Definition Was ‘Bigger Than An Aha Moment’, www.huffpost.com, 7 Maret 2013

 

Cahyadi Takariawan

Cahyadi Takariawan telah menulis lebih dari 50 judul buku yang sebagian besarnya bertema keluarga. Aktivitasnya saat ini selain menulis adalah menjadi narasumber dalam berbagai seminar dan pelatihan di dalam dan luar negeri. Mendirikan Jogja Family Center (JFC) pada tahun 2000 sebagai kontribusi untuk mengokohkan keluarga Indonesia. Kini JFC bermetamorfosis menjadi Wonderful Family Institute. Beliau dapat diakses melalui Instagram @cahyadi_takariawan

Tinggalkan Balasan