Titik Kritis Perempuan dalam Penantian

Titik Kritis Perempuan dalam Penantian

Oleh : Rahmawati Matondang

 

 

 

Huh, Ayah kembali membuatku menangis.

Siang itu aku bertemu Ayah, dan kami mengobrol di rumah Tante. Banyak orang lalu lalang di sekitar kami, karena tengah ada acara hajatan. Saat itu aku benar-benar menangis mendengar kata-kata Ayah. Untuk kesekian kalinya, Ayah membuatku menangis.

Sepertinya Ayah sedang sangat sensitif terhadapku. Ucapan terakhir Ayah saat aku kembali dari kampung waktu itu, diulang lagi. “Kapan kamu menikah? Mengapa kamu tidak segera menikah? Sampai kapan kamu  akan sendiri seperti ini?” Kata-kata ini, selalu mengiris-iris hatiku.

Aku menangis. Terisak-isak. Tak rela aku mendengar kalimat berulang-ulang itu.

Hari itu aku benar-benar marah karena sikap Ayah. Beberapa sepupu, Paman, dan saudara lainnya memperhatikan kami. Mereka bertanya-tanya mengapa aku menangis? Pertanyaan mereka membuatku semakin malu.

Usai mengobrol dengan Ayah aku mencari Ibu. Kuceritakan semua kepada Ibu tentang sikap Ayah barusan. Aku juga bilang kepada Ibu dengan nada sedikit mengancam.

“Kalau Ayah masih terus menyalahkanku tentang kenapa aku belum menikah, aku tidak akan mau lagi pulang kampung. Lebaran nanti aku akan tetap di Padang atau aku akan pulang ke rumah nenek”, ujarku.

“Siapa sih Bu yang tidak ingin menikah? Dan lagian siapa orang yang sudah datang melamarku yang kemudian aku menolaknya? Gak ada kan bu?” ujarku setengah menangis.

Ibu lantas menenangkanku sambil menepuk-nepuk pundakku.

“Iyo Nduk, nanti Ibu bilang ke Ayah. Sebenarnya Ayah itu cuma takut kamu terlalu memilih-milih dalam menentukan jodoh, Ayah takut kamu itu merasa tinggi hati, lantas kamu memilih-milih akhirnya kamu ndak nikah-nikah,” kata Ibu.

Ibu menyebutkan beberapa contoh orang-orang yang belum menikah di usia yang tak lagi muda. Konon katanya, mereka itu terlalu memilih-milih laki-laki untuk menjadi suami.

Mendengar kata-kata Ibu barusan, aku semakin kesal, namun tetap kutahan. Padahal sebenarnya aku masih ingin membantahnya, “Ya harus memilih dong bu, aku gak mungkin juga menikah dengan sembarang orang. Setidaknya aku masih memiliki kriteria untuk kujadikan calon suamiku,” gumamku dalam hati.

Beberapa hari kemudian aku berniat melupakan semua kejadian hari buruk itu. Menurutku pertemuan dengan Ayah di rumah Tante itu adalah hari buruk yang membuatku selalu kesal. Aku tak ingin berlama-lama meratapi omongan Ayah yang menyakitkan itu.

Kondisi ini, benar-benar menjadi titik kritis dalam masa penantianku. Aku merasa tidak mengada-ada dalam menentukan kriteria calon pasangan. Sebab tidak mungkin aku bisa menikah dengan lelaki sembarangan.

Dua minggu kemudian aku dikejutkan oleh telpon dari seorang lelaki. Lelaki ini baru saja kukenal sebulan yang lalu via media sosial Facebook. Dia memperkenalkan diri sebagai teman dari temanku kuliah saat S1 dulu. Namanya Hudzaifah, seperti nama sahabat Nabi saw.

Dalam percakapan kami via telpon itu dia melamarku. Tentu saja aku terkejut. Belum banyak mengenal, tiba-tiba menelpon dan melamar.

Sebenarnya aku sedang tidak bersemangat membahas soal pernikahan. Aku baru saja berduka tentang rencana pernikahanku yang gagal beberapa waktu yang lalu. Sekarang aku masih butuh waktu untuk memikirkan pernikahan kembali. Meskipun aku sadar usiaku sudah hampir kepala tiga dan tidak muda lagi. Namun, dalam memilih pasangan, haruslah tetap selektif.

Ternyata kesabaranku dalam penantian tidak sia-sia. Allah mengirimkan kepadaku jodoh, yang masuk dalam kriteriaku. Tanpa harus bingung mencari-cari calon suami, ternyata dianya datang sendiri. Tentu ini adalah skenario Allah.

Hari yang kutunggu-tunggu itu akhirnya tiba. Aku menikah di akhir tahun 2019, tanggal 27 Desember, di usiaku yang menuju angka 28. Suamiku, Hudzaifah, menikahiku dua bulan setelah aku wisuda dan memperoleh gelar Magister Pendidikan. Alhamdulillah, dua kebahagiaan aku peroleh sekaligus di tahun 2019 lalu.

Kebahagiaan pertama adalah karena aku berhasil menyelesaikan studi S2 dan telah diwisuda. Kebahagiaan kedua adalah karena Allah telah mengirim kepadaku jodoh dunia akhiratku, insyaallah.

Namun ada yang membuatku lebih bahagia lagi, yaitu ketika melihat Ayah berbahagia di hari pernikahanku. Kebahagiaan itu benar-benar kulihat di wajahnya. Benarlah nasihat seorang kerabat, bahwa Ayahku akan lebih bahagia saat mengucapkan akad di pernikahanku daripada saat menghadiri wisuda S2ku.

Kini aku menyaksikan binar-binar kebahagiaan Ayah menikahkanku dengan lelaki salih. Masa-masa kritis itu akhirnya berhasil aku lalui. Kesabaran, ketegaran, doa dan tawakal, menjadi kunci dari semuanya.

 

***

Tulisan karya Rahmawati Matondang, peserta Kelas Menulis Online (KMO) Alineaku Batch 31 / 2020, dengan sedikit editing oleh Cahyadi Takariawan

 

 

 

 

 

Cahyadi Takariawan

Cahyadi Takariawan telah menulis lebih dari 50 judul buku yang sebagian besarnya bertema keluarga. Aktivitasnya saat ini selain menulis adalah menjadi narasumber dalam berbagai seminar dan pelatihan di dalam dan luar negeri. Mendirikan Jogja Family Center (JFC) pada tahun 2000 sebagai kontribusi untuk mengokohkan keluarga Indonesia. Kini JFC bermetamorfosis menjadi Wonderful Family Institute. Beliau dapat diakses melalui Instagram @cahyadi_takariawan

Tinggalkan Balasan