Transisi yang Harus Dipahami Laki-laki

Transisi yang Harus Dipahami Laki-laki

Oleh : Cahyadi Takariawan

 

 

Manusia akan melewati berbagai fase dalam kehidupannya. Dalam setiap perubahan fase, terjadilah transisi, yang memerlukan pengetahuan dan penyikapan tersendiri. Jika kita menggunakan teori yang dikembangkan oleh Duvall – Miller, maka ada delapan tahap kehidupan setelah manusia membentuk keluarga dengan menikah. Dalam setiap perubahan tahap tersebut, ada tantangan yang spesifik, yang harus disikapi dengan cara yang tepat.

Sebagai contoh, pada kehidupan seorang lelaki, transisi dari lelaki yang belum memiliki anak menjadi seorang ayah, adalah sebuah perubahan yang sangat signifikan. Dalam teori Duvall – Miller, ini adalah transisi dari tahap pertama kehidupan keluarga, menuju tahap yang kedua. Semula dirinya adalah lelaki lajang, kemudian menikah dan menjadi pengantin baru, lalu kini menjadi ayah. Apakah transisi ini dilalui dengan mudah atau susah, ternyata dipengaruhi —salah satunya– oleh kondisi mental lelaki tersebut di masa mudanya.

Pengaruh Kesehatan Mental Bagi Calon Ayah

Pada sebagian laki-laki, masa transisi tersebut dilalui dengan cukup mudah. Namun bagi sebagian yang lain, ternyata mereka melalui masa transisi dengan susah payah. Lelaki yang memiliki masalah kesehatan mental saat usia muda atau dewasa, memiliki tingkat kesulitan yang lebih banyak dalam menjalani peran barunya sebagai ayah. Temuan ini didapatkan dari studi yang dilakukan oleh Murdoch Children’s Research Institute (MCRI).

Tim MCRI meneliti kelompok laki-laki sejak dari masa remaja hingga menjadi ayah, dari sisi kondisi kesehatan mental mereka. Para partisipan diminta mengisi kuesioner selama sekitar 20 tahun. Ditemukan hasil, lelaki yang saat usia muda dan dewasa memiliki masalah kesehatan mental —seperti depresi dan kecemasan— mengalami masalah kesehatan mental pula selama sang istri hamil.

Elizabeth Spry, yang memimpin studi tersebut menyatakan, “Menjadi ayah, bisa jadi merupakan proses yang sulit bagi laki-laki yang mengalami masalah kesehatan jiwa”. Menurutnya, masalah kesehatan jiwa membuat tekanan bukan hanya pada laki-laki tersebut, namun juga kepada keluarganya. “Pada mayoritas ayah baru, masalah kesehatan mental selama istrinya hamil merupakan kelanjutan dari masalah yang pernah dia alami sebelumnya, dan ini berlanjut sampai sang istri sudah melahirkan bayi,” ungkap Elizabeth.

Studi yang dipublikasi dalam British Journal of Psychiatry Open ini juga menemukan, bahwa laki-laki dengan masalah kesehatan mental cenderung merasa tidak diperhatikan. Apalagi setelah istri melahirkan, dimana sebagian besar perhatian istri akan terfokus ke bayi, dirinya merasa semakin tidak diperhatikan. Kondisi seperti ini, disebut sebagai depresi pasca melahirkan. Pakar parenting Deborah Gilboa menyatakan, depresi pasca kelahiran bayi juga bisa dialami oleh para ayah.

Menurut Gilboa, sebanyak 10 % laki-laki dan 14 % perempuan mengalami depresi pasca melahirkan. Selama ini berkembang pemahaman di masyarakat bahwa laki-laki pasti lebih kuat dan tabah, sedangkan depresi pasca melahirkan hanya dialami oleh kaum perempuan. Seorang ayah bisa merasa kelelahan, tidak bergairah dan merasa sedih tanpa sebab pasca kelahiran bayi. Inilah bentuk depresi pasca melahirkan yang bisa terjadi pada ayah.

Menuju Kesiapan Optimal Menjadi Ayah

Hal ini memberikan peringatan kepada pasangan suami istri, agar lebih mampu berkomunikasi secara baik, mampu mengelola peran secara lebih tepat, sehingga keluarga tetap berada dalam situasi harmonis dan bahagia, setelah kelahiran anak mereka. Bahkan semestinya, setelah kelahiran bayi, mereka menjadi semakin berbahagia, karena mendapatkan amanah berupa anak yang akan menjadi penyejuk jiwa mereka.

Di sisi lain, studi yang dilakukan MCRI di atas memberikan peringatan pula pentingnya penjagaan kesehatan mental (mental health) pada kaum laki-laki sejak dini. Karena apa yang terjadi pada seorang lelaki di masa dewasa, selalu dipengaruhi oleh apa yang terjadi pada saat masa remaja dan anak-anak. Untuk menjadi ayah yang baik, ternyata bukan peristiwa instan. Memerlukan persiapan yang matang, bahkan sejak dari masa muda.

Sebelum terlambat bahkan lebih terlambat, mari terus belajar. Ikuti program SEKOLAH AYAH YOGYAKARTA batch 1 tahun 2019. Insyaallah tidak ada yang terlambat, sepanjang kita mau membuka diri untuk belajar dan terus belajar.

 

Kereta Api Turangga, Bandung – Yogyakarta, 15 Agustus 2019

 

 

Bahan Bacaan :

Pre-existing Mental Health Conditions in Men Linked to Problems During Transition to Parenthood, dalam https://www.mcri.edu.au/news/pre-existing-mental-health-conditions-men-linked-problems-during-transition-parenthood, 6 Maret 2018.

Cahyadi Takariawan

Cahyadi Takariawan telah menulis lebih dari 50 judul buku yang sebagian besarnya bertema keluarga. Aktivitasnya saat ini selain menulis adalah menjadi narasumber dalam berbagai seminar dan pelatihan di dalam dan luar negeri. Mendirikan Jogja Family Center (JFC) pada tahun 2000 sebagai kontribusi untuk mengokohkan keluarga Indonesia. Kini JFC bermetamorfosis menjadi Wonderful Family Institute. Beliau dapat diakses melalui Instagram @cahyadi_takariawan

Tinggalkan Balasan