Kembali
Motivasi Menulis

Tuliskan Kejadian yang Menakutkan

.

Rumesha / Rutin Menulis Setiap Hari – 10 

Oleh : Cahyadi Takariawan

.

Bolehkah kita punya rasa takut? Tentu saja boleh. Itu adalah hal yang manusiawi. Rasa takut membuat kita hidup dengan berhati-hati. Rasa takut membuat kita bisa mengukur diri.

Misalnya, ketika sedang mengendarai mobil atau motor. Rasa takut kecelakaan, membuat kita berhati-hati dalam mengendarai. Tidak ngebut, tidak ngasal. Namun penuh perhitungan dan pertimbangan.

Jika tidak punya rasa takut, bisa membahayakan diri dan orang lain. Mengendarai motor atau mobil tanpa perhitungan, tanpa pertimbangan batas kecepatan. Ngebut dan ngawur adalah dua kondisi yang mungkin terjadi pada mereka yang tidak punya rasa takut dalam berkendara di jalan raya.

Kita semua pasti pernah memiliki pengalaman merasakan takut. Entah takut lewat kuburan, takut dengan kegelapan, takut dengan suara-suara tertentu, takut dengan bayangan, dan lain sebagainya.

Ada pula takut yang berjenis trauma tertentu. Misalnya takut kepada kucing, anjing, ular, atau apapun. Biasanya, selalu ada pemicu yang membuat seseorang takut atau trauma dengan binatang atau benda-benda.

Semakin besar rasa takut, semakin ngeri kejadian, akan semakin kuat kita ingat. Nah keluarkan semua peristiwa-peristiwa menakutkan tersebut. Bukan untuk menjadi kisah horor, namun untuk menjadi kenangan, bahwa sering kali ketakutan kita hanyalah ilusi belaka. Nyatanya hingga sekarang kita baik-baik saja.

******

Takut Film Horor

Suatu ketika saat masih SD, mungkin kelas 5 atau kelas 6, kakak saya menonton film televisi. Waktu itu baru ada channel TVRI, dan film hanya diputar malam Minggu saja. Saya ikut menonton, ternyata film horor yang sangat menakutkan.

Saya benar-benar ketakutan, tapi tetap menonton sampai akhir. Sampaknya, saya tidak bisa tidur semalaman karena rasa takut. Saya besok pagi, saya masih dicekam rasa takut.

Sejak saat itu, saya tidak suka menonton film horor, kecuali yang bersifat komedi. Kalau horor murni, saya hindari. Demikian pula, saya tidak suka membaca kisah horor murni. Kalau horor komedi, saya bisa menikmati.

—

Tulisan di atas berjumlah 99 kata. Nah, sederhana kan? Bercerita tentang pengalaman yang menakutkan. Bisa membuat Anda rutin menulis setiap hari, walau hanya 100 kata.

—-

Takut Ulat Alpukat

Saat saya masih ingat peristiwa sekitar kelas 3 SD. Tetangga belakang rumah orangtua saya, memiliki pohon alpukat yang sangat besar dan sudah tua.

Suatu ketika saya bermain-main di rumah tetangga tersebut. Seperti biasa, saya memanjat pohon alpukat. Saya merasa tidak ada yang aneh, sampai saya berada di sebuah dahan, dan duduk di situ.

Setelah beberapa saat duduk di dahan, saya sangat terkejut ketika menyaksikan semua bagian pohon itu penuh dengan ulat-ulat kecil, berbulu kemerah-merahan. Saya sangat takut.

Segera saya lompat ke bawah. Lebih takut lagi, setelah sampai bawah baru menyadari bahwa di sekita pohon alpukat itu penuh dengan ulat-ulat kecil berbulu kemerahan. Saya lari pulang dalam kondisi ketakutan.

Sejak peristiwa itu –sampai hari ini, saya tidak doyan makan buah alpukat. Setiap menikmati es teler selalu pesan, tanpa alpukat. Jika tetap kecampuran alpukat, mesti saya singkirkan.

—-

Tulisan di atas berjumlah 138 kata. Mudah kan? Bercerita itu mengalir saja. Hadirkan ingatan, lalu mulailah bercerita dalam bentuk tulisan.

—-

Trauma Bau Busuk Wortel

Masa kecil saya, tinggal di lereng gunung Lawu. Sisi barat, di kabupaten Karanganyar. Pakde dan om saya banyak bertani sayuran di daerah Tawangangu. Udara sejuk, lereng gunung, sangat cocok untuk bertanam sayuran, sampai sekarang.

Semasa saya kecil, sering bermain ke rumah pakde dan om. Ikut ke ladang di musim panen sayur. Semua petani panen pada waktu yang bersamaan, sehingga suasana menjadi sangat ramai.

Di dekat kebun sayru, mengalir sungai yang sangat bening. Saya biasa mandi dan bermain air di situ. Airnya sangat dingin, dan sangat jernih.

Namun setiap kali musim panen sayur, di pematang sepanjang aliran sungai, para petani menaruh wortel untuk dicuci. Bertumpuk-tumpuk sangat banyak. Di sepanjang mata memandang, semua tumpukan wortel di pinggir sungai.

Para petani mencuci dan memilih. Wortel yang bagus dibawa ke pasar untuk dijual, sebagian dibawa pulang untuk dimasak. Wortel yang jelek, ditinggal di sungai dan tepian sungai.

Beberapa hari kemudian, sisa-sisa wortel yang ditinggal petani itupun membusuk. Bau busuk wortel memenuhi sepanjang aliran sungai. Bahkan membuat keruh air sungai. Aroma busuk itu begitu tidak sedap, sampai saya merasa jijik.

Sejak saat itu –sampai sekarang, saya tidak suka makan wortel. Setiap ketemu sayur yang ada wortelnya, saya pisahkan dan saya berikan orang lain.

—-

Tulisan di atas berjumlah 202 kata. Ternyata tidak sulit. Dalam waktu singkat Anda bisa menulis beberapa kejadian sekaligus.

Ayo ingat-ingat pengalaman menakutkan yang pernah Anda alami. Lalu tuliskan. Maka Anda akan bisa mempertahankan rutinitas menulis setiap hari, walau hanya 100 kata. Walau hanya 15 menit. Namun rutin menulis setiap hari.

Ilustrasi : https://www.soco.id/

Ditulis oleh ruangkeluarga

Dipublikasikan di RUANG KELUARGA. Media edukasi keluarga, parenting, dan keharmonisan rumah tangga.