Ujian Cinta dalam Rumah Tangga

Ujian Cinta dalam Rumah Tangga

Ujian Cinta dalam Rumah Tangga

 

@ Ummu Rochimah

 

Pernikahan dalam Islam adalah satu sarana untuk beribadah kepada Allah, prosesi ijab kabul yang diawali dengan syahadat bisa bermakna mengikut sertakan Allah dalam mahligai rumah tangga tersebut. Hal inilah yang membedakan pernikahan Islam dengan selainnya. Tujuan utama pernikahan adalah mendapatkan ridho Allah. Landasan keimanan kepada Allah yang akan menghantarkan pasangan suami istri untuk membangun rumah tangga yang penuh cinta.

Pernikahan menjadi ibadah terlama yang harus dilalui seorang anak manusia sepanjang kehidupannya. Shaikh Abu Hamd arRabee’ mengatakan bahwa sebuah pernikahan ibarat bahtera yang sedang mengarungi lautan samudera.

Pernikahan adalah gerbang pembentukan sebuah keluarga. Keluarga adalah sebuah sistem ilahi, petunjuk nabi dan akhlak manusia. Sesuatu disebut sebagai sistem adalah karena adanya keterkaitan antar unit-unit yang ada di dalamnya. Maka, keluarga disebut sebagai sistem karena adanya keterkaitan antar anggota keluarga. Perilaku seseorang dalam keuarga akan mempengaruhi anggota keluarga yang lain, masing-masung tidak berdiri sendiri, saling terhububg dan kehidupannya berputar di antara hubungan-hubungan tersebut. Perubahan yang terjadi pada seseorang di dalam keluarga akan sangat mempengaruhi anggota keluarga yang lain.

Pernikahan adalah rizki dari Allah sekaligus juga menjadi awal sebuah ujian kehidupan manusia saat berpasangan dengan jodohnya. Dimulai dari kehidupan sesaat setelah ijab kabul diikrarkan, suami atau istri akan mulai diuji dengan pasangannya dan keluarga pasangan. Sikap dan kemampuan adaptasi terhadap perilaku dan ekbuasaan pasangan di tahun-tahun awal pernikahan akan menjadi titik tolak pasangan suami istri dalam menjalani kehidupan rumah tangganya. Tidak sedikit rumah tangga yang mengalami keguncangan di awal-awal tahun pernikahan karena disebabkan oleh kemampuan adaptasi suami atau istri yang kurang cakap. Masalah yang sejatinya kecil pun bisa membuat rumah tangga bagai dilanda prahara. Hidup dalam rumah tangga seolah menjadi sempit dan membakar hati. Begitu pun pada tahapan kehidupan rumah tangga selanjutnya. Tahap saat istri hamil, melahirkan dan menyusui yang tentunya hal itu akan membawa dampak perubahan yang sangat besar bagi pasangan suami istri, dan seterusnya hingga sampai pada tahap mengatasi kehilangan pasangan atau beradaptasi dengan penuaan.

Janji Allah dalam Al Quran surat Al Baqarah ayat 155, “Dan sungguh akan Aku berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembirabkepada orang-orang yang sabar.”

Maka, ujian dalam rumah tangga adalah sebuah keniscayaan. Adapun beberapa jenis ujian yang dapat melanda rumah tangga antara lain : adanya hubungan sosial yang terganggu seperti perceraian, perselingkungan, pemutusan hubungan kerja(phk); adanya gangguan emosi pada anggota keluarga seperti mudah stress, mudah marah, tidak mampu mengontrol emosi; terjadinya krisis perkembangan seperti remaja yang sedang mencari jati diri, krisis pada manusia tengah baya atau manula; adanya penyakit yang berat atau parah yang menimpa anggota keluarga; adanya kegagalan atau kehilangan anggota keluarga; adanya masalah perekonomian yang melanda keluarga.

Ujian yang melanda rumah tangga bukan sesuatu yang harus dihindari atau diabaikan. Ujian kehidupan adalah salah satu cara Allah untuk meningkatkan posisi atau kedudukan seorang hamba di sisi-Nya. Maka, hadapi dan selesaikan ujian-ujian tersebut hingga ia pantas berada pada posisi yang paling dekat dengan Allah.

Kaidah ujian dari Allah itu sebagaimana dalam firman-Nya dalam surat Al Baqarah ayat 286, “Allah tidak akan membebani(memberi ujian) seseorang melainkan sesuai dengan batas kemampuannya.”

Jangan keburu baper dan merasa tidak sanggup ketika Allah turunkan ujian dalam rumah tangga atau merasa Allah tidak adil terhadap dirinya.

Kunci dalam menghadapi ujian dalam rumah tangga hanyalah IKHLAS, yaitu :

1. Identifikasi masalah.

Seringkali pasangan suami istri saat dilanda suatu ujian atau masalah merasa ruwet seperti benang kusut, serba salah, bingung sehingga tidak mampu mendefinisikan akar permasalahan yang sebenarnya. Maka, identifikasi masalah harus dilakukan agar dapat fokus dalam menemukan solusi.

2. Kendalikan emosi

Reaksi spontan yang biasanya muncul saat pasangan suami istri dilanda ujian adalah luapan emosi yang tidak terkendali dan mendominasi. Keduanya justru saling menjauh dengan harapan tidak terjadi letupan emosi yang berakibat terjadinya tindakan yang lepas kontrol, seperti menyakiti pasangan. Pengendalian emosi ini bertujuan untuk melihat kenyataan secara lebih jernih, ini lho yang sedang terjadi dan harus kita hadapi. Sehingga dengan demikian keduanya dapat melihat adanya celah-celah solusi bagi masalah yang sedang dihadapi.

3. Hadirkan solusi

Ketika hati dan pikiran sudah jernih, emosi sudah terkendali, dan masalah sudah teridentifikasi maka rencana solusi berupa alternatif-alternatif solusi dapat dihadirkan lebih banyak untuk memudahkan suami istri keluar dari ujian rumah tangga.

4. Langkah mendekat

Salah satu kesalahan pasangan suami istri saat dilanda ujian pernikahan adalah justru saling menjauh. Mungkin tujuannya supaya tidak saling menyakiti pasangan, mendiamkan dan menyimpannya dengan harapan masalah itu akan hilang dengan sendirinya. Namun ternyata tindakan ini hanya akan menjadi bom waktu yang siap meledak di kemudian hari dengan efek yang lebih besar. Maka, langkah mendekat adalah satu-satunya sarana agar permasalahan dapat segera diselesaikan.

5. Ampuni dan maafkan

Manusia adalah tempatnya salah dan khilaf. Begitu juga dengan pasangan. Suami istri adalah manusia biasa yang tidak luput dari salah dan khilaf. Maka, sediakan ruang di hati untuk mengampuni dan memaafkan pasangan ketika pasangan berbuat salah. Dengan menyiapkan ruang ampunan dan permaafan dalam hati maka tidak ada kesempatan bagi hati untuk menyimpan dendam dan marah secara permanen.

6. Sepakati komitmen

Komitmen hidup berumah tangga dalam Islam adalah untuk saling mencintai dan menyayangi dalam kerangka ketaatan kepada Allah. Maka ketika suatu saat ada di antara pasangan suami istri yang melanggar komitmen tersebut, ajak untuk kembali melihat komitmen di awal pernikahan. Keduanya harus siap untuk melakukan perbaikan demi terjaganya komitmen pernikahan. Mereka harus bersedia pula membuat komitmen untuk melakukan perbaikan demi keutuhan rumah tangganya.

Ummu Rochimah

Tinggalkan Balasan