UNTUK APA DAN UNTUK SIAPA AMALMU?

UNTUK APA DAN UNTUK SIAPA AMALMU?

Kuliah Ramadhan Hari Keempat

Oleh : Cahyadi Takariawan

 

Manusia dinilai berdasarkan amal perbuatannya, maka amal menjadi sangat penting untuk menentukan posisi seseorang di hadapan Allah. Akan tetapi, amal masih bergantung kepada niatnya. Maka niat menjadi bagian penentu dalam amal ibadah, baik ibadah mahdhah maupun ibadah umum. Untuk apa suatu perbuatan kita lakukan? Untuk siapa suatu perbuatan kita lakukan? Namun juga, untuk apa suatu perbuatan kita tinggalkan? Untuk siapa suatu perbuatan kita tinggalkan? Itulah niat.

Sedemikian penting urusan niat, sampai Yahya bin Katsir memesankan, “Pelajarilah niat, karena niat itu lebih sampai daripada amal”. Demikian pula Sufyan Ats Tsauri, beliau berpesan, “Dahulu orang-orang mempelajari niat sebagaimana kalian mempelajari amal”.

Niat akan menjadi penentu, apakah sebuah amal perbiatan diterima Allah ataulah ditolak, sebagaimana hadits Nabi Saw dari ‘Umar bin Khattab Ra, ia berkata : Aku mendengar Rasulullah Saw bersabda,

“Sesungguhnya setiap amal bergantung pada niat, dan setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan. Siapa yang hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya untuk Allah dan Rasul-Nya. Siapa yang hijrahnya karena mencari dunia atau karena wanita yang dinikahinya, maka hijrahnya kepada yang ia tuju.” Hadits Riwayat Bukhari, no. 1 dan Muslim, no. 1907.

Hadits ini menunjukkan, bahwa niat memiliki nilai sangat penting karena akan menentukan diterimanya amal di sisi Allah. Abdurrahman bin Mahdi berkata, “Kalau seandainya aku menyusun kitab yang terdiri dari beberapa bab, tentu aku jadikan hadits Umar bin Khatthab yang menjelaskan bahwa amal tergantung niat ini ada dalam setiap bab”.

Abdullah bin Abi Jamrah berkata, “Aku ingin kalau seandainya di antara fuqaha (ahli fiqh) ada yang kesibukannya hanya mengajarkan kepada orang-orang niat mereka dalam mengerjakan suatu amal dan hanya duduk mengajarkan masalah niat saja”.

Niat adalah pembeda, sebagaimana dijelaskan oleh Ibnu Rajab dalam kitab Jami’ Al ‘Ulum Wa Al Hikam, “Niat menurut para ulama mengandung dua maksud, yaitu, pertama, sebagai pembeda antara satu ibadah dengan yang lain, seperti membedakan antara shalat zhuhur dengan shalat ashar, puasa Ramadan dengan puasa yang lain; atau pembeda antara ibadah dengan adat kebiasaan, seperti membedakan antara mandi junub (mandi wajib) dengan mandi untuk sekedar mendinginkan atau membersihkan badan atau yang semisalnya.

Kedua, untuk membedakan tujuan dalam beramal, apakah yang dituju adalah Allah semata atau untuk selain-Nya, atau untuk Allah tapi juga untuk selain-Nya. Niat semacam ini dibicarakan oleh para ulama dalam kitab-kitab mereka ketika membicarakan masalah ikhlas dan apa-apa yang berkaitan dengannya. Para ulama salaf juga banyak membicarakan masalah ini.”

Tentang sabda Nabi Saw, “Dan sesungguhnya tiap-tiap orang tidak lain (akan memperoleh balasan dari) apa yang diniatkannya;” Ibnu Rajab berkata, “Perkataan ini menerangkan bahwa seseorang tidak akan mendapatkan hasil dari amalannya melainkan apa yang telah diniatkannya; jika dia meniatkan untuk kebaikan niscaya akan memperoleh kebaikan, dan jika meniatkan untuk kejelekan niscaya akan memperoleh kejelekan pula”.

“Dan kalimat ini bukan semata-mata pengulangan dari kalimat pertama, (yakni innamal a’malu binniyat), karena kalimat pertama menunjukkan bahwa baik dan buruknya amalan tergantung pada niat yang melakukannya, sedangkan kalimat kedua menunjukkan bahwa pelakunya mendapat pahala amalan kalau niatnya baik dan akan mendapatkan siksa kalau niatnya jelek”.

“Niat bisa saja dalam hal yang mubah di mana amalannya pun mubah sehingga seseorang tidak memperoleh pahala maupun siksa. Jadi, amalan seseorang dianggap baik, buruk, atau mubah tergantung pada niatnya; apakah baik, jelek, atau mubah.” (Jami’ul ‘Ulum wal Hikam1/27-28).

Mari luruskan niat dalam setiap amal perbuatan, hendaknya diniatkan hanya untuk mencari keridhaan Allah semata-mata. Jangan kotori niat dengan orientasi selain Allah. Untuk apa suatu amal kita lakukan atau kita tinggalkan? Untuk mencari ridha Allah. Untuk siapa suatu amal kita lakukan atau kita tinggalkan? Untuk Allah.

Semoga ibadah Ramadhan kita mendapat ridha dari Allah. Jangan lupa, perbanyak pula sedekah, mumpung ketemu bulan penuh berkah.

Cahyadi Takariawan

Cahyadi Takariawan telah menulis lebih dari 50 judul buku yang sebagian besarnya bertema keluarga. Aktivitasnya saat ini selain menulis adalah menjadi narasumber dalam berbagai seminar dan pelatihan di dalam dan luar negeri. Mendirikan Jogja Family Center (JFC) pada tahun 2000 sebagai kontribusi untuk mengokohkan keluarga Indonesia. Kini JFC bermetamorfosis menjadi Wonderful Family Institute. Beliau dapat diakses melalui Instagram @cahyadi_takariawan

Tinggalkan Balasan