UNTUK APA KAMI LIQA?

UNTUK APA KAMI LIQA?

Oleh : Cahyadi Takariawan

 

 

 

Malam ini kami kembali liqa, duduk melingkar. Kami semua dha’if. Kami semua penuh kelemahan dan kekurangan. Maka kami berusaha untuk memperbaiki diri, semaksimal kemampuan yang bisa kami lakukan.

Liqa kami malam ini diawali dengan tilawah dan tahsin tilawah. Setelah itu dilanjutkan dengan tausiyah ringan dari salah seorang di antara kami, diselingi dengan obrolan ringan sekitar kehidupan sehari-hari.

Selanjutnya, kami menikmati kajian atau tatsqif tentang Khusyu’ dalam Shalat, yang disampaikan oleh Ustadz Ma’ruf Amary, Lc. Untuk menyiapkan materi ini, ustadz Ma’ruf Amary memerlukan waktu lebih dari satu bulan. Beliau menyusun sebuah makalah —yang insyaallah akan menjadi buku— tentang Khusyu’ dalam Shalat.

Malam ini adalah pertemuan kedua untuk membahas Khusyu’ dalam Shalat. Ustadz Ma’ruf menyampaikan kajian tentang pengertian khusyu’ menurut para ulama, dan bagaimana aplikasinya dari keteladanan shalat Nabi Saw. Belum selesai pembahasan, dan masih akan dilanjutkan dalam beberapa liqa berikutnya.

Usai penyampaian materi, kami asyik berdiskusi tentang berbagai persoalan dalam shalat, termasuk yang sering dijumpai dalam shalat berjama’ah di masjid. Misalnya, seorang ikhwah bercerita, dirinya merasa sering terganggu oleh Imam Masjid yang bacaan Qur’annya sering salah.

Ikhwah lainnya menceritakan, fenomena bercepat-cepat dalam shalat sampai makmum kesulitan mengikuti. Ikhwah lainnya bertanya, tentang kekaguman kepada bacaan sang Imam Masjid yang sangat indah, sehingga pikirannya melayang kepada sang Imam, bukan kepada isi bacaan sang Imam.

Begitulah kami berdiskusi dan mencoba mendapatkan jawaban atas berbagai fenomena dalam aktivitas shalat. Alhamdulillah, kami tercerahkan oleh penjelasan ustadz Ma’ruf Amary, yang merujuk kepada sangat banyak kitab asli. Kami menjadi mengerti makna khusyu’ dan aplikasinya.

Kami menyimpulkan, khusyu’ memang berat dan sulit. Namun, harus selalu diupayakan untuk bisa mendapatkannya dalam setiap shalat. Kami merasa, ada sangat banyak hal yang harus kami perbaiki dalam shalat, agar bisa lebih mendapatkan khusyu’.

Sudah malam, kami akhiri forum dengan doa kafarat majelis, dan saling berjabat tangan sebelum berpisah. Kami akan bertemu lagi dalam forum liqa pekan depan. Kami semua membutuhkan forum pembinaan diri seperti ini. Karena kedhaifan kami.

 

Yogyakarta, 21 Maret 2019

Cahyadi Takariawan

Cahyadi Takariawan telah menulis lebih dari 50 judul buku yang sebagian besarnya bertema keluarga. Aktivitasnya saat ini selain menulis adalah menjadi narasumber dalam berbagai seminar dan pelatihan di dalam dan luar negeri. Mendirikan Jogja Family Center (JFC) pada tahun 2000 sebagai kontribusi untuk mengokohkan keluarga Indonesia. Kini JFC bermetamorfosis menjadi Wonderful Family Institute. Beliau dapat diakses melalui Instagram @cahyadi_takariawan

Tinggalkan Balasan