@ummurochimah

“Orang yang berpuasa akan meraih dua kegembiraan, kegembiraan ketika berbuka puasa/berhari raya, dan kegembiraan ketika bertemu Tuhannya,” (HR Muslim)
Setiap syariat dan hukum-hukum Allah tak pernah lepas dari hikmah dan kebaikan untuk manusia. Allah yang Maha Bijaksana dalam penciptaan-Nya, Maha Adil dalam perintah-Nya, tidak pernah mensyariatkan hukum dengan sia-sia.
Dalam tulisan sebelumnya sudah disampaikan tiga hikmah dan kebaikan yang dapat memberikan kekuatan bagi yang menjalankannya. Kali ini kita akan membahas kekuatan lainnya, yaitu;
Keempat; Kekuatan Rasa Syukur dan Sabar
Tidaklah Islam berada di antara dua keadaan, syukur dan sabar. Bersyukur atas semua nikmat yang Allah berikan dan bersabar dalam ketaatan dan menjauhi larangan.
Seringkali manusia baru bisa bersyukur saat Allah mencabut nikmat dalam dirinya. Orang yang berpuasa akan merasakan betapa kenyang dan puas adalah anugerah nikmat yang Allah berikan. Dan saat ia berpuasa dan merasa lapar baru terasa kehilangan nikmat itu. Dampak yang muncul dari perasaan itu adalah rasa syukur bahwa ia tidak merasakan kelaparan sepanjang waktu, hanya saat-saat berpuasa saja.
Rasulullah sangat menekankan umatnya untuk bisa bersabar saat berpuasa, mengendalikan hawa nafsu dari melakukan hal-hal tidak baik yang bisa membatalkan ibadah puasanya. Tidak berlebihan jika Rasulullah menamakan bulan ramadan sebagai bulan sabar.
Kelima; Kekuatan Disiplin Waktu
Selama seseorang berpuasa ia akan terlatih untuk disiplin terhadap waktu. Ia akan bersahur saat sebelum subuh sebagai persiapan fisik dan mental untuk menjalani puasa di siang hari. Tidak bisa semaunya, karena waktu sahur terbatas oleh waktu, yaitu waktu fajar. Terlambat bangun sahur yang kemudian menyebabkan tidak sempat makan atau minum akan berakibat kepada kondisi tidak baik, secara fisik maupun mental. Lalu orang puasa harus berbuka saat matahari terbenam, tidak boleh kurang dari itu atau lebih malam lagi.
وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّىٰ يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ۖ ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْلِ
…”dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam” (QS. al Baqarah : 187)
Keenam; Kekuatan Fisik dan Jiwa
Sudah banyak bukti penelitian baik dari sisi medis maupun kejiwaan, bahwa berpuasa dapat menyehatkan badan dan menenangkan aspek kejiwaan seseorang.
Orang yang berpuasa akan memberikan kesempatan kepada organ-organ pencernaannya untuk mengalami rehat sejenak dari tugasnya mencerna dan mengolah makanan yang masuk ke dalam perutnya. Lambung akan berkurang bebannya dalam mengolah dan menghancurkan makanan. Kondisi ini akan memberi dampak positif bagi kesehatan badan.
Selain itu, dalam hal kesehatan jiwa, dikatakan bahwa tabiat manusia yang terdiri dari dua unsur, yaitu; unsur tanah yang selalu mendorong dirinya untuk melakukan sesuatu yang bernilai rendah. Dan unsur ruh ilahi yang ditiupkan Allah ke dalam jiwanya, yang mana unsur ini mengajak manusia untuk menuju Allah meraih derajat mulia.
Oleh karena itu, unsur mana yang lebih dominan pada manusia, maka akan membawanya kepada sifat-sifat yang mengikuti. Jika dominan unsur tanah, maka manusia itu akan menjadi seperti hewan, bahkan lebih rendah daripadanya. Sebaliknya, jika unsur ruh ilahi yang dominan, maka ia bisa mencapai derajat yang mulia.
Berpuasa akan memberi kekuatan dan mendorong manusia untuk cenderung pada unsur ruh ilahi. Bisa jadi inilah salah satu rahasia, mengapa tiap kali orang yang berpuasa merasa bahagia saat berbuka puasa, sebagaimana sabda Rasulullah dalam haditsnya;
لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ: فَرْحَةٌ عِنْدَ فِطْرِهِ، وَفَرْحَةٌ عِنْدَ لِقَاءِ رَبِّهِ
“Orang yang berpuasa akan meraih dua kegembiraan, kegembiraan ketika berbuka puasa/berhari raya, dan kegembiraan ketika bertemu Tuhannya,” (HR Muslim).
Wallahu’alam
(Bersambung)
Jakarta, 3 Ramadan 1445 H
Tulisan sebelumnya bisa disimak di