Fikih Penantian 3 : Usaha Aktif Mendapatkan Jodoh

Fikih Penantian 3 : Usaha Aktif Mendapatkan Jodoh

Oleh : Cahyadi Takariawan

 

 

 

Pada postingan sebelumnya, telah saya sampaikan Fikih Penantian – 1 dalam perspektif para lajang yang tengah menanti jodoh, juga sudah saya sampaikan Fikih Penantian – 2 dalam perspektif lingkungan sekitar. Pada postingan kali ini, akan saya lanjutkan Fikih Penantian – 3, untuk membahas pentingnya bersikap aktif dalam proses mendapatkan jodoh.

Sebagaimana telah dibahas dalam postingan sebelumnya, jodoh adalah ketetapan Allah yang Maha Agung. Sejak usia empat bulan dalam kandungan ibu, setiap janin telah ditetapkan rejeki, amal, ajal serta kebahagiaan dan kesengsaraannya. Jodoh adalah salah satu bagian dari rejeki yang telah Allah tetapkan “by name” kepada setiap manusia, namun Allah menyediakan pula sebab untuk didapatkannya jodoh tersebut. Tugas manusia adalah mengusahakan secara aktif dengan cara yang dibenarkan, tidak dengan cara yang menyimpang.

Berikut beberapa contoh usaha aktif yang bisa dilakukan oleh berbagai pihak, dalam upaya menjemput jodoh yang telah Allah tetapkan.

Pertama, Orangtua Aktif Mencarikan Jodoh bagi Anaknya

Di antara cara memilih jodoh adalah dipilihkan bahkan langsung dinikahkan oleh orangtua gadis dengan lelaki salih pilihan orang tuanya. Dalam hal ini, orangtua pihak perempuan yang aktif. Anak perempuan bersifat pasif. Kisah Abdullah bin Abu Wada’ah menjadi salah satu contoh dalam hal ini.

Abdullah adalah pembantu setia Imam Sa’id bin Musayab –semoga Allah merahmati mereka berdua.  Setelah isteri Abdullah wafat, Sa’id bertemu dengannya dan menanyakan, “Tidakkah engkau mencari isteri pengganti ?” Jawab Abdullah, “Semoga Allah merahmatimu. Siapakah orang yang mau menikahkan aku, sementara aku hanya memiliki bekal dua atau tiga dirham saja?” Kata Sa’id, “Aku yang akan menikahkanmu”.

Kemudian Imam Sa’id bin Musayab mengucapkan tahmid kepada Allah dan mengucapkan shalawat kepada Nabi, lalu menikahkan Abdullah dengan mahar dua dirham. Sesaat kemudian Abdullah melakukan shalat Maghrib lalu pulang ke rumah. Ketika itu ia sedang berpuasa dan tengah menyiapkan berbuka dengan roti dan buah zaitun. Saat ia tengah berbuka, seseorang mengetuk pintu rumahnya, ternyata adalah Sa’id bin Musayab.

“Apa yang dapat aku bantu ?” tanya Abdullah.

“Bukankah engkau seorang yang membujang kemudian menikah tetapi isterimu meninggal ? Aku merasa khawatir bila engkau sendirian pada malam ini, dan inilah isteri barumu”, jawab Imam Sa’id bin Musayab.

Di belakang Sa’id, telah berdiri seorang perempuan, lalu diminta untuk maju dan diserahkan kepada Abdullah. Dengan pandangan mata yang tajam dan teliti, Abdullah menatap perempuan itu. Segera ia naik ke ruang atas untuk memberikan isyarat undangan kepada tetangganya. Sesaat kemudian para tetangga berkumpul dengan penuh tanda tanya. “Saudara-saudaraku, hari ini aku telah dinikahkan oleh Sa’id bin Musayab dengan puterinya”, kata Abdullah menjelaskan.

Contoh kejadian yang dilakukan oleh Imam Sa’id bin Musayab ini menggambarkan sebuah proses pernikahan yang dilakukan oleh bapak pihak perempuan. Sejak dari proses pemilihan jodoh hingga pelaksanaan akad nikah dilaksanakan oleh bapaknya. Tampak di sini salah satu model bagaimana cara mendapatkan jodoh, yaitu dipilihkan oleh orang tuanya.

Apabila orangtua mencarikan calon suami bagi anak perempuannya, hendaklah tetap meminta persetujuan dari anaknya. Semua ini semata-mata dalam rangka menjaga kebaikan keluarga itu sendiri nantinya, agar tidak memunculkan berbagai ketidakbaikan akibat tidak dilibatkannya anak perempuan dalam penentuan calon suami.

Kedua, Orangtua Aktif ‘Menawarkan’ Anak Perempuan kepada Lelaki Salih

Ada contoh dari Umar bin Khathab yang aktif menawarkan anak perempuannya, Hafshah, setelah suami Hafshah syahid di medan Uhud, untuk dinikahi para sahabat-sahabat mulia. Suatu saat Umar bin Khathab menawarkan kepada Utsman bin Affan ra. “Ya Umar berilah aku waktu untuk berpikir”, demikian jawab Utsman.

Selang beberapa hari Utsman menyampaikan jawaban, “”Ya Umar, rasanya belum tiba saatnya bagiku untuk menikah”. Kemudian Umar menawarkan kepada Abu Bakar ra. Ternyata Abu Bakar hanya diam, dan ini membuat Umar merasa tersinggung.  Ia kemudian menghadap Rasul saw menyampaikan sikap Utsman dan Abu Bakar atas tawarannya.

Rasulullah saw bersabda, “Semoga Allah menjodohkan puterimu dengan orang yang lebih baik dari Utsman, dan Ustman diberi jodoh orang yang lebih baik dari puterimu”. Akhirnya Hafshah dinikahi oleh Rasul saw dan Utsman diambil menantu oleh Rasul saw dinikahkan dengan Ummu Kultsum puteri beliau (Riwayat Bukhari).

Untuk konteks zaman sekarang, boleh saja orang tua aktif mencarikan calon suami bagi anak perempuannya, akan tetapi dalam memutuskan tetaplah harus meminta persetujuan anak perempuan yang bersangkutan, agar tidak menimbulkan kekecewaan.

Ketiga, Aktif Meminta Bantuan kepada Pihak yang Dipercaya

Pada zaman Nabi Saw, salah satu cara mendapatkan jodoh adalah dengan meminta diproseskan nikahnya langsung oleh Nabi saw. Perhatikan dialog Nabi saw dengan ‘Ukaf yang masih bujang padahal ia punya kemampuan menikah. Tatkala Nabi saw menganjurkan ia untuk menikah, ‘Ukaf menjawab, “Wahai Rasulullah, aku tidak akan mau menikah sebelum engkau menikahkan aku dengan orang yang engkau sukai”. Maka Nabi Saw bersabda, “Kalau begitu, dengan nama Allah dan berkahNya, aku nikahkan engkau dengan Kultsum Al Khumairi” (riwayat Ibnu Atsir dan Ibnu Hajar).

Dalam kisah di atas, ‘Ukaf aktif meminta kepada Nabi Saw agar menikahkan dirinya dengan perempuan yang dipilih oleh Nabi Saw. Maka Nabi saw memilihkan dan menjodohkan ‘Ukaf dengan Kultsum Al Khumairi. Ini adalah contoh dimana proses mendapatkan jodoh bisa melalui perantara seorang pemimpin, tatkala memang urusan itu diserahkan kepada pemimpin tersebut. Lelaki atau perempuan lajang meminta bantuan kepada Nabi Saw untuk menjodohkan mereka dengan seorang yang Nabi Saw kehendaki.

Di zaman sekarang, hal seperti ini bisa difasilitasi oleh lembaga yang terpercaya, untuk membantu proses mencari dan menemukan jodoh, sesuai ajaran Islam. Sangat banyak lelaki dan perempuan lajang yang memerlukan bantuan, karena ingin membebaskan diri dari kecenderungan dan jebakan hawa nafsu. Caranya, lelaki atau perempuan lajang aktif meminta bantuan kepada pihak yang dipercaya, untuk mencarikan jodoh bagi mereka. Biasanya, pada lembaga yang menjadi fasilitator telah menyediakan seperangkat aturan dan sistem untuk proses membantu perjodohan tersebut.

Keempat, Lelaki Lajang Aktif Mencari Jodoh

Boleh bagi seorang laki-laki untuk aktif mencari jodoh salihah dengan cara-cara yang terhormat. Ini adalah cara yang paling ‘konvensional’ dan dikenal luas, bahwa seorang lelaki memilih dan meminang perempuan.

Abu Hurairah menceritakan bahwa Rasulullah Saw bersabda, “Apabila seseorang yang kalian ridhai agama dan akhlaknya datang kepada kalian untuk meminang perempuan kalian, maka hendaknya kalian menikahkan orang tersebut dengan perempuan kalian. Bila kalian tidak melakukannya niscaya akan terjadi fitnah di bumi dan kerusakan yang besar.” (HR. At-Tirmidzi no. 1084, dihasankan Al-Imam Al-Albani dalam Al-Irwa’ no. 1868, Ash-Shahihah no. 1022).

Abu Hatim Al-Muzani juga meriwayatkan hadits yang serupa, “Apabila datang kepada kalian seseorang yang kalian ridhai agama dan akhlaknya (untuk meminang perempuan kalian) maka hendaknya kalian menikahkannya dengan perempuan kalian. Bila tidak, akan terjadi fitnah di bumi dan kerusakan.” (HR. At-Tirmidzi no. 1085, hadits hasan)

Hadits di atas menunjukkan laki-laki salih datang untuk meminang perempuan salihah. Inilah cara yang paling dikenal luas dan dipraktekkan banyak kalangan, yaitu lelaki lajang melakukan tindakan aktif untuk mendapatkan istri yang sesuai kriteria.

Kelima, Perempuan Aktif Mencari Jodoh

Ada pula sahabiyat Nabi saw yang mencari sendiri calon suami, dengan menawarkan dirinya kepada laki-laki paling shalih, Nabi saw. Anas berkata, “Seorang perempuan datang kepada Rasulullah saw menawarkan dirinya seraya berkata: Wahai Rasulullah, apakah engkau berhasrat kepadaku?” Dalam satu riwayat yang lain disebutkan, perempuan itu berkata, “Wahai Rasulullah, aku datang hendak menyerahkan diriku kepadamu”.

Dalam konteks kehidupan kita saat ini, boleh saja seorang perempuan aktif mencari calon suami salih. Walaupun hal ini biasanya terkendala oleh kultur masyarakat, akan tetapi sesungguhnya bukan merupakan hal yang bersifat aib atau cela. Yang penting teknisnya dilakukan dengan jalan yang bijak dan sesuai dengan fitrah perempuan.

Pada dasarnya, perempuan boleh aktif mencari jodoh dengan cara-cara yang terhormat. Perempuan boleh menyampaikan maksud untuk menikah dengan lelaki yang dimaksud. Dari Tsabit Al-Bunani, ia menceritakan bahwa Anas bin Malik bercerita: Ada seorang perempuan menghadap Rasulullah Saw menawarkan dirinya untuk Nabi Saw. Dia mengatakan, “Ya Rasulullah, apakah kamu ingin menikahiku?”

Mendengar ini, putri Anas bin Malik langsung berkomentar, “Betapa dia tidak tahu malu. Sungguh memalukan, sungguh memalukan.” Anas membalas komentarnya, “Dia lebih baik dari pada kamu, dia ingin dinikahi Nabi Saw, dan menawarkan dirinya untuk Nabi Saw”. HR. Bukhari nomer 5120.

Demikian pula disebutkan dalam riwayat dari Sahl bin Sa’d. Ada seorang perempuan menghadap Nabi Saw dan menawarkan dirinya. “Ya Rasulullah, saya datang untuk menawarkan diri saya agar kamu nikahi.”

Setelah Nabi Saw memperhatikannya, beliau tidak ada keinginan untuk menikahinya. Hingga perempuan ini duduk menunggu. Kemudian datang seorang sahabat, “Ya Rasulullah, jika kamu tidak berkehendak untuk menikahinya, maka nikahkan aku dengannya.” HR. Bukhari nomer 5030.

Dalam kitab Fathul Bari disebutkan,  ada banyak perempuan yang minta dinikahi oleh Nabi Saw. Al-Hafidz Ibnu Hajar Al-Asqalani menyebutkan beberapa riwayat yang menceritakan perempuan lainnya yang menawarkan diri untuk Nabi Saw, diantaranya Khaulah binti Hakim, Ummu Syuraik, Fatimah bin Syuraih, Laila binti Hatim, Zaenab binti Khuzaemah, dan Maemunah binti Al-Harits.

Demikianlah beberapa ikhtiar aktif yang bisa dilakukan untuk mendapatkan jodoh. Maka, jangan pasif. Lakukan ikhtiar secara aktif, karena itulah ranah kemanusiaan yang bisa kita lakukan. Seluruhnya harus dilakukan dalam koridor ibadah kepada Allah, dengan cara yang tidak melanggar aturan Allah dan RasulNya. Dengan niat yang baik, disertai cara yang baik, insyaallah hasilnya pun akan baik. Kita bertawakal kepada Allah.

 

Bahan Bacaan:

Cahyadi Takariawan, Wonderful Marriage, Era Adicitra Intermedia, Solo, 2017

Istifadah ilmu dari fadhilatul Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal dalam https://rumaysho.com/

 

Cahyadi Takariawan

Cahyadi Takariawan telah menulis lebih dari 50 judul buku yang sebagian besarnya bertema keluarga. Aktivitasnya saat ini selain menulis adalah menjadi narasumber dalam berbagai seminar dan pelatihan di dalam dan luar negeri. Mendirikan Jogja Family Center (JFC) pada tahun 2000 sebagai kontribusi untuk mengokohkan keluarga Indonesia. Kini JFC bermetamorfosis menjadi Wonderful Family Institute. Beliau dapat diakses melalui Instagram @cahyadi_takariawan

Tinggalkan Balasan