Ketika Corona Menjadi Pihak Ketiga di Antara Kita

Ketika Corona Menjadi Pihak Ketiga di Antara Kita

Oleh : Cahyadi Takariawan

 

 

Fenomena yang menarik telah terjadi di China. Bukan saja karena negara itu menjadi tempat kemunculan wabah Corona pertama kalinya, namun usai menjalani karantina, banyak pasangan suami istri yang memutuskan untuk bercerai. Terjadi lonjakan kasus perceraian yang —diduga— karena muncul konflik tajam saat mereka terpaksa “terjebak” di rumah saja selama beberapa pekan.

Muncul pertanyaan, kebersamaan bersama keluarga atau family time adalah hal penting, namun mengapa justru menyebabkan pertengkaran, konflik yang berujung pada perceraian? Mestinya, kebersamaan dalam rumah selama kebijakan lockdown kota dan #WorkFromHome (WFH) #StayAtHome (SAH) membuat keharmonisan dan kebahagiaan bertambah. Mengapa justru membuat pasangan memilih berpisah?

Mari kita tinjau dalam lima aspek berikut.

Pertama, aspek kekutan fondasi berumah tangga

Bagi insan beriman, fondasi pernikahan dan berumah tangga adalah keimanan kepada Allah. Dasar yang kokoh untuk membangun rumah tangga adalah taqwa kepada Allah, sebagaimana firmanNya,


. { أَفَمَنْ أَسَّسَ بُنْيَانَهُ عَلَىٰ تَقْوَىٰ مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٍ خَيْرٌ أَمْ مَنْ أَسَّسَ بُنْيَانَهُ عَلَىٰ شَفَا جُرُفٍ هَارٍ فَانْهَارَ بِهِ فِي نَارِ جَهَنَّمَ }

“Maka apakah orang-orang yang mendirikan mesjidnya di atas dasar takwa kepada Allah dan keridhaan-(Nya) itu yang baik, ataukah orang-orang yang mendirikan bangunannya di tepi jurang yang runtuh, lalu bangunannya itu jatuh bersama-sama dengan dia ke dalam neraka Jahannam” (QS. At-Taubah : 109)

Ketika menafsirkan QS. At-Taubah ayat 109 di atas, Syaikh Muhammad Sulaiman Al Asyqar dalam kitab Zubdatut Tafsir Min Fathil Qadir menjelaskan:

“Barangsiapa yang menginginkan tingginya bangunan yang ia dirikan, maka hendaklah memperkuat fondasi dan struktur bangunannya. Karena inti dari kekuatan suatu bangunan ada pada fondasi dan baiknya perancangan struktur, sebagaimana halnya seseorang yang memiliki cita-cita yang tinggi harus memperbaiki asas untuk menggapai keinginannya. Sedangkan orang jahil yang mendirikan bangunan tanpa pondasi”, lanjut beliau, “Niscaya bangunan itu tidak akan tinggal lama dan akan segera runtuh”.

Prinsip umum tentang fondasi ini juga berlaku dalam membangun rumah tangga. Jika rumah tangga didirikan di atas fondasi taqwa, akan menjadi rumah tangga yang kuat dan tangguh. Rumah tangga yang diridhai Allah Ta’ala. Jika rumah tangga didirikan di atas fondasi hawa nafsu semata, akan akan menjadi rumah tangga yang lemah dan rapuh. Rumah tangga yang mudah hancur sejak pondasinya.

 

Kedua, tekanan masalah yang memunculkan krisis serta kedukaan

Sebenarnya, persoalan utama bukan karena suami dan istri “terjebak” pertemuan di dalam rumah mereka sendiri, karena hal itu adalah hal yang bahkan seharusnya terjadi. Namun lebih kepada suasana pertemuan yang tidak menyenangkan. Semua orang di China merasakan tekanan masalah, akibat wabah yang sangat ganas dan sangat cepat menyebar serta menimbulkan sangat banyak korban.

Berkumpul bersama keluarga dalam waktu lama, adalah berkah dan kebahagiaan, apabila didukung oleh suasana yang nyaman dan membahagiakan. Kenyataannya tidak demikian. Masyarakat China yang menjadi tempat perkembangan dan penyebaran Covid-19 dunia, mendapatkan tekanan masalah sangat berat. Mereka menyaksikan korban berjatuhan. Mereka dipaksa untuk berada di dalam rumah saja, sebagai kebijakan pemerintah setempat.

Jika mengacu kepada tahap kedukaan yang dikemukaan oleh Kubler-Ross (silakan simak kembali di sini), ketika manusia dihadapkan pada krisis, secara umumnya akan melewati lima tahap kedukaan, sebelum akhirnya bisa berdamai dan menerima kedukaan tersebut. Grief atau kedukaan, bisa memiliki banyak wajah dan bentuk. Wabah corona adalah salah satu contoh grief yang dihadapi oleh manusia saat ini. Pada kondisi wabah ini terjadi dengan sangat massif seperti di China, maka intensitas kedukaan atau krisis yang dihadirkan lebih tinggi dibandingkan dengan di tempat lain.

Dalam suasana ketertekanan, “dikurung” beberapa pekan di rumah tanpa bisa melakukan aktivitas yang leluasa, menyebabkan mudah muncul gesekan. Mudah muncul suasana emosional, yang tidak bisa tersalurkan dengan aktivitas lainnya. Maka akhirnya muncul menjadi pertengkaran, kekecewaan, kemarahan antara suami dan istri, yang membuat mereka memutuskan untuk bercerai usai menjalani karantina.

 

Ketiga, jebakan family technostress

Teknologi memberikan banyak dampak positif bagi manusia, namun teknologi juga menimbulkan banyak dampak negatif. Misalnya, efek pada emosi individu seperti perasaan keterasingan, rasa malu, kegelisahan dan tidak adanya ruang pribadi untuk melakukan segala sesuatu. Kondisi seperti inilah yang merupakan tanda dari adanya technostress. Meskipun hanya dirasakan ringan, namun jika dirasakan setiap hari, maka efek kumulatifnya dapat menimbulkan dampak negatif pada kesehatan fisik dan psikologis.

Secara teoritis, dikenal ada tujuh tipe technostress, yaitu learning technostress, boundary technostress, communication technostress, time technostress, workplace technostress, societal technostress dan family technostress (Weil & Rosen, 1997). Family technostress adalah stres yang dialami anggota keluarga karena berkurangnya kualitas interaksi dalam keluarga akibat kehadiran teknologi. Ketika teknologi memasuki sistem keluarga secara masif, membuat mereka menghabiskan ’waktu bersama’ secara terpisah, karena masing-masing lebih asyik bersama teknologi canggih dalam genggamannya.

Teknologi dalam rumah membentuk techno-cocoon, dimana suami, istri dan anak-anak “terbungkus” dalam kepompong teknologi, sibuk dan menghabiskan waktu dengan teknologinya, terisolasi dan tidak berkomunikasi secara langsung dengan pasangan maupun anggota keluarga lainnya. gadget memfasilitasi fenomena techno-cocoon ini karena gadget menyediakan banyak fitur yang mengasyikkan, sehingga lebih menarik untuk dijadikan teman menghabiskan waktu.

Kebiasaan menikmati techno-cocoon dalam waktu lama, bisa membuat pasangan suami istri kehilangan kemampuan untuk berinteraksi dan berkomunikasi secara langsung satu dengan yang lain. Dampaknya, tatkala terpaksa masuk #StayAtHome, di rumah saja bersama pasangan dalam waktu beberapa pekan, keduanya tidak mampu untuk kembali ‘normal’, menikmati kebersamaan dalam keluarga. Inilah salah satu dampak dari family technostress, yang sering kali tidak disadari oleh manusia.

 

Keempat, ketidakseimbangan antara togetherness dan separateness

Kebahagiaan dan keharmonisan hidup berumah tangga, salah satunya dibentuk oleh keseimbangan antara togetherness dan separateness antara suami dan istri. Kerr & Bowen (dalam Dayton, 1996), mengungkapkan bahwa relasi yang sehat antara suami dan istri harus dilakukan dengan menjaga keseimbangan antara separateness dan togetherness. Ketika suami atau istri merasakan togetherness yang terlalu lekat, dirinya akan cenderung menginginkan keterpisahan dan akan melakukan aktivitas yang dapat membuat separateness.

Pasangan suami istri akan merasa lebih bahagia dan nyaman, apabila ada waktu-waktu kebersamaan, namun juga ada waktu ketakbersamaan. Sebagai contoh, pagi hari suami dan istri bekerja ke tempat kerja masing-masing, ini adalah separateness. Malam hari, mereka bertemu dan berkegiatan bersama di rumah, ini adalah togetherness. Pada waktu-waktu tertentu suami atau istri mendapatkan tugas dari instansi, untuk melakukan kegiatan di luar kota selama beberapa hari, ini adalah separateness. Setelah itu mereka mendapatkan jatah libur selama beberapa hari di rumah, ini adalah togetherness.

Pola hidup seperti ini membuat lebih nyaman, dibandingkan dengan pasangan suami istri yang terus menerus setiap hari bersama-sama tidak pernah terpisah; atau pasangan suami istri yang terus menerus setiap hari berpisah tidak pernah bertemu. Jika terlalu banyak togetherness dan kurang separateness membuat suasana kebosanan dan intensitas konflik meningkat. Jika terlalu banyak separateness dan kurang togetherness membuat suasana kerinduan dan merasakan kekeringan perasaan. Keseimbangan separateness dan togetherness perlu selalu dijaga, agar memunculkan suasana yang harmonis dan bahagia.

Saat mengalami lockdown dan penduduk wajib tinggal di rumah masing-masing selama beberapa pekan, menyebabkan terlalu banyak togetherness dan kurang separateness. Dampaknya, intensitas konflik meningkat, merasakan ketidaknyamanan karena kurang kebebasan, dan sangat kuat kontrol dari pasangan. Apalagi dengan kondisi rumah yang sempit dan fasilitas terbatas.

 

Kelima, kegagalan menjaga homeostatis keluarga

Homeostatis keluarga adalah kecenderungan suatu keluarga untuk memelihara keadaan ekuilibrium dinamik, dan melakukan upaya-upaya untuk memulihkan ekuilibrium ini ketika terganggu. Keluarga akan cenderung membentuk pola tertentu dalam komunikasi dan tingkah laku guna menjaga keseimbangan dari semua kebutuhan anggota keluarga. Mekanisme homeostatis berupaya menjaga relasi dalam keluarga dengan mengaktifkan aturan yang telah disepakati dalam keluarga, maupun menciptakan kesepakatan dan komitmen baru.

Perubahan pola hidup, yang semula berkegiatan normal dengan aktivitas kerja dan aktivitas lainnya, mendadak berubah total dengan WFH dan SAH. Suami, istri dan anak-anak mendadak di rumah semua, dalam waktu cukup lama. Kondisi ini, apabila keluarga mampu bersegera menciptakan dan menrrapkan pola-pola baru dalam interaksi dan komunikasi, akan cepat menemukan titik homeostatis yang baru.

Pada dasarnya, perubahan pola hidup keluarga dapat mengubah homeostatis keluarga sampai pola interaksi baru berhasil dibentuk dan diterapkan. Dalam keluarga yang sehat, pola perilaku dan komunikasi harus selalu berubah sejalan dengan perkembangan kondisi anggota keluarga. Sementara dalam keluarga yang tidak sehat, perubahan bisa mengancam keseimbangan keluarga, sehingga keluarga membentuk resistensi terhadap perubahan. Beberapa anggota keluarga merasa terjebak dalam sistem keluarga dan tidak ada jalan keluar dari situasi keterjebakan tersebut.

 

Daftar Bacaan:

Dayton, B.I, Campbell, R., Kurokawa, Y., Separateness and Togetherness: Interdependence Over the Life Course in Japanese and American Marriages, August 1, 1996, https://doi.org/10.1177/0265407596133005

Gregory, C., Ph.D., The Five Stages of Grief, An Examination of the Kubler-Ross Model, dalam : https://www.psycom.net/depression.central.grief.html, April 2019

Takariawan, C., Wonderful Couple, Era Adicitra Intermedia, Solo, 2017

Weil, M. M., Rosen, L. D.: A Study of Technological Sophistication and Technophobia in University Students from 23 Countries, (1997), https://www.sciencedirect.com/science/article/pii/074756329400026E

 

 

 

 

Cahyadi Takariawan

Cahyadi Takariawan telah menulis lebih dari 50 judul buku yang sebagian besarnya bertema keluarga. Aktivitasnya saat ini selain menulis adalah menjadi narasumber dalam berbagai seminar dan pelatihan di dalam dan luar negeri. Mendirikan Jogja Family Center (JFC) pada tahun 2000 sebagai kontribusi untuk mengokohkan keluarga Indonesia. Kini JFC bermetamorfosis menjadi Wonderful Family Institute. Beliau dapat diakses melalui Instagram @cahyadi_takariawan

Tinggalkan Balasan