.
Oleh : Cahyadi Takariawan
“I had the feeling I was working as a slave for things that I did not wish for or need. I have the feeling that there are lot of people doing the same thing” –Bill Gates, 2016.
.
Mumpung masih Ramadan, mari mengevaluasi diri. Apa yang menjadi motif utama Anda untuk menulis? Apa yang mendorong Anda menuangkan kata-kata hingga menjadi naskah siap dipubliksikan? Apakah kekayaan, atau popularitas?
Mereka yang sudah mencapai puncak kekayaan dan puncak popularitas bersaksi bahwa itu bukanlah jawaban. Simak kembali pembahasan ini pada postingan sebelumnya. Kekayaan dan popularitas rupanya menjadi ilusi banyak penulis, namun sayangnya usaha untuk mencapai keduanya tidak sebanding dengan hasil akhir yang didapatkan.
Di luar sana, banyak orang yang di saat miskin terobsesi untuk bekerja keras mendapatkan sebanyak mungkin harta. Makin banyak harta yang ingin didapatkan, makin keras pula kerja yang harus dilakukan. Namun setelah didapat, sering kali membuat orang berpikir ulang –bahwa harus bekerja sekeras itu, hanya untuk mendapatkan sesuatu yang ternyata ‘bukan jawaban’.
Di Mana Letak Kebahagiaan Menulis?
“For a long time I believed that more wealth and luxury automatically meant more happiness. I come from a very poor family, where the rules were to work more to achieve more material things, and I applied this for many years” –Bill Gates.
Di mana letak kebahagiaan menulis yang Anda rasakan? Apakah pada proses menulis, atau pada saat lahirnya karya tulis, atau ketika karya tulis Anda menjadi juara lomba, atau ketika karya tulis Anda mampu menghasilkan banyak uang dan kekayaan?
Jika Anda mengira uang yang berlimpah mampu menghadirkan kebahagiaan, simaklah ungkapan orang kaya level dunia ini. Bill Gates (2016) menyatakan, “Money is counterproductive, it prevents happiness to come”. Menurut Bill Gates, uang itu kontraproduktif. “Ia mencegah kebahagiaan datang”, ujarnya.
“Untuk waktu yang lama saya percaya bahwa lebih banyak kekayaan dan kemewahan secara otomatis berarti lebih banyak kebahagiaan,” ujar Bill Gates. “Saya berasal dari keluarga yang sangat miskin, di mana aturannya adalah bekerja lebih banyak untuk mencapai lebih banyak hal materi, dan saya menerapkan ini selama bertahun-tahun”, lanjutnya.
“More and more I heard the words: ‘Stop what you are doing now-all this luxury and consumerism-and start your real life.’ I had the feeling I was working as a slave for things that I did not wish for or need. I have the feeling that there are lot of people doing the same thing” –Bill Gates, 2016.
“Semakin banyak saya mendengar kata-kata: ‘Hentikan apa yang Anda lakukan sekarang, semua kemewahan dan konsumerisme ini, dan mulailah hidup Anda yang sebenarnya.’ Saya merasa saya bekerja sebagai budak untuk hal-hal yang tidak saya inginkan atau butuhkan. Saya merasa ada banyak orang yang melakukan hal yang sama”, lanjut Gates.
Bahagia Karena Peduli dan Berbagi
“To me, happiness is doing something meaningful that helps people and that I believe in with people I love. I think lots of people confuse happiness with fun. I don’t believe it is possible to have fun every day. But I do believe it is possible to do something meaningful that helps people every day” –Mark Zuckeberg.
Sesungguhnya, puncak kebahagiaan justru bukan pada popularitas atau kekayaan itu sendiri. Kebahagiaan, seperti yang dirasakan Mark Zuckeberg, adalah dalam peduli dan berbagi kepada sesama. Bahagia itu dalam saling mengasihi dengan orang-orang tercinta –keluarga dan teman-teman.
“Bagi saya, kebahagiaan adalah melakukan sesuatu yang berarti yang membantu orang dan yang saya percaya dengan orang yang saya cintai”, ujar Mark Zuckeberg. “Saya rasa banyak orang yang salah mengartikan kebahagiaan dengan kesenangan. Saya tidak percaya bahwa seseorang bisa bersenang-senang setiap hari. Tapi saya percaya bahwa mungkin untuk melakukan sesuatu yang berarti yang membantu orang setiap hari”, lanjutnya.
Pada akhirnya, menghargai kebersamaan adalah kunci kebahagiaan yang penting. Membantu sesama, memberikan kebahagiaan bagi orang lain, berbagi dan peduli, adalah kebahagiaan yang tak ada bandingannya.
“As I’ve grown up, I’ve gained more appreciation for my close relationships — my wife, my partners at work, my close friends. Nobody builds something by themselves. Long term relationships are very important” –Mark Zuckeberg.
“Saat saya tumbuh dewasa,” ujar Zuckeberg, “saya mendapatkan lebih banyak penghargaan untuk hubungan dekat saya –istri saya, rekan kerja saya, teman dekat saya. Tidak ada yang membangun sesuatu sendiri. Hubungan jangka panjang sangat penting”, lanjutnya.
Menulis untuk Keberkahan
Menulislah untuk keberkahan. Untuk sesuatu yang akan membawa Anda menuju kebaikan dan kebahagiaan yang sesungguhnya. Rumusan Zuckeberg sangat menarik untuk direalisasikan dalam menulis. “Doing something meaningful that helps people”, itu rumus kebahagiaan Zuckeberg.
Maka, berpikirlah bahwa dengan tulisan, Anda bisa memberikan makna bagi orang lain, bisa membantu orang lain. Inilah kebahagiaan level tiga dalam kategori authentic happiness-nya Martin Seligman.
Kebahagiaan level 1, yang paling rendah, adalah pleasant life. Hidup yang menyenangkan. Mungkin, kekayaan dan popularitas, bisa memberi kesenangan. Namun tak akan mampu memberikan kebahagiaan yang hakiki.
Kebahagiaan level 2, adalah good life, sebuah kehidupan yang baik, kehidupan yang positif. Kehidupan yang selalu berada dalam kondisi yang positif, akan memberi kebahagiaan yang lebih nyata.
Kebahagiaan level 3, puncaknya, adalah ketika mampu memberikan makna bagi orang lain. Meaningful life, inilah kehidupan yang penuh makna, kehidupan yang tidak berpikir tentang diri sendiri. Kehidupan yang penuh arti.
Dalam menulis, jika tujuannya hanya untuk mengejar kesenangan sesaat, seperti kekayaan dan popularitas, maka hanya berada di level terendah dari kebahagiaan. Coraknya sangat sementara.
Jika tujuan menulis untuk mencapai kualitas kehidupan yang baik, maka akan mendapat kebahagiaan yang lebih nyata dan lama. Sedangkan jika menulis untuk menebar makna kepada sesama, menulis untuk memberikan kemanfaatan yang luas, inilah puncak kebahagiaan bagi seorang penulis, bahwa tulisannya memberi makna bagi semesta.
Inilah menulis untuk keberkahan. Menulis untuk kebermaknaan. Menulis untuk kebermanfaatan. Bukan sekedar mengejar obsesi ‘matahari’, yang setelah sampai di sana, kita baru menyadari bahwa ternyata itu ‘bukan jawaban’ yang kita cari.
Bahan Bacaan
Chompoo Chimes, Authentic Happiness by Martin Seligman, www.positivepsychology.com, 20 November 2019
Leonard Kim, I Think Everyone Should Get Rich And Famous : What Did Jim Carrey Actually Mean? https://medium.com, 3 Juli 2015
Maria Goncalves, Justin Bieber Is Suffering From ‘A Missing Feeling Of Happiness,’ Per ‘People’, www.inquisitr.com 5 November 2018
Rahul Varshneya, Is Mark Zuckerberg Happy? https://www.inc.com, 14 Juni 2016