Wa Huzzi Ilaiki ( وَهُزِّىٓ إِلَيْكِ )

Wa Huzzi Ilaiki ( وَهُزِّىٓ إِلَيْكِ )

Oleh : Cahyadi Takariawan

 

Menjelang melahirkan Isa as, Maryam memutuskan untuk menjauh dari keramaian manusia ke sebuah tempat yang sunyi. Orang-orang telah berbuat jahat kepada Maryam. Mereka menuduh Maryam melakukan tindakan tercela sehingga hamil. Ini membuat Maryam tidak tenang. Ia ingin menjauh dari keramaian manusia.

Allah berfirman,

فَحَمَلَتْهُ فَانْتَبَذَتْ بِهِ مَكَانًا قَصِيًّا

“Maka Maryam mengandungnya, lalu ia menyisihkan diri dengan kandungannya itu ke tempat yang jauh.” (QS. Maryam : 22).

Syaikh As-Sa’di menjelaskan, 

فلما قرب ولادها، ألجأها المخاض إلى جذع نخلة، فلما آلمها وجع الولادة

“Tatkala waktu melahirkan sudah dekat, rasa sakit menjelang melahirkan membuat Maryam menuju ke bawah pohon kurma dan merasakan nyeri melahirkan.”

Al-Akhdzu Bil Asbab

Tak ada dokter, tak ada bidan, tak ada teman, tak ada keluarga yang membersamainya di tempat jauh itu. Sendirian, tak ada bekal makanan. Situasa badan telah lemah menjelang melahirkan. Namun Allah memerintahkan kepada Maryam, agar menggoyangkan pangkal pohon kurma tersebut, agar bisa menjatuhkan buahnya. Allah berfirman, 

وَهُزِّي إِلَيْكِ بِجِذْعِ النَّخْلَةِ تُسَاقِطْ عَلَيْكِ رُطَبًا جَنِيًّا.

“Wa huzzi ilaiki. Dan goyangkanlah pangkal pohon kurma itu ke arahmu, niscaya pohon itu akan menggugurkan buah kurma yang masak kepadamu” (QS. Maryam : 26).

Yang bisa dilakukan oleh Maryam, tentu sangat lemah. Dalam situasi sakit menjelang melahirkan, tak ada teman yang membersamai dan membantu persalinanya, ia tetap harus melakukan usaha yang membuat kurma terjatuh dari pohonnya. Allah tidak ingin memberikan kurma segar langsung di hadapan Maryam, namun harus disertai usaha kemanusiaan —al akhdzu bil asbab— untuk membuat buah kurma terjatuh dari pohonnya.

Di sisi lain, Maryam tak ingin pasrah total, tanpa melakukan sesuatu apapun. Ia harus melakukan usaha kemanusiaan, agar bisa menjadi “alasan” bagi Allah untuk menolongnya. Bahwa ia memang benar-benar layak ditolong oleh Allah. Maka ia pun menggoyangkan pohon kurma itu. Wa huzzi ilaiki. Padahal, andai lima orang lelaki dewasa dan sehat menggoyang pohon kurma, belum tentu bisa menjatuhkan buahnya.

Lalu sekuat apa Maryam mampu menggoyang pohon kurma? Kalimat perintah dari Allah, wa huzzi ilaiki (dan goyangkanlah ke arahmu), dalam kamus Al-Ma’ani disebutkan makna kata huzzi (وَهُزِّي) adalah: 

هَزَّ أَغْصَانَ الشَّجَرَةِ : حَرَّكَهَا بِشَيْءٍ مِنَ الْقُوَّةِ

“Menggerakkan dahan pohon, menggerakkan dengan sedikit kekuatan”. 

Dalam tafsir Al-Wasith karya Ath-Thanthawi dijelaskan bahwa gerakan huzzi adalah ke arah kanan dan kiri,

أى : وحركى نحوك أو جهة اليمين أو الشمال جذع النخلة

“Yaitu menggerakkan ke arah dia (menarik) atau ke arah kanan dan kiri dari pohon kurma.”

Sedangkan Al-Baghawi dalam kitab tafsirnya menjelaskan, gerakan huzzi itu menarik pohon kurma ke depan dengan tangan, 

حركي ( بجذع النخلة ) تقول العرب : هزه وهز به ، كما يقول : حز رأسه وحز برأسه

Menggerakan pohon kurma sebagaimana perkataan orang Arab, yaitu menarik kepala (dengan tangan)”

Syaikh Abdul Aziz Bin Baz dalam Majmu’ Fatawa menyatakan, 

وهذا أمرٌ لها بالأسباب، وقد هزت النخلة وتعاطت الأسباب، حتى وقع الرطب فليس في سيرتها ترك الأسباب

 “Ini adalah perkara yang memiliki sebab. Maryam menggoyangkan kurma dan menempuh terjadinya sebab sehingga kurma jatuh. Tidaklah ia meninggalkan sebab.”

Sekuat Apa Pohon Kurma?

Pohon kurma tumbuh di gurun pasir yang kering dan gersang, bahkan merupakan satu-satunya tanaman yang mampu bertahan hidup dalam kondisi ekstrim seperti itu, dan tidak tumbang meskipun terjadi badai pasir yang dahsyat sekalipun. Pohon kurma sangat kuat dan kokoh, karena akar pohon kurma tertanam ke dalam tanah hingga puluhan meter, sampai berhasil mencapai sumber air bawah tanah. Maka pohon kurma yang tumbuh di tengah gurun pasir memberikan pertanda bahwa di bawah permukaannya terdapat sumber air.

Biji kurma ditanam ke dalam tanah, 2 sampai 3 meter, kemudian ditimbun dengan bebatuan. Adanya bebatuan tersebut menghambat pertumbuhan biji korma ke atas, maka memaksa terjadinya pertumbuhan akar ke dalam tanah secara maksimal. Setelah akarnya kuat, mencapai sumber mata air di bawah tanah, barulah biji kurma bertumbuh ke atas, dan menggulingkan dan memecahkan batu yang semula menekan di atasnya. Dahsyat, ia menjadi pohon yang sangat kuat, justru setelah ditekan dan disumbat pertumbuhannya.

Jadi, pohon kurma sangatlah kokoh, tak roboh oleh badai gurun pasir, karena akarnya menghujam sangat dalam. Bagaimana dengan kekuatan Maryam? Tentu sangat tidak sebanding dengan kokoh perkasanya pohon kurma. Namun, ketika Allah melihat kesungguhan Maryam dalam melakukan usaha, Allahpun berkenan memberikan pertolongan kepadanya.

Mendapatkan Pertolongan Allah

Dengan lantaran ‘sebab’ usaha menggoyangkan pohon kurma, maka jatuhlah buah kurma segar, enak serta memberikan kekuatan kepada Maryam. Inilah pertolongan Allah kepada Maryam, yang hadir membersamai ‘sebab’ yang dilakukan Maryam. Syaikh Abdurrahman As-Sa’di dalam tafsirnya menjelaskan bahwa buah yang jatuh adalah kurma yang bermanfaat, 

أي: طريا لذيذا نافعا

“Yaitu kurma yang segar, enak dan bermanfaat.”

Bahkan para ulama menjelaskan, kurma adalah makanan yang tepat untuk wanita yang nifas setelah melahirkan. Imam Al-Baghawi dalam kitab tafsirnya menukil perkataan Ar-Rabi’ bin Khutsaim, 

ما للنفساء عندي خير من الرطب ، ولا للمريض خير من العسل

“Makanan terbaik bagi wanita nifas adalah kurma dan makanan terbaik bagi orang sakit adalah madu.” 

Pelajaran Penting di Masa Wabah Corona

Perintah wa huzzi ilaiki adalah untuk melakukan al-akhdzu bil asbab, yaitu melakukan sebab-sebab atau usaha kemanusiaan yang mungkin dilakukan. Selemah apapun, sekecil apapun, namun manusia wajib berusaha. Tidak boleh bersikap pasrah total kepada Allah tanpa melakukan usaha apa-apa. Tidak boleh bersikap menyerah dalam mencapai suatu keinginan baik, dengan hanya berharap pertolongan Allah.

Rezeki itu dari Allah, namun untuk mendapatkan rezeki, manusia wajib berusaha dengan cara yang benar. Hidayah itu hak prerogatif Allah, dimana tidak ada satupun manusia yang bisa memberikan hidayah kepada orang lain, namun manusia wajib mengajak manusia lain untuk mendapatkan hidayah Allah. Kematian mutlak ada di tangan Allah, namun manusia wajib melakukan usaha untuk menjaga kehidupan.

Dalam masa wabah corona, manusia wajib melakukan usaha untuk mencegah penyebaran wabah dengan berbagai macam cara yang dibenarkan agama. Tidak boleh menentang sunnatullah, dengan menyatakan bahwa “kita tidak takut corona, karena kita hanya takut kepada Allah saja”. Umar bin Khathab jelas sangat takut kepada Allah, namun beliau memutuskan untuk me-lockdown kota Syam. Amru bin ‘Ash jelas sangat takut kepada Allah, tapi beliau mengambil kebijakan social distancing. Bahkan Nabi saw memerintahkan kepada para sahabat agar lari dari penderita lepra seperti lari dari singa.

Lakukan usaha sekuat tenaga, untuk al-akhdzu bil asbab. Jikapun dalam situasi kita yang sangat lemah, sangat terbatas kemampuan, sangat berat keadaan, tetap wajib melakukan usaha. Wa huzzi ilaiki, meskipun usaha kita setara dengan kekuatan Maryam menjelang melahirkan. Wajib melakukan usaha terbaik.

Mari kita lawan corona bersama-sama.

 

 

 

Bahan Bacaan

Raehanul Bahrain, Tafsir Ayat Proses Persalinan Maryam binti Imran, dalam : www.muslim.or.id, 5 Oktober 2019 

Tafsir Surat Maryam, dalam : www.tafsirweb.com

 

Cahyadi Takariawan

Cahyadi Takariawan telah menulis lebih dari 50 judul buku yang sebagian besarnya bertema keluarga. Aktivitasnya saat ini selain menulis adalah menjadi narasumber dalam berbagai seminar dan pelatihan di dalam dan luar negeri. Mendirikan Jogja Family Center (JFC) pada tahun 2000 sebagai kontribusi untuk mengokohkan keluarga Indonesia. Kini JFC bermetamorfosis menjadi Wonderful Family Institute. Beliau dapat diakses melalui Instagram @cahyadi_takariawan

Tinggalkan Balasan